Tampilkan postingan dengan label bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahagia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Puteri Salju, wanita tercantik


"Berpasangan engkau dalam mengurai kebersamaan. Karena tidak ada yang benar-benar hidup sendirian. Bahkan keindahan syurga tidak mampu menghapus kesepian Adam." - Khalil Gibran

Tersebutlah kisah tentang sebuah negeri  yang damai dengan pemandangan alam yang indah, rakyat yang sejahtera, dan dipimpin oleh seorang raja yang adil bijaksana. Sang raja memiliki seorang ratu yang cantik yang gemar merajut dan membordir.
Suatu hari di musim dingin yang bersalju, ratu membordir sehelai kain, dengan rangka kayu ebony yang ia gunakan untuk merapikan kain. Tiba-tiba jarum melukai tangannya. Ratu pun berkata pada dirinya sendiri sambil menerawang ke luar jendela memperhatikan salju yang jatuh melayang ke tanah : “  Seandainya aku memiliki seorang puteri cantik yang berkulit seputih salju, bibir semerah darah dan rambut sehitam kayu ebony…”.
Beberapa bulan kemudian ratu melahirkan bayi perempuan mungil nan cantik, kulit seputih salju, bibir semerah darah, rambut sehitam kayu ebony, seperti yang diharapkannya. Tapi malang, sang ratu meninggal dunia beberapa saat setelah melahirkan.

Bayi mungil itu diberi nama Puteri Salju. Raja berpikir, puterinya harus memiliki seorang ibu yang akan merawat dan mendidiknya.  Ia harus menikah lagi.

Raja pun mencoba menjalin hubungan dengan beberapa perempuan cantik. Salah satu perempuan sangat cantik mampu memikat hati Raja. Kemudian Raja menikahi perempuan itu dan menjadikan Sang Ratu yang baru.

Tapi, sang ratu ternyata memiliki kepribadian yang angkuh dan tidak mau terkalahkan kecantikannya oleh siapapun. Ia selalu membawa sebuah cermin ajaib kemanapun ia pergi. Setiap hari ia selalu bertanya pada cermin ajaibnya : " Siapakah yang wanita paling cantik di dunia ini ? ". Cermin itu selalu menjawab pertanyaan ratu dengan jawaban yang sama : " Anda yang paling cantik.".  Ratu sangat terobsesi Jdengan kecantikannya, ia selalu ingin menjadi yang paling cantik di seluruh jagat raya.

" Keindahan adalah menatap keabadian diri sendiri di dalam cermin." - Khalil Gibran

Belasan tahun telah berlalu, Puteri Salju telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik luar biasa.

Suatu hari di musim semi, Ratu bertanya pada cermin ajaibnya : " Wahai cermin, siapakah wanita paling cantik di bumi ini?". Kali ini sang cermin menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang berbeda dengan sebelumnya : " Puteri Salju.".

Mendengar jawaban cermin ajaib kali ini ia sangat marah dan sangat benci pada Puteri Salju. Ia memikirkan hal jahat. Ia ingin membunuh Sang Puteri, agar kecantikannya tak ada yang menandinginya lagi.

Ratu menyuruh para pemburu bayaran untuk membunuh Puteri Salju. " Bawalah Puteri Salju ke hutan. Bunuhlah. Bawa hatinya sebagai bukti."

Sampailah di sebuah hutan. tapi pimpinan pemburu tak tega membunuh sang puteri. Ia menyuruh Puteri Salju untuk melarikan diri ke hutan.Ia telah berjanji pada Ratu untuk membawa hati Puteri Salju sebagai bukti, maka ia pun memburu dan membunuh seekor babi hutan dan mempersembahkan hati binatang tersebut pada Ratu cantik tapi berhati iblis.

Puteri Salju berjalan di hutan tanpa tujuan. Sampailah ia di depan sebuah rumah mungil. Ia masuk ke rumah tersebut dan tertidur karena kecapaian.


“Jauhkan aku dari manusia yang tidak mau menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain”  - Khalil Gibran

Malam hari, para kurcaci pulang dari bekerja menggali emas. Mereka terkejut mendapati ada seorang gadis cantik jelita tengah tidur di rumah mereka. Tujuh kurcaci itu sangat penasaran siapakah gadis itu, tapi mereka tak tega untuk membangunkan gadis yang sedang lelap. Mereka menunggu dengan sabar. Keesokan harinya, Puteri Salju bangun. Para kurcaci mengelilinginya dan memberondong berbagai pertanyaan. Siapakah namamu? Darimana asalmu? Kenapa ada gadis cantik di hutan? dan banyak lagi pertanyaan para kurcaci.

Puteri Salju pun bercerita tentang dirinya, tentang ayahnya, tentang ibu tirinya yang hendak membunuhnya dan tentang negerinya yang damai dan indah.

Berbulan-bulan puteri Salju tinggal di rumah para kurcaci. Ia bahagia walau hidup dalam kesederhanaan. Ia tabah meski harus tinggal di sebuah rumah kecil di tengah hutan, dengan fasilitas terbatas, sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya di istana. Ia tabah menerima takdirnya.

Ratu merasa sangat yakin kalau dirinya adalah wanita tercantik di jagat raya. Suatu hari ia bertanya lagi kepada cermin ajaibnya. " Wahai cermin ajaibku, siapakah wanita tercantik di dunia? ". Cermin itu pun menjawab : " Puteri Salju yang tercantik.". Ratu sangat berang. Pemburu bayaran itu telah menipunya, berani sekali mereka.

Ratu berusaha untuk mengetahui keberadaan Puteri Salju. Akhirnya ia mengetahui kalau Puteri Salju memang masih hidup, sehat, segar bugar dan semakin jelita. Ia pun melakukan berbagai cara untuk bisa membunuh Sang Puteri.

Ratu pergi ke hutan dengan menyamar sebagai nenek-nenek penjual pita. " Pita...pita...siapa mau beli? Pita cantik...siapa mau beli?". Puteri Salju tertarik untuk melihat pita dan ingin membelinya. Ia pun mencoba sebuah pita....tiba-tiba saja nenek penjual pita itu menjerat Puteri dengan pita. Puteri Salju pun pingsan. Para kurcaci pun datang dari tempat bekerja. Nenek penjual pita itu pergi terburu-buru.

Para kurcaci sangat terkejut dan khawatir melihat Puteri Salju yang pingsan. Mereka berusaha membangunkannya dengan berbagai cara. Akhirnya Puteri Salju siuman. Para kurcaci sangat gembira. Setelah Puteri Salju selesai makan dan minum, para kurcaci memintanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

Berceritalah Puteri Salju apa yang telah terjadi di siang hari.

Keesokan harinya para kurcaci berangkat bekerja. sebelum pergi mereka menasehati Puteri supaya jangan percaya pada siapapun, jangan buka pintu untuk siapapun.

" Apel..apel...siapa yang mau beli apel ? "

Puteri mendengar suara wanita tua menawarkan apel. Ia mengintip dari balik tirai jendela. Apel merah ranum nan segar......oh nikmatnya.....Puteri gak tahan ingin segera mencicipi buah apel itu. Ia lupa nasihat para kurcaci. Ia pun membeli satu buah apel itu. Namun setelah beberapa gigitan Puteri terkulai lemas.

Para kurcaci terkejut mendapati Puteri yang sudah tidak bernafas. Mereka sangat sedih dan menangis.

Para kurcaci tak ingin menguburkan mayat Puteri Salju. Mereka tak ingin tubuh yang cantik itu hancur dimakan cacing tanah. Maka mereka membuat keranda dari kaca dan menempatkan Sang Puteri didalamnya, agar mereka bisa melihat Puteri Salju setiap hari. Mereka meletakkan keranda kaca itu di halaman rumah.

Suatu hari seorang Pangeran muda tampan lewat depan rumah kurcaci. Pemuda itu terpesona dengan kecantikan gadis didalam keranda. Ia pun memohon pada para Kurcaci supaya diijinkan untuk membawa keranda Puteri Salju ke istana. Tentu saja kurcaci-kurcaci itu keberatan, Tapi melihat ketulusan hati Sang Pangeran yang telah jatuh cinta, akhirnya mereka mengijinkan Pangeran untuk membawa Puteri Salju ke istana.

"Pandangan pertama kekasih adalah roh yang bergerak di permukaan air, mengalir menuju syurga dan bumi" - Khalil Gibran

Di istana, Pangeran menempatkan Puteri Salju di sebuah kamar, dekat dengan kamarnya. Setiap hari Pangeran muda itu menatap wajah cantik Puteri. Ia berdo'a semoga Tuhan memberikan kehidupan kembali pada Sang Puteri.

Suatu hari Pangeran mencium kening Puteri Salju. Sungguh ajaib, Puteri perlahan membuka mata. Pangeran sangat bahagia. Puteri Salju hidup kembali.

Akhirnya Puteri Salju hidup bahagia bersama Pangeran. Puteri tercantik itu telah menemukan jodohnya, seorang pangeran muda yang tampan dan baik budi.





Kamis, 17 Maret 2016

Adaline, forever young eternal beauty


 " Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh degan kebajikan."  -Khalil Gibran




Adaline lahir pada 1 Januari tahun 1908 di San Fransisco. Sejak bayi hingga usia 29 tahun ia mengalami kehidupan yang normal seperti wanita pada umumnya. Ia menikah dengan seorang sarjana teknik dan memiliki seorang puteri bernama Flemming. Namun sejak usia 29 tahun tubuhnya mengalami kelainan, ia tidak bisa menua.

Suatu malam yang gelap dan hujan di tahun 1937 Adaline mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya jatuh ke dalam sungai. Ia tenggelam kedalam sungai. Ia kehabisan nafas dan denyut jantungnya berhenti, Adaline mengalami hipoksia. Pada saat itu petir menyambar tubuhnya yang sekarat. Sungguh ajaib, petir bertenaga listrik ribuan volt membuatnya hidup kembali. Tapi sel-sel dalam tubuhnya mengalami kekacauan sehingga tidak bisa menua.


Tampaknya ini merupakan suatu berkah bisa hidup sehat, cantik dan muda selamanya. Namun banyak kesulitan hidup yang timbul karena tubuh mudanya ini. Suatu malam polisi menilangnya, di SIM tertera Adaline telah berusia 45 tahun, tapi penampilannya berusia 29 tahunan, sehingga polisi itupun mencurigainya sebagai mata-mata yang menggunakan identitas samaran. Beberapa hari kemudian agen FBI membuntutinya dan menangkapnya, tapi beruntung dia berhasil meloloskan diri ketika mobil agen tsb. Berhenti sebentar. Sejak itu ia harus berpindah-pindah kota, berganti-ganti nama dan berganti-ganti  identitas setiap sepuluh tahun agar rahasia keanehan dirinya tidak terbongkar oleh orang lain.


Selama delapan dekade banyak pria yang singgah dalam hidup Adaline. Tapi Adaline selalu berusaha untuk tidak jatuh cinta,  karena ia harus pergi meninggalkan kekasihnya agar tidak terbongkar rahasianya. Ia harus selalu menjaga jarak dengan orang lain. Ia pun harus menyaksikan orang-orang yang disayanginya meninggal dunia, dan ratusan anjing peliharaannya mati. Lebih dari seratus tahun ia hidup,  dari masa ke masa dalam kesendirian dan kesepian.


" Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya     dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya,          untuk berbuat jahat atas namanya."  - Khalil Gibran

Adaline mengisi kesepian hidupnya dengan banyak belajar berbagai ilmu pengetahuan, mempelajari berbagai bahasa asing, meneliti fenomena yang terjadi pada dirinya, bahkan ia mempelajari huruf Braille agar bisa berkomunikasi dengan sahabat wanitanya yang buta.

Sahabat wanitanya tentu saja tidak bisa melihat fisik Adaline yang tetap muda, Ia selalu terheran-heran kenapa setiap Adaline disampingnya banyak lelaki muda menghampirinya, padahal mereka sudah berusia nenek-nenek, pikirnya. Salah satu anak muda itu adalah Ellis Jones.
. 
Pada 2014, di sebuah pesta, dimana sahabat wanita Adaline yang buta itu bermain piano, ia bertemu dengan Ellis Jones. Pria muda itu, yang beberapa waktu sebelumnya telah membuntuti Adaline, menghampiri meja Adaline dan sahabatnya, mereka pun berkenalan. Adaline saat itu telah berusia 106 tahun dan berganti identitas sebagai Jennifer Larson, Adaline/Jenny (panggilannya saat itu) sudah berusaha untuk tidak jatuh cinta pada pria itu, tapi karena kegigihan pria tampan berusia tigapuluhan itu hati Adaline akhirnya luluh juga. Ellis Jones sangat menyukai sejarah, sehingga pemikirannya seimbang dan memiliki pengetahuan yang 'setua' Adaline (selama hampir seratus tahun Adaline banyak mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk mengisi kesepian hidupnya).




Perjalanan cinta mereka cukup mulus. Suatu hari Ellis mengajak Adaline/Jenny ke kediaman orang tuanya, untuk diperkenalkan kepada keluarganya. Sungguh tak disangka oleh Adaline, ayah Ellis, William Jones, ternyata kekasihnya di masa lalu.  


Adaline, yang mengaku bernama Jennifer Larson tidak bisa terus berbohong pada William. Suatu hari, William yang sangat mengenal jiwa dan raga Adaline, melihat luka di tangan Adaline, ia terkenang masa lalu saat ia menjalin hubungan cinta dengan Adaline, ia pun masih bisa mengingat dengan persis penyebab luka di tangan Adaline. Ia memaksa Adaline untuk membuka identitas aslinya. Adaline pun menceritakan keadaan dirinya. William sangat iba pada Adaline yang hidup dalam kesepian, dan terus menerus melarikan diri.Bertahun-tahun Adaline hidup, tapi tidak punya kehidupan.


Adaline putus asa dengan keadaan dirinya. Ia melarikan diri dengan mengendarai mobil meninggalkan tempat tinggal orang tua Ellis. Di perjalanan ia mengalami kecelakaan kembali, ia pun sekarat, petugas medis datang tepat waktu memberikan pertolongan dan Adaline kembali hidup. Kali ini tubuh Adaline berubah normal seperti manusia lainnya.

Akhirnya Adaline bisa menjalani kehidupan yang normal, rambutnya mulai tumbuh uban. Ia hidup bahagia bersama lelaki yang dicintainya, Ellis Jones.

" Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu." Khalil Gibran

Jumat, 17 Mei 2013

Bunga Daisy



 Karya : Hans Christian Andersen



pic. from fineartamerica.com
" Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan."  - Khalil Gibran -






Di sebuah kota, dekat jalan raya, berdiri sebuah rumah pertanian. Ada taman bunga kecil dengan pagar kayu yang di cat, di dekatnya ada selokan, di tepinya rumput hijau segar dan bunga aster kecil. Matahari bersinar cerah dan hangat menyinari taman itu sehingga pepohonan berkembang dengan baik. Di suatu pagi, kelopak bunga kecil seputih salju mengelilingi pusat kuning, seperti sinar matahari. Tak ada yang melihat keberadan bunga kecil malang itu. Tetapi, ia cukup bahagia, berpaling ke arah matahari, melihat ke atas dan mendengarkan nyanyian burung-burung.

Daisy kecil itu hidup bahagia dan menjadikan hari-hari adalah hari libur besar, terutama hari Senin. Semua anak-anak berada di sekolah, duduk dan belajar. Daisy kecil duduk di tangkai hijau tipis dan belajar dari matahari dan lingkungannya betapa baiknya Allah, dan ia bahagia mendengarkan nyanyian burung yang terdengar indah mengungkapkan perasaannya sendiri. Daisy mendongak ke atas ke arah burung yang terbang dan bernyanyi.
"Aku bisa melihat dan mendengar," pikir Daisy, "Matahari bersinar , menyinari diriku dan tamanku. Betapa kayanya aku! "

Di taman itu tumbuh juga bunga-bunga yang besar dan megah, tetapi kurang wangi, mereka bersikap angkuh dan sombong. Peony sombong yang membanggakan diri karena lebih besar dari bunga mawar. Tapi ukuran bukanlah segalanya! Tulip memiliki warna terbaik, dan mereka tahu itu, mereka berdiri tegak seperti lilin, merasa lebih baik dari yang lain.

pic. from my.opera.com
Dalam kesombongannya mereka tidak melihat Daisy kecil yang  memandang dan berpikir, "Bagaimana kaya dan indah mereka! Saya yakin burung cantik akan terbang ke bawah dan memanggil mereka. Terima kasih Tuhan, saya berdiri begitu dekat, dan  setidaknya dapat melihat semua kemegahan." Dan sementara Daisy masih berpikir, burung  terbang turun, berkicau, tetapi bukan untuk Peony dan Tulip, tapi untuk Daisy. Begitu bahagianya sehingga tidak tahu harus berpikir apa. Burung kecil itu melompat dan bernyanyi,  "Betapa indahnya rumput yang lembut, dan betapa indahnya bunga kecil yang berhati emas dengan gaun perak tumbuh di sini. "  Pusat kuning pada bunga daisy memang terlihat seperti emas, dan kelopaknya bersinar seterang perak.

Sungguh bahagia Bunga Daisy itu! Burung itu menciumnya dengan paruhnya, bernyanyi, dan kemudian bangkit kembali sampai ke langit biru. Lebih dari seperempat jam sebelum Daisy sadar. Setengah malu, namun senang di hati, ia menoleh ke bunga-bunga lain di taman itu, pasti mereka telah menyaksikan kesenangan dan kehormatan yang didapatnya. Tapi Bunga Tulip berdiri lebih kaku dari sebelumnya, wajahnya menunjukkan amarah, karena mereka jengkel. Peony  cemberut. Itu lebih baik, mereka tidak mengomeli Daisy kecil. Daisy melihat bunga-bunga itu merasa tidak nyaman.
 
 “ Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan.  “  – Khalil Gibran

Tak lama setelah itu seorang gadis datang ke kebun, dengan pisau tajam yang besar. Dia menghampiri bunga - bunga Tulip dan mulai memotong mereka satu demi satu. "Auw" desah Daisy, " Mengerikan !"

Gadis itu membawa tulip
-tulip itu pergi. Bunga Daisy merasa bersyukur.  Saat matahari terbenam ia melipat kelopaknya, dan tertidur, dan bermimpi sepanjang malam, memimpikan matahari dan burung – burung  yang bernyanyi.

Esok paginya, ketika bunga itu membuka kelopak lembutnya, seperti lengan kecil, menuju udara dan cahaya, terdengar  suara burung, nyanyiannya begitu sedih.  Burung malang itu bersedih karena ia telah ditangkap dan dimasukkan kedalam sangkar dekat jendela yang terbuka. Ia merindukan hari-hari bahagia ketika ia bisa terbang riang di sekitar pohon jagung yang hijau segar di ladang, lalu terbang melambung sampai ke awan. Kini burung malang itu kini terpenjara dalam sangkar. Daisy kecil ingin sekali menolong burung itu, tapi apa yang bisa dilakukan?  Daisy terus memikirkan burung malang itu, ia melupakan keindahan di sekitarnya.

Tiba-tiba dua orang anak kecil datang, salah satu dari mereka memegang pisau tajam yang besar, seperti yang dibawa oleh gadis itu kemarin. Anak-anak itu menghampiri Daisy
" Ini adalah rumput yang bagus untuk burung." kata salah satu anak laki-laki, dan mulai memotong rumput di sekitar bunga daisy.
"
Potong bunga itu" kata anak yang lain, dan daisy gemetar karena takut.  
 " Jangan. Biarkan saja."  kata anak yang lain, " ia terlihat begitu cantik."

Akhirnya Daisy tetap tinggal di taman itu.  Burung malang itu meratapi kebebasannya yang hilang. Daisy kecil tidak bisa berbicara sepatah kata pun untuk menghibur.  Dan pagi pun berlalu.

"Saya tidak punya air," kata burung dalam sangkar itu, " Mereka semua pergi keluar, dan lupa untuk memberi saya air untuk minum. Tenggorokanku kering dan terbakar. Saya seperti memiliki api dan es di dalam diri saya, dan udara begitu menyengat. Aku ingin mati saja !. bergabung dengan sinar matahari yang hangat, padang rumput hijau segar, dan semua keindahan yang diciptakan Tuhan.”  Ia mendorong paruhnya ke potongan rumput untuk menyegarkan diri sedikit. Kemudian melihat kea rah Daisy kecil, dan mengangguk, dan berkata: " Kau juga akan musnah bunga kecil yang malang, Kau dan rumput akan dipotong dengan pisau untuk menjadi makanan saya. Setiap potongan rumput hijau bagi saya, dan juga setiap kelopak putihmu. Oh, kau hanya mengingatkanku akan kemalanganku. "

"Aku berharap aku bisa menghibur burung malang itu," pikir Daisy.  Ia tidak bisa menggerakkan satu pun daunnya,  tapi aroma kelopak halus yang mengalir keluar  jauh lebih kuat daripada biasanya. Burung itu melihatnya, meskipun sedang sekarat karena kehausan, dan sakit yang teramat sangat.
Malam pun tiba, dan tak ada seorang pun muncul membawakan air untuk burung malang itu. Burung itu membuka sayapnya yang indah, mengibarkannya dalam penderitaan,  samar dan sedih.  " Cit..cit.cit cicit,"  hanya itu yang bisa diucapkan, ia membungkukan kepalanya sedikit ke arah bunga Daisy, hatinya hancur.  Bunga itu, seperti pada malam sebelumnya, melipat kelopak dan tidur, itu jatuh sedih. 

Anak-anak datang keesokan harinya, melihat burung itu mati, mereka mulai menangis sedih, menggali kuburan yang bagus untuknya, dan dihiasi dengan bunga. Tubuh burung itu ditempatkan dalam kotak cantik merah, mereka ingin menguburnya dengan predikat kerajaan. Sementara itu mereka lupa telah membiarkan burung itu hidup menderita dalam sebuah sangkar. Anak-anak itu menangis dan menaburkan bunga di atas kuburan.  Potongan rumput, dengan daisy kecil di dalamnya, dilempar ke jalan raya berdebu.