Tampilkan postingan dengan label tiket pesawat ke Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tiket pesawat ke Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Mei 2017

Akhir Pekan di Yogyakarta

" Rumahmu tidak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama kapal layar" - Khalil Gibran

Sabtu pagi jam 10 kami tiba di Bandara Adi Sucipto Yoyakarta.Karena waktu check in masih lama, kami jalan-jalan sambil belanja di sekitar Jl. Malioboro sampai kira-kira jam 12 siang. Perut sudah mulai terasa lapar, kami masuk ke Mall Malioboro untuk makan siang dan beristirahat. Sekitar dua jam kemudian kami naik taxi menuju Favehotel Yogyakarta di Jl. I Dewa Nyoman Oka no 30 Kotabaru,Gondokusuman. Hotel ini berada di kawasan yang asri.

Jam 2 siang kami check in dan beristirahat. Sebelum masuk kamar  selfie dan welfie dulu di dalam area hotel.


welfie dalam lift

selfie di lobby
lukisan dinding koridor hotel
Jam 03.30 sore kami bangun untuk Sholat Ashar dan mandi.

Jam 04.00 kami keluar hotel dengan memanggil taxi menuju De Mata Eye trick Museum yang berlokasi di gedung XT Square, Jl. Veteran no 151, Umbulharjo, Yogyakarta.

welfie with Monalisa di salah satu spot di De Mata II

Lihat Foto hasil tipuan mata di De Mata Eye Trick Museum II klik disini

Jam 18.30 kami keluar dari De Mata Eye Trick Museum II untul sholat Maghrib di Musholla gedung XT Square. Karena badan terasa capek setelah foto-foto kami mencari cemilan dan minuman sembari istirahat.

Rencana kami ingin melanjutkan masuk ke De Mata Trick Eye Museum I dan De Arca, tapi apa daya kaki dan badan terasa pegal-pegal. Kami pun mengurungkan rencana yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Untungnya, kami baru beli tiket hanya untuk De Mata Eye Trick Museum II saja seharga Rp. 50.000,- , tidak mengambil harga paket untuk tiga museum sekaligus, yaitu De Mata Eye Trick Museum I, De Mata Eye Trick Museum II dan De Arca (Museum lilin yang mirip dengan Museum Madamme Tussaud), seharga Rp. 120.000,-.

Karena capek kami pulang naik taxi menuju rumah makan House of Raminten yang beberapa meter saja jauhnya dari hotel tempat kami menginap,tepatnya di Jl. Faridan Muridan Noto no 7 Kotabaru, Gondokusuman. Kami santap malam disini.

Selesai makan kami menuju hotel dengan berjalan kaki.

Minggu pagi jam 10 kami check out hotel, setelah sebelumnya kami sarapan di restoran hotel.Barang bawaan kami titip di hotel. Kami pun memanggil taxi menuju Taman Pintar di Jl Panembahan Senopati no 1-3, tak jauh dari Jl. Malioboro.

welfie di depan gedung Taman Pintar

Lihat foto selfie di Taman pintar klik disini

Jam 13.00 kami makan di foodcourt setempat. Kemudian kami naik taxi ke Favehotel untuk mengambil barang bawaan yang dititipkan. Setelah itu kami naik taxi kembali menuju Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.


Selasa, 04 April 2017

Taman Pintar Yogyakarta

" Segala sesuatu yang dicintai anak-anak akan terus dikenang di dalam relung hati manusia sampai tua. Hal yang paling indah adalah bahwa jiwa kita tetap berkelana di atas tempat-tempat yang dulu pernah kita singgahi." - Khalil Gibran



Sesekali ajaklah anak-anak anda berlibur ke museum atau Taman Pintar untuk menambah wawasan mereka. Dan bila anda sekeluarga berkunjung ke Kota Yogyakarta jangan lupa untuk mampir ke Taman Pintar yang berlokasi di Jl. Panembahan Senopati no 1 -3 Yogyakarta.

Banyak hal yang bisa dilakukan anak-anak, diantaraanya mempelajari kesenian daerah.




Mengenal warisan budaya tanah air.



Dan juga rekreasi.....




Dan apabila sudah lelah berkeliling dan merasa lapar, disini juga terdapat kafetaria yang menjual berbagai menu makanan dengan harga yang ramah di kantong.





Kamis, 04 Oktober 2012

Roro Jonggrang dan kutukan Bandung Bondowoso


Perwujudan patung Roro Jonggrang

“Roro Jonggrang, bersediakah kau menjadi isteriku?”   tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang.
“Aku bersedia menikah denganmu. Tetapi sebelumnya aku minta dibuatkan sebuah sumur dan seribu candi dalam waktu satu malam.”  jawab Roro Jonggrang.

Pada jaman dahulu kala di daerah Prambanaan, Jawa Tengah berdiri dua buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko. Kerajaan Pengging subur makmur gemah ripah lohjinawi dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana bernama Prabu Damar Moyo. Kerajaan Boko dipimpin oleh Prabu Boko, seorang raja yang kejam.

Prabu Damar Moyo memiliki seorang putera yang tampan dan gagah perkasa serta sakti bernama Raden Bandung Bondowoso. Prabu Boko memiliki seorang puteri yang cantik jelita yang bernama Roro Jonggrang, yang berarti gadis jangkung. Pangeran tampan dan puteri cantik itu bertemu dalam suatu peristiwa peperangan.

Untuk memperluas kerajaannya, Prabu Boko yang bibantu oleh Patih Gupolo melatih para tentara dan memerintahkan perang menyerang kerajaan Pengging. Prabu Boko menarik pajak yang tinggi dari rakyat untuk membiayai perang. Tentara kerajaan Boko menyerbu kerajaan Pengging. Banyak korban tewas dari kedua pihak. Rakyat kedua kerajaan menderita kelaparan dan kehilangan harta benda.

Pangeran Bandung Bondowoso diminta oleh ayahnya untuk bertempur melawan serangan dari kerajaan Boko. Pangeran gagah berani itu berhasil mengalahkan Prabu Boko hingga tewas. Patih Gupolo melarikan diri kembali ke kerajaan Boko dan mengabarkan berita duka itu kepada puteri Roro Jonggrang. Puteri Roro Jonggrang sangat membenci Bandung Bondowoso dan berniat untuk membalas dendam.

Bandung Bondowoso mengejar musuhnya sampai ke karajaan Boko. Ketika sampai disana ia bertemu dengan Roro Jonggrang. Ia pun terpesona dengan kecantikan puteri kerajaan Boko itu. Ia jatuh cinta dan ingin menikahi puteri cantik itu. Roro Jongrang yang menyimpan dendam kesumat terhadap Pangeran Bandung Bondowoso mengajukan beberapa persyaratan berat. Ia meminta pangeran itu membuat sebuah sumur yang diberi nama Jalatundo dan 1.000 candi dalam waktu satu malam saja. Bandung Bondowoso yang mabuk kepayang menyanggupinya. Dia tidak menyadari niat licik  Roro Jonggrang. Sungguh cinta buta!.

Syarat yang pertama untuk dibuatkan sebuah sumur telah dipenuhi oleh Bondowoso. Tinggal syarat yang kedua. Bandung Bondowoso memerintahkan para anak buahnya dari bangsa jin untuk membuat 1.000 candi. Ketika candi yang ke 999 telah selesai dibuat, Roro Jonggrang melakukan siasat licik untuk menggagalkan usaha Bondowoso, ia dengan dibantu oleh para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya langit terlihat terang benderang seperti pagi hari. Ayam-ayam pun berkokok karena mengira waktu pagi telah datang. Dan para jin yang sedang mengerjakan candi-candi itu segera menghentikan pekerjaannya dan menolak melanjutkan membuat satu candi lagi. Candi-candi itu kurang satu.

Roro Jonggrang menagih janji Bandung Bondowoso. Ia menghitung candi yang berjumlah 999. Bandung Bondowoso merasa dipermainkan dan sangat marah kepada Jonggrang. 

Bandung Bondowoso pun mengutuk : “ Hai Roro Jonggrang, candi cuma 999, kurang satu lagi, maka, kau kujadikan patung untuk menggenapkannya.”

Karena kesaktian Bandung Bondowoso Roro Jonggrang berubah wujud jadi sebuah patung.

Candi Prambanan
 Patung Roro Jonggrang tersebut berdiri dalam sebuah candi  yang dinamai Candi Roro Jonggrang di dalam kompleks Candi Prambanan. Candi-candi yang berada di sekitarnya dinamai Candi Sewu (Candi Seribu).

Sumber : Cerita Rakyat Jawa Tengah

FYI : untuk anda yang akan mengunjungi Candi Prambanan dan membutuhkan tiket pesawat ke Yogyakarta dan hotel di sekitar Yogyakarta bisa klik disini.
Anda juga bisa melihat perbandingan harga tiket pesawat dari berbagai maskapai serta perbandingan harga hotel di sekitar Yogyakarta disini.