Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2019

Staycation at Harris Hotel Festival Citylink Bandung

Dolce fare niente (Bahasa Italia), yang artinya indahnya tidak melakukan apapun, diam saja. Di satu waktu kita perlu berhenti sejenak dari segala kegiatan yang menyita waktu, tenaga dan pikiran kita. Mencoba menikmati detik-detik tanpa melakukan apapun. Hidup bukan hanya soal kerja, mengejar karir, mengumpulkan harta dan mencari uang, adakalanya kita perlu rileks sejenak.

Sesekali melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan dengan melakukan staycation (stay vacation) tidak ada salahnya, dan saya rasa itu perlu dilakukan, walau hanya sejenak saja.

Staycation kali ini saya memilih kota Bandung dengan menginap di Harris Hotel Festival Citylink. 
Kenapa memilih sebuah hotel untuk bersantai? Karena kamar hotel sudah tertata rapi dan nyaman,  kita tak perlu repot merapikan kamar, tinggal bersantai saja, tak perlu repot dengan urusan pekerjaan rumah. Dan ada pelayan hotel yang bisa membantu kita kalau memerlukan sesuatu. 

Saya memilih Harris Hotel Festival Citylink karena terhubung langsung dengan Festival Citylink Mall, sehingga memudahkan saya untuk belanja segala keperluan. Dan juga karena lantai kamar yang dihiasi karpet, karena saya suka duduk-duduk santai di bawah, sambil membaca atau nonton TV.

tempat tidur berlantai karpet

Bila bosan di kamar bisa duduk di sofa yang ada di lorong di antara kamar-kamar hotel. Bisa juga berjalan melalui lorong penghubung antara hotel dan mall, window shopping di Festival Citylink Mall. Atau duduk santai sembari minum kopi di Starbucks. 

lorong menuju mall di samping lift
lorong menuju mall

sofa di lorong

sofa di lorong

deretan sofa di lobby

 " Periksalah buku kenanganmu semalam, maka engkau akan mengetahui bahwa engkau masih berhutang pada manusia dan kehidupan." - Khalil Gibran




Rabu, 17 Mei 2017

Paris Van Java Mall

Paris Van Java adalah mall favorit saya kala berkunjung ke Bandung. Mall ini sedikit berbeda dengan mall-mall di Jakarta dan kota besar lainnya. Meskipun tidak terlalu besar tapi memiliki sesuatu yang menarik, konsep bangunan mall mirip khas Eropa dan nuansa open-air. Mall ini berlokasi di Jl. Sukajadi no 131 - 139, Cipedes, Sukajadi, Bandung, Jawa Barat.

Pengunjung mall ini tidak hanya berbelanja seperti pengunjung mall pada umumnya, tapi juga menjadikan mall ini sebagai tempat wisata keluarga.

Yang bisa dilakukan bersama keluarga di Paris Van Java, diantaranya :

Belanja Baju dan Sepatu
Banyak toko-toko pakaian ber-merk seperti : Zara, Bershka, H&M, Mango, Mark&Spencer, My Size, Lacoste, Adidas, Converse, Coldwear, New Balance, Nike, Polo, Puma, Quicksilver, Ripcurl, Salt n Pepper, The Excecutive, Wakai, Origin, dan masih banyak lagi merk lainnya baik local maupun internasional, dan ada juga Dept. Store SOGO.



Belanja kebutuhan rumah tangga
Supermarket : Carrefour

Kuliner
Restoran : Albertos Burger Lounge, Bao Dimsum, Beatrice Quarters, Bullwings, Chung Gi Wa, Dapoer Penyet, Little Tokyo, Pepper Lunch, Quali, Redbean, Zuki Suki.
Makanan cepat Saji : A&W, Burger King, Dominos Pizza, Kenny Rogers Roasters, KFC, Pepper Lunch, Raffels, Richeese, Taiwan Dian Xin.
Roti dan kue : Breadlife, Breadtalk
Makanan ringan dan minuman ringan : 2Tang, Addict Tea, Auntie Anne’s, Baskin Robbins, Beatrice Quarters, Calais, Chia-Yo, Cloud 9, D’Latinos, Daily Fresh, Presotea, Sour Sally, Sumoboo, Taiwan Dian Xin.



Nongkrong di Kafe : Black Canyon Coffe, Cafe Halaman, Caribou Coffe,  D’Latinos, Javana Bistro, Kopi Lay, Pancious, Pizza E’Bira, Starbucks, JCO.

Karaoke Keluarga : Inul Vizta

Taman bermain anak : Kids Land dan Boulder Trampoline Park ( di Sky Level)

Ice Skating di Sky Level

Mengunjungi taman bunga di Sky Level

Mengunjungi Lactasari Mini Farm
Ajaklah anak-anak anda mengunjungi peternakan mini ini di Sky Level.

Mengunjungi penangkara burung
Anda bisa mengajak anak-anak memberi makan burung di area ini

Sudut cantik di area toilet mall Paris Van Java

kolam kecil di area toilet

hiasan dinding di lorong menuju toilet


“Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu. Keindahan adalah cinta yang tidak memberi namun menerima”


Jumat, 07 April 2017

Shopping, Kuliner dan Bersantai di Rumah Mode Bandung


" Angin syahdu mendendang senandung merdu bait demi bait terlantun, mekarkan kembang, hidupkan taman." - Khalil Gibran

Menghabiskan waktu seharian di Rumah Mode Factory Outlet Bandung ternyata menyenangkan dan tidak membosankan. Selain tempat belanja branded dengan harga miring, Factory Outlet ini bisa dijadikan tempat bersantai menghabiskan akhir pekan di Bandung. Rumah Mode ini bukan sekedar factory outlet, banyak sudut-sudut cantik eksterior bangunan yang menyediakan bangku-bangku taman untuk duduk bersantai. Duduk membaca buku atau browsing internet di area ini sangatlah nyaman. Bawalah satu buah buku, tablet, ataupun HP bila berkunjung kesini, untuk teman bersantai melepas lelah.


Bila perut mulai keroncongan, disini banyak terdapat kedai makanan dan minuman, kafe dan resto.





Buat para ayah, suami, boyfriend, banyak tempat duduk untuk menunggu para wanita belanja.




Dan juga tak perlu khawatir kehabisan uang tunai, disini banyak ATM berbagai bank.


Ruang tunggu toilet pun nyaman sekali...


Tentu saja tersedia Musholla untuk yang akan Sholat.

Rumah Mode Factory Outlet ini berlokasi di Jl. Dr. Setiabudi, Bandung. Sista di luar kota Bandung. 

Selasa, 22 Mei 2012

Dewi Sartika, pejuang pendidikan wanita dari Tanah Pasundan

     " Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi Suatu Bangsa "

Selain RA Kartini Indonesia juga memiliki Tokoh Pahlawan Wanita Raden Dewi Sartika. Ia memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Meskipun bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Dari pamannya itu, ia mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Umur sepuluh tahun Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan Bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Pada waktu itu belum ada anak dari kalangan rakyat jelata yang memiliki kamampuan baca tulis dan bahasa Belanda.

" Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. "
16 Juli 1904 Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri ( Sekolah Perempuan ) di Bandung. Tenaga pengajar terdiri dari tiga orang, Dewi Sartika, Ny. Poerwa, Ny. Oewid ( keduanya adalah sepupu Dewi Sartika ). Menggunakan ruang pendopo kabupaten Bandung. Murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda.  

Sekolah Raden Dewi Sartika
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 ia memperbaiki sekolahnya dengan menggunakan harta pribadinya.

Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di Tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi Sartika dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap.

Beberapa tahun kemudian bermunculan beberapa Sakola Istri di Tanah Pasundan, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten Pasundan. Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, Sumatera, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Tahun 1906 Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik. Pasangan suami isteri itu memiliki kesamaan visi dalam memajukan pendidikan masyarakat di lingkungannya.

Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika yang sudah berusia 62 tahun wafat tanggal 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Presiden Soekarno memutuskan bahwa Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden no 152/1966.

Referensi : id.wikipedia.org
                     multi sumber