Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2016

Rahwana, sang pecinta sejati

Aku lebih memilih Rahwana, sang pecinta sejati.

Rahwana berjuang untuk merebut diri Sinta dan berusaha terus untuk mendapatkan cinta Sinta. Setiap hari Rahwana merayu Sinta. Dengan kata-kata yang lembut ia mengatakan cinta. Ia tak pernah memaksa Sinta untuk memenuhi hasratnya, karena ia hanya menginginkan cinta Sinta. Ia sabar menunggu hingga Sinta berbalik mencintainya. 

Sedangkan Rama, tak pernah menjemput Sinta, ia hanya menyuruh temannya, Hanoman, untuk menyerahkan cincin kepada Sinta. Ia tak pernah datang sendiri untuk menjemput Sinta. Ia berperang melawan Rahwana demi egonya. Bahkan, ia tega menyuruh Sinta untuk masuk ke dalam api, untuk membuktikan kesuciannya. Lalu mengusir Sinta yang hamil tua ke hutan belantara, sampai akhirnya Sinta meninggal dunia disana. 

Sebelum menghebuskan nafas terakhir Sinta melahirkan dua orang anak lelaki kembar. Rahwana yang menyelamatkan dan merawat anak-anak Sinta. Saat itu Rahwana telah menjadi pertapa di hutan. Rahwanalah yang selalu melindungi Sinta, selama hidup dan sesudah kematiannya.

Rahwana memang pecinta sejati.

Dan seperti yang Khalil Gibran katakan :

"Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang,
jangan lepaskan dia..
jangan percaya bahwa melepaskan selalu berarti kamu
benar-benar mencintai
melainkan......berjuanglah demi cintamu
Itulah cinta sejati
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan daripada
berjalan bersama orang ‘yang tersedia’
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada
orang yang berada di sekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang
hanya dengan ‘seseorang’ " 

Kamis, 30 Mei 2013

Anna Karennina



Keira Knightley as Anna Karenina

“Mengapa semua harus mengikuti norma dan aturan yang ditetapkan entah oleh siapa. Mengapa hidup tidak dapat menjadi sederhana saja. Bersama dengan orang yang kita cintai.”

Anna Karennina adalah karakter utama dalam novel yang berjudul Anna Karennina karya Leo Tolstoy, sastrawan besar Rusia pada abad 19. Hingga saat ini novel ini telah diterbitkan dan dicetak ulang sebanyak 625 kali dan diterjemahkan dalam lebih 40 bahasa, serta sudah berulang kali difilmkan oleh Hollywood.

Anna Karennina, seorang wanita cantik keturunan bangsawan yang menikah dengan Count Alexei Karennin, seorang pejabat tinggi pemerintah di Petersburg, yang dingin, kaku dan berusia jauh lebih tua.  Anna menikah pada usia 18 tahun tanpa rasa cinta. Pernikahannya berlajalan lancar dan sempurna. Terlalu sempurna sehingga Anna tidak merasakan gelora dalam pernikahannya. Kemudian ia bertemu dengan Count Vronsky, seorang perwira muda tampan yang menggodanya. Pada mulanya Anna beruasaha untuk melawan hasrat hatinya , ia ingin mempertahankan pernikahannya. Tapi, akhirnya ia tak bisa menghindar dari daya tarik Vronsky, ia tak bisa lagi menahan gelora cintanya. Bersama Vronsky ia merasakan kebahagiaan dan gelora cinta yang tidak dirasakannya saat bersama Karenin, tapi ia juga tidak ingin berpisah dengan puteranya yang sangat dicintainya, Seriozha.

Alexei Karennin berusaha untuk selalu bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa dalam pernikahannya, walaupun ia tahu seluruh masyarakat di lingkungannya menggunjingkan isterinya. Alexei Karennin hanya membutuhkan kebohongan dan sopan santun untuk menjaga wibawanya sebagai pemimpin masyarakat, dan menjaga kehormatannya di mata para bangsawan Petersburg.



Anna memilih berpegang pada prinsipnya dan menjalani hidup dengan caranya sendiri, walaupun masyarakat lingkungannya mencemoohnya. Ia tak ingin hidup dalam kepalsuan dan kepura-puraan. Tentu saja, merupakan sebuah aib ketika seorang wanita bersuami menjalin cinta dengan seorang lelaki. Dan Anna mengalami pengucilan dari lingkungan sosialnya. Tapi, pada akhir hayatnya Anna memohon pengampunan dari Karennin, suaminya.


“Inilah yang ingin kukatakan padamu. Ada wanita lain di dalam diriku, aku takut padanya; dialah yang sedang jatuh cinta pada lelaki lain. Aku bukan wanita itu. Sekarang inilah diriku yang sebenarnya, seutuhnya. Aku sekarat sekarang, aku tahu siapa aku ini. Aku hanya menginginkan satu hal—maafkan aku, maafkan aku sepenuhnya!” Anna berkata pada Karennin dalam keadaan terbaring tak berdaya.

Karennin berlapang dada untuk memaafkan Anna.

Cinta Anna dan Vronsky yang semula panas menggelora lambat laun mendingin dan pudar. Anna yang sebelumnya berpendirian kuat pada prinsip dan kata hatinya, mulai ragu dan goyah. Ia curiga bahwa Vronsky memiliki hubungan dengan wanita lain dan ia semakin gelisah, apalagi status pernikahannya tidak menentu. Ia belum bercerai dengan Karennin, menyebabkan ia tak bisa menikah resmi dengan Vronsky. Ia juga tidak memiliki hak asuh terhadap putranya.

Berhadapan dengan situasi yang sulit dan mulai meragukan cinta Vronsky, Anna pun memilih jalan keluar untuk membebaskan dirinya sendiri dari penderitaan. Ia memilih bunuh diri.

Selasa, 28 Mei 2013

Sang Waktu



Waktu

Karya : Khalil Gibran



Dan seorang pakar astronomi berkata, “Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.


Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa semalam hanyalah kenangan untuk hari ini dan esok adalah harapan dan impian untuk hari ini.
Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?


Tapi jika di dalam pikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

Jumat, 17 Mei 2013

Khalil Gibran tentang Cinta



Kemarin aku berdiri dekat pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.

pic from fanpop.com
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata,"Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama."

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, "Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang."

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata,"Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya."

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata,"Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat, membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian di depan matahari di siang hari."

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata,"Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda."

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata,"Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya."

Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, "Cinta adalah kabut tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah."

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, "Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesadaran dan kesadaran."

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potonganpotongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, "Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian."

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata,"Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta." Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat.

Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

Rabu, 24 April 2013

Burung Bulbul dan Bunga Mawar



Karya : Oscar Wilde

" Dia berkata bahwa dia hanya akan menari denganku jika aku membawakannya bunga mawar merah," jerit Sang Pelajar belia; "tetapi di kebunku tidak ada satupun bunga mawar berwarna merah."
Dari dalam lubang di pohon ek, Burung Bulbul mendengar kesulitan sang pelajar, dan dia memeriksa diantara daun-daun, dan berpikir.
" Tidak ada bunga mawar merah di seluruh kebun!" jerit Sang Pelajar lagi, dan mata indahnya penuh dengan air mata. " Ah, bagaimana kebahagiaan banyak bergantung dari hal-hal kecil. Aku sudah membaca semua tulisan orang-orang yang bijaksana, dan rahasia-rahasia filsafat telah ada dalam genggamanku, namun hanya karena kurang sekuntum bunga mawar merah hidupku menjadi berantakan."


" Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati," kata Sang Burung Bulbul.
" Malam demi malam aku telah menyanyikan tentang seorang kekasih sejati, meskipun demikian aku tidak mengenalnya; malam demi malam aku bercerita pada bintang-bintang tentang kekasih sejati, dan sekarang aku bisa melihatnya. Rambutnya sepekat bunga yacinta dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; namun keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan duka cita telah bertengger di keningnya."
" Pangeran akan menyelenggarakan pesta besok," gumam Sang Pelajar belia, " dan kekasihku akan ada disana. Jika aku membawakannya bunga mawar merah ia akan menari denganku hingga dinihari. Jika aku membawakannya bunga mawar merah, ia akan berada dalam pelukanku, dan dia akan menyandarkan kepalanya diatas bahuku, dan aku akan menggengam tangannya. Tetapi tidak ada bunga mawar merah dalam kebunku, maka aku akan duduk dalam kesepian, dan dia akan melewati aku seolah-olah aku tidak ada, dan aku akan patah hati. "
" Inilah seorang pecinta sejati." Kata Sang Burung Bulbul. " Setiap aku bernyanyi, ia menderita, dan setiap kegembiraanku adalah kepedihannya. Aku yakin Cinta adalah hal yang indah. Cinta lebih berharga dibandingkan jamrud, dan lebih bernillai dari batu opal yang terbaik. Mutiara dan buah delima tidak bisa ditukar dengan cinta, di pasar manapun cinta tidak dapat dijual, pun tidak dapat dibeli dari pedagang, tidak dapat ditimbang ataupun ditukar dengan emas.
" Para musisi akan duduk dipanggung," kata Sang Pelajar belia, " dan memetik senar gitar mereka, lalu cintaku akan menari mengikuti irama petikan harpa dan gesekan biola. Ia akan berdansa dengan ringannya, dan bagi yang menyaksikan, seakan-akan kakinya tidak menyentuh lantai. Dan para pria-pria dengan setelan abu-abu yang sama akan berebut berdansa dengannya. Namun cintaku tak akan berdansa denganku karena aku tidak memiliki bunga mawar merah untuknya"; Ia pun terkulai lemas diatas rumput, membenamkan wajahnya dalam kedua tangannya dan menangis.
" Mengapa ia menangis?" tanya Kadal Hijau kecil yang berlari cepat dengan buntut mencuat keatas dan lekas-lekas melewati pelajar tersebut.
" Iya, kenapa ya ia menangis?" tanya si Kupu-Kupu yang mengibas-ibaskan sayapnya dibawah sinar mentari.
" Iya, kenapa ya kira-kira?" Bisik Bunga Aster pada tetangganya dengan nada yang lembut dan perlahan.
" Ia menangis karena menginginkan mawar merah," jawab Sang Burung Bulbul.
" Mawar merah?" sahut mereka bersama; " aduh, betapa menggelikannya!" dan si Kadal Kecil yang mempunyai pembawaan sinis pun tertawa terbahak-bahak.
Namun Sang Burung Bulbul mengerti rahasia duka Si Pelajar muda, ia pun duduk diam di atas dahan Pohon Ek dan berpikir tentang misteri Cinta.
Tiba-tiba ia membentangkan sayap-sayap coklatnya dan meluncur diudara. Ia terbang melewati taman, dan seringan bayangan ia mengudara melintasi kebun.
Ditengah bukit-bukit rumput terdapat Pohon Mawar yang cantik, dan ketika Sang Burung Bulbul melihatnya iapun segera menghampiri seraya berkata,
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Mawarku berwarna putih," jawabnya; " seputih buih ombak dilautan, dan lebih putih dari salju di puncak Gunung Himalaya. Tetapi pergilah pada saudaraku yang tumbuh didekat si jam matahari tua, dan mungkin ia dapat memberi apa yang kau inginkan.
Maka Sang Burung Bulbulpun terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh disekitar jam matahari tua.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna kuning," jawabnya; " sekuning rambut perawan kerajaan Inggris yang duduk diatas tahta batu amber, dan lebih kuning dari bunga narsisus yang mekar di padang rumput tepat sebelum pemotong rumput datang dengan sabit besarnya. Namun pergilah pada saudaraku yang tumbuh di bawah jendela seorang pelajar muda, dan barangkali ia akan memberimu apa yang kamu inginkan."
Maka Sang Burung Bulbul terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh di bawah jendela si pelajar muda.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna merah," jawabnya, " semerah kaki-kaki merpati, dan lebih merah dari karang-karang yang melambai lambai diterpa gelombang di dalam gua-laut. Tetapi musim dingin telah menghambat pembuluh darahku, es telah menjepit tunas-tunasku, dan badai telah merusak ranting-rantingku, sehingga aku tidak akan mampu menumbuhkan satupun bunga mawar tahun ini."
" Hanya sekuntum bunga mawar merah yang kupinta," jerit Sang Burung Bulbul, " hanya sekuntum bunga mawar merah! Apakah tidak ada cara lain agar aku bisa mendapatkannya?"
" Ada satu cara," jawab Pohon Mawar; " tetapi cara tersebut sangat mengerikan dan aku tidak berani meceritakannya padamu."
" Ceritakan padaku," jawab Sang Burung Bulbul, " Aku tidak takut."
" Jika kamu menginginkan sekuntum bunga mawar merah," kata Pohon Mawar, " kamu harus membuatnya dari musik yang diterpa oleh sinar rembulan, dan dialiri oleh darah dari jantungmu sendiri. Semalam suntuk kau harus bernyanyi padaku dengan duriku yang menusuk menembus jantungmu, dan darahmu, yang menopang hidupmu, harus dialirkan pada pembuluh darahku, sehingga darah itu menjadi milikku."
"Kematian adalah harga yang sangat mahal sebagai bayaran untuk sekuntum bunga mawar," seru Sang Burung Bulbul, " karena seluruh mahluk mendambakan untuk Hidup. Bayangkan betapa menyenangkannya duduk di kayu yang hijau, dan untuk mengamati Matahari dalam kereta emasnya, dan Bulan dalam kereta mutiaranya. Menikmati harumnya tanghulu, dan harumnya bunga lonceng biru yang tersembunyi dalam lembah, dan hembusan angin dari bukit yang membawa semerbak harum bunga-bunga yang tumbuh diantara semak. Namun Cinta jauh lebih berharga dari kehidupan, dan apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?"
Dan Sang Burung Bulbulpun menebarkan sayap-sayap coklatnya dan terbang membumbung tinggi ke udara. Bayangnya menyelinap diantara semak-semak, layaknya perahu yang berlayar diatas pepohonan.
Sang Pelajar muda masih berbaring terdiam diatas rumput yang sama saat ia tinggalkan, dan airmata masih menggenangi matanya yang indah.
" Berbahagialah," seru Sang Burung Bulbul, " berbahagialah karena engkau akan memperoleh bunga mawar merah yang kau dambakan. Aku akan membuatnya dari lagu cinta yang dinyanyikan dibawah sinar rembulan, dan mewarnainya dengan darah yang mengalir dari jantungku sendiri. Sebagai gantinya aku memintamu untuk menjadi pecinta sejati, karena Cinta lebih bijaksana daripada Filsafat, walaupun Filsafat itu bijak, Cinta itu lebih kuat daripada Kekuasaan, walaupun Kekuasaan itu kuat. Sayap-sayap cinta berwarna merah api, dan tubuhnya berkobar layaknya nyala api. Bibirnya semanis madu, dan nafasnya seharum rempah-rempah."
Sang Pelajar muda memandangnya dari atas rumput dan mendengarkan, namun ia tidak mengerti apa yang Burung Bulbul katakan kepadanya, karena semua yang ia ketahui hanya hal-hal yang ditulis di buku.
Tetapi sang Pohon Ek mengerti dan ia menjadi sedih karena ia sangat senang dengan Sang Burung Bulbul kecil yang telah membangun sarang diatas cabangnya.
" Bernyanyilah untukku untuk yang terakhir kalinya," bisik Pohon Ek, " Aku akan merasa sangat kesepian tanpa mu."
Burung Bulbulpun bernyanyi untuk Pohon Ek dan suaranya bergetar sedih layaknya gelembung-gelembung air yang mendidih dari dalam panci perak. Ketika ia telah selesai bernyanyi Sang Pelajar muda bangun, menarik buku catatan kecil dan sebatang pensil keluar dari sakunya.
" Ia mempunyai sebentuk kreasi..." kata Sang Pelajar muda pada dirinya, seraya berjalan keluar melintasi kebun-- "yang menjadi bagian dari dirinya; tapi apakah burung itu memiliki perasaan? Kukira tidak. Bahkan pada kenyataannya, ia seperti seniman-seniman kebanyakan yang mengutamakan gaya; tanpa ketulusan. Burung itu tidak akan mengorbankan dirinya untuk mahluk lainnya. Yang ia pentingkan hanya musik, dan semua orang tahu bahwa seni itu egois. Meski demikian, harus diakui bahwa ia memiliki nada-nada yang indah ketika bernyanyi. Sayang sekali bahwa nada-nada tersebut tidak memiliki arti, dan tidak berguna." Sang Pelajar pun masuk kedalam kamarnya, berbaring diatas ranjang lipatnya yang kecil, dan mulai berpikir tentang cintanya; lalu setelah beberapa waktu, iapun tertidur.
Dan ketika cahaya bulan mulai berpendar di langit Sang Burung Bulbul terbang menghampiri Pohon Mawar dan menekankan dadanya pada duri pohon. Semalam suntuk ia menyanyi dan menghujamkan dadanya pada duri, bulan yang serupa kristal dingin pun mulai merunduk dan mendengarkan. Semalam suntuk ia bernyanyi dan duri pohonpun mulai menusuk dalam dan lebih dalam lagi menembus dadanya sehingga darah nadi kehidupannya mulai mengalir surut menjauhinya.
Ia membuka nyanyiannya dengan membawakan lagu tentang kelahiran cinta dihati seorang anak lelaki dan anak perempuan. Dan pada tunas pohon bunga mawar muncullah kuntum bunga yang menakjubkan diikuti helai demi helai yang tumbuh seiring lagu demi lagu dinyanyikan.
Pucat pada awalnya, sepucat kabut yang menggantung di sungai-- pucat, sepucat kaki-kaki pagi hari, dan seperak sayap-sayap subuh.
Laksana bayangan mawar di permukaan kaca, laksana bayangan mawar di permukaan telaga, begitulah bentuk mula dari bunga yang tumbuh pada tunas pohon tersebut.
Namun Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah langsung dari jantung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. " Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah dari jantung langsung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Sang Burung Bulbulpun menghujamkan dadanya lebih dalam lagi sehingga duri menusuk lebih dalam dan menyentuh jantungnya, dan tiba-tiba sakit yang amat sangat menyengat keseluruh tubuhnya. Pahit, dan semakin pahit sakitnya, dan semakin gelap lagu yang ia nyanyikan , karena ia menyanyikan Cinta yang disempurnakan oleh Kematian, tentang cinta yang tidak mati dalam batu nisan.
Dan bunga mawar yang indah itu memerah, semerah mawar dari langit timur. Merah darah melekat di helai bunganya, dan merah delima warna jantung bunganya.
Namun suara Burung Bulbul menjadi semakin lemah, dan sayap-sayap kecilnya mulai berkepak-kepak, dan selaput matanya mulai menutup. Lemah dan semakin lemah bunyi lagunya, dan ia merasa sesuatu mencekik dan menyumbat kerongkongannya.
Lalu ia menyanyikan semburat lagu terakhirnya. Sang rembulan yang putih mendengarnya dan ia diam di langit, melupakan matahari yang harus terbit. Sang Bunga Mawar mendengarnya, dan bunga pun menggigil, bergetar penuh kenikmatan, dan membuka helai-helai kelopak bunganya pada dinginnya dini hari. Nyanyian Sang Burung Bulbul dibawa gema kedalam relung-relung gua yang pekat diatas bukit, dan membangunkan gembala-gembala dari mimpi mereka. Nyanyian Sang Burung Bulbul melayang melalui alang-alang ditempi sungai, dan mereka membawa pesannya jauh ke laut.
" Lihat, lihatlah!" seru Sang Pohon, " bunga mawarnya telah mekar dengan sempurna"; tetapi Sang Burung Bulbul tidak menjawab, karena ia telah terbaring mati diantara rerumputan yang tumbuh tinggi, dengan duri tertancap di jantungnya.
Pada siang hari saat Sang Pelajar membuka jendelanya dan melihat keluar. " Oh, betapa beruntungnya saya!" serunya; " sekuntum bunga mawar merah! Seumur hidup aku tak pernah melihat mawar seindah ini. Bunga mawar ini begitu cantik, aku yakin ia memiliki nama latin yang panjang."; Ia pun merunduk dan memetik bunga mawar tersebut.
Lalu ia kenakan topinya, dan berlari menuju rumah Sang Profesor dengan sekuntum bunga mawar di tangannya.
Putri sang profesor sedang duduk didepan pintu membalik-balik sehelai sutra biru dari gulungannya, sementara anjing kecilnya berbaring diatas kakinya.
" Engkau berkata bahwa kau akan berdansa denganku apabila aku membawakanmu sekuntum mawar merah," seru Sang Pelajar. "Ini sekuntum mawar yang paling merah yang pernah ada di muka bumi. Kau dapat menyematkannya didekat hatimu, dan saat kita berdansa bersama, mawar ini akan menyatakan betapa aku mencintaimu."
Tetapi putri profesor mengernyitkan keningnya.
" Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan," jawabnya; " lagipula, keponakan Anggota Dewan Kota telah memberiku perhiasan yang mahal , dan jauh lebih berharga daripada sekuntum bunga."
" Oh, kau sungguh seseorang yang tak tahu berterimakasih," seru Sang Pelajar dengan marah; dan ia melempar bunga mawar tersebut ke jalan, Sang Bunga jatuh bergulir masuk ke dalam kumbangan di jalan, dan digilas oleh kereta kuda yang lewat.
" Tidak tahu terimakasih! " seru putri sang profesor," Dengarkan ya, menurutku prilakumu itu tidak pantas; lagipula, kau pikir kau itu siapa? Hanya seorang Pelajar. Lihatlah, apakah kau memiliki sabuk perak disepatumu seperti yang dikenakan keponakan Anggota Dewan Kota? Kukira tidak. " Dan iapun berdiri meninggalkan kursinya lalu masuk ke dalam rumah.
" Ah betapa konyolnya Cinta itu " kata Sang Pelajar saat ia melangkah pergi," Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan Cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, Cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, dijaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada Filsafat dan mempelajari Metafisika."
Maka ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah buku besar penuh debu dari lemari bukunya dan mulai membaca...

“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”  - Khalil Gibran


Sumber : http://id.wikisource.org