Tampilkan postingan dengan label pesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Burung Bulbul dan Bunga Mawar



Karya : Oscar Wilde

" Dia berkata bahwa dia hanya akan menari denganku jika aku membawakannya bunga mawar merah," jerit Sang Pelajar belia; "tetapi di kebunku tidak ada satupun bunga mawar berwarna merah."
Dari dalam lubang di pohon ek, Burung Bulbul mendengar kesulitan sang pelajar, dan dia memeriksa diantara daun-daun, dan berpikir.
" Tidak ada bunga mawar merah di seluruh kebun!" jerit Sang Pelajar lagi, dan mata indahnya penuh dengan air mata. " Ah, bagaimana kebahagiaan banyak bergantung dari hal-hal kecil. Aku sudah membaca semua tulisan orang-orang yang bijaksana, dan rahasia-rahasia filsafat telah ada dalam genggamanku, namun hanya karena kurang sekuntum bunga mawar merah hidupku menjadi berantakan."


" Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati," kata Sang Burung Bulbul.
" Malam demi malam aku telah menyanyikan tentang seorang kekasih sejati, meskipun demikian aku tidak mengenalnya; malam demi malam aku bercerita pada bintang-bintang tentang kekasih sejati, dan sekarang aku bisa melihatnya. Rambutnya sepekat bunga yacinta dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; namun keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan duka cita telah bertengger di keningnya."
" Pangeran akan menyelenggarakan pesta besok," gumam Sang Pelajar belia, " dan kekasihku akan ada disana. Jika aku membawakannya bunga mawar merah ia akan menari denganku hingga dinihari. Jika aku membawakannya bunga mawar merah, ia akan berada dalam pelukanku, dan dia akan menyandarkan kepalanya diatas bahuku, dan aku akan menggengam tangannya. Tetapi tidak ada bunga mawar merah dalam kebunku, maka aku akan duduk dalam kesepian, dan dia akan melewati aku seolah-olah aku tidak ada, dan aku akan patah hati. "
" Inilah seorang pecinta sejati." Kata Sang Burung Bulbul. " Setiap aku bernyanyi, ia menderita, dan setiap kegembiraanku adalah kepedihannya. Aku yakin Cinta adalah hal yang indah. Cinta lebih berharga dibandingkan jamrud, dan lebih bernillai dari batu opal yang terbaik. Mutiara dan buah delima tidak bisa ditukar dengan cinta, di pasar manapun cinta tidak dapat dijual, pun tidak dapat dibeli dari pedagang, tidak dapat ditimbang ataupun ditukar dengan emas.
" Para musisi akan duduk dipanggung," kata Sang Pelajar belia, " dan memetik senar gitar mereka, lalu cintaku akan menari mengikuti irama petikan harpa dan gesekan biola. Ia akan berdansa dengan ringannya, dan bagi yang menyaksikan, seakan-akan kakinya tidak menyentuh lantai. Dan para pria-pria dengan setelan abu-abu yang sama akan berebut berdansa dengannya. Namun cintaku tak akan berdansa denganku karena aku tidak memiliki bunga mawar merah untuknya"; Ia pun terkulai lemas diatas rumput, membenamkan wajahnya dalam kedua tangannya dan menangis.
" Mengapa ia menangis?" tanya Kadal Hijau kecil yang berlari cepat dengan buntut mencuat keatas dan lekas-lekas melewati pelajar tersebut.
" Iya, kenapa ya ia menangis?" tanya si Kupu-Kupu yang mengibas-ibaskan sayapnya dibawah sinar mentari.
" Iya, kenapa ya kira-kira?" Bisik Bunga Aster pada tetangganya dengan nada yang lembut dan perlahan.
" Ia menangis karena menginginkan mawar merah," jawab Sang Burung Bulbul.
" Mawar merah?" sahut mereka bersama; " aduh, betapa menggelikannya!" dan si Kadal Kecil yang mempunyai pembawaan sinis pun tertawa terbahak-bahak.
Namun Sang Burung Bulbul mengerti rahasia duka Si Pelajar muda, ia pun duduk diam di atas dahan Pohon Ek dan berpikir tentang misteri Cinta.
Tiba-tiba ia membentangkan sayap-sayap coklatnya dan meluncur diudara. Ia terbang melewati taman, dan seringan bayangan ia mengudara melintasi kebun.
Ditengah bukit-bukit rumput terdapat Pohon Mawar yang cantik, dan ketika Sang Burung Bulbul melihatnya iapun segera menghampiri seraya berkata,
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Mawarku berwarna putih," jawabnya; " seputih buih ombak dilautan, dan lebih putih dari salju di puncak Gunung Himalaya. Tetapi pergilah pada saudaraku yang tumbuh didekat si jam matahari tua, dan mungkin ia dapat memberi apa yang kau inginkan.
Maka Sang Burung Bulbulpun terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh disekitar jam matahari tua.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna kuning," jawabnya; " sekuning rambut perawan kerajaan Inggris yang duduk diatas tahta batu amber, dan lebih kuning dari bunga narsisus yang mekar di padang rumput tepat sebelum pemotong rumput datang dengan sabit besarnya. Namun pergilah pada saudaraku yang tumbuh di bawah jendela seorang pelajar muda, dan barangkali ia akan memberimu apa yang kamu inginkan."
Maka Sang Burung Bulbul terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh di bawah jendela si pelajar muda.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna merah," jawabnya, " semerah kaki-kaki merpati, dan lebih merah dari karang-karang yang melambai lambai diterpa gelombang di dalam gua-laut. Tetapi musim dingin telah menghambat pembuluh darahku, es telah menjepit tunas-tunasku, dan badai telah merusak ranting-rantingku, sehingga aku tidak akan mampu menumbuhkan satupun bunga mawar tahun ini."
" Hanya sekuntum bunga mawar merah yang kupinta," jerit Sang Burung Bulbul, " hanya sekuntum bunga mawar merah! Apakah tidak ada cara lain agar aku bisa mendapatkannya?"
" Ada satu cara," jawab Pohon Mawar; " tetapi cara tersebut sangat mengerikan dan aku tidak berani meceritakannya padamu."
" Ceritakan padaku," jawab Sang Burung Bulbul, " Aku tidak takut."
" Jika kamu menginginkan sekuntum bunga mawar merah," kata Pohon Mawar, " kamu harus membuatnya dari musik yang diterpa oleh sinar rembulan, dan dialiri oleh darah dari jantungmu sendiri. Semalam suntuk kau harus bernyanyi padaku dengan duriku yang menusuk menembus jantungmu, dan darahmu, yang menopang hidupmu, harus dialirkan pada pembuluh darahku, sehingga darah itu menjadi milikku."
"Kematian adalah harga yang sangat mahal sebagai bayaran untuk sekuntum bunga mawar," seru Sang Burung Bulbul, " karena seluruh mahluk mendambakan untuk Hidup. Bayangkan betapa menyenangkannya duduk di kayu yang hijau, dan untuk mengamati Matahari dalam kereta emasnya, dan Bulan dalam kereta mutiaranya. Menikmati harumnya tanghulu, dan harumnya bunga lonceng biru yang tersembunyi dalam lembah, dan hembusan angin dari bukit yang membawa semerbak harum bunga-bunga yang tumbuh diantara semak. Namun Cinta jauh lebih berharga dari kehidupan, dan apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?"
Dan Sang Burung Bulbulpun menebarkan sayap-sayap coklatnya dan terbang membumbung tinggi ke udara. Bayangnya menyelinap diantara semak-semak, layaknya perahu yang berlayar diatas pepohonan.
Sang Pelajar muda masih berbaring terdiam diatas rumput yang sama saat ia tinggalkan, dan airmata masih menggenangi matanya yang indah.
" Berbahagialah," seru Sang Burung Bulbul, " berbahagialah karena engkau akan memperoleh bunga mawar merah yang kau dambakan. Aku akan membuatnya dari lagu cinta yang dinyanyikan dibawah sinar rembulan, dan mewarnainya dengan darah yang mengalir dari jantungku sendiri. Sebagai gantinya aku memintamu untuk menjadi pecinta sejati, karena Cinta lebih bijaksana daripada Filsafat, walaupun Filsafat itu bijak, Cinta itu lebih kuat daripada Kekuasaan, walaupun Kekuasaan itu kuat. Sayap-sayap cinta berwarna merah api, dan tubuhnya berkobar layaknya nyala api. Bibirnya semanis madu, dan nafasnya seharum rempah-rempah."
Sang Pelajar muda memandangnya dari atas rumput dan mendengarkan, namun ia tidak mengerti apa yang Burung Bulbul katakan kepadanya, karena semua yang ia ketahui hanya hal-hal yang ditulis di buku.
Tetapi sang Pohon Ek mengerti dan ia menjadi sedih karena ia sangat senang dengan Sang Burung Bulbul kecil yang telah membangun sarang diatas cabangnya.
" Bernyanyilah untukku untuk yang terakhir kalinya," bisik Pohon Ek, " Aku akan merasa sangat kesepian tanpa mu."
Burung Bulbulpun bernyanyi untuk Pohon Ek dan suaranya bergetar sedih layaknya gelembung-gelembung air yang mendidih dari dalam panci perak. Ketika ia telah selesai bernyanyi Sang Pelajar muda bangun, menarik buku catatan kecil dan sebatang pensil keluar dari sakunya.
" Ia mempunyai sebentuk kreasi..." kata Sang Pelajar muda pada dirinya, seraya berjalan keluar melintasi kebun-- "yang menjadi bagian dari dirinya; tapi apakah burung itu memiliki perasaan? Kukira tidak. Bahkan pada kenyataannya, ia seperti seniman-seniman kebanyakan yang mengutamakan gaya; tanpa ketulusan. Burung itu tidak akan mengorbankan dirinya untuk mahluk lainnya. Yang ia pentingkan hanya musik, dan semua orang tahu bahwa seni itu egois. Meski demikian, harus diakui bahwa ia memiliki nada-nada yang indah ketika bernyanyi. Sayang sekali bahwa nada-nada tersebut tidak memiliki arti, dan tidak berguna." Sang Pelajar pun masuk kedalam kamarnya, berbaring diatas ranjang lipatnya yang kecil, dan mulai berpikir tentang cintanya; lalu setelah beberapa waktu, iapun tertidur.
Dan ketika cahaya bulan mulai berpendar di langit Sang Burung Bulbul terbang menghampiri Pohon Mawar dan menekankan dadanya pada duri pohon. Semalam suntuk ia menyanyi dan menghujamkan dadanya pada duri, bulan yang serupa kristal dingin pun mulai merunduk dan mendengarkan. Semalam suntuk ia bernyanyi dan duri pohonpun mulai menusuk dalam dan lebih dalam lagi menembus dadanya sehingga darah nadi kehidupannya mulai mengalir surut menjauhinya.
Ia membuka nyanyiannya dengan membawakan lagu tentang kelahiran cinta dihati seorang anak lelaki dan anak perempuan. Dan pada tunas pohon bunga mawar muncullah kuntum bunga yang menakjubkan diikuti helai demi helai yang tumbuh seiring lagu demi lagu dinyanyikan.
Pucat pada awalnya, sepucat kabut yang menggantung di sungai-- pucat, sepucat kaki-kaki pagi hari, dan seperak sayap-sayap subuh.
Laksana bayangan mawar di permukaan kaca, laksana bayangan mawar di permukaan telaga, begitulah bentuk mula dari bunga yang tumbuh pada tunas pohon tersebut.
Namun Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah langsung dari jantung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. " Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah dari jantung langsung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Sang Burung Bulbulpun menghujamkan dadanya lebih dalam lagi sehingga duri menusuk lebih dalam dan menyentuh jantungnya, dan tiba-tiba sakit yang amat sangat menyengat keseluruh tubuhnya. Pahit, dan semakin pahit sakitnya, dan semakin gelap lagu yang ia nyanyikan , karena ia menyanyikan Cinta yang disempurnakan oleh Kematian, tentang cinta yang tidak mati dalam batu nisan.
Dan bunga mawar yang indah itu memerah, semerah mawar dari langit timur. Merah darah melekat di helai bunganya, dan merah delima warna jantung bunganya.
Namun suara Burung Bulbul menjadi semakin lemah, dan sayap-sayap kecilnya mulai berkepak-kepak, dan selaput matanya mulai menutup. Lemah dan semakin lemah bunyi lagunya, dan ia merasa sesuatu mencekik dan menyumbat kerongkongannya.
Lalu ia menyanyikan semburat lagu terakhirnya. Sang rembulan yang putih mendengarnya dan ia diam di langit, melupakan matahari yang harus terbit. Sang Bunga Mawar mendengarnya, dan bunga pun menggigil, bergetar penuh kenikmatan, dan membuka helai-helai kelopak bunganya pada dinginnya dini hari. Nyanyian Sang Burung Bulbul dibawa gema kedalam relung-relung gua yang pekat diatas bukit, dan membangunkan gembala-gembala dari mimpi mereka. Nyanyian Sang Burung Bulbul melayang melalui alang-alang ditempi sungai, dan mereka membawa pesannya jauh ke laut.
" Lihat, lihatlah!" seru Sang Pohon, " bunga mawarnya telah mekar dengan sempurna"; tetapi Sang Burung Bulbul tidak menjawab, karena ia telah terbaring mati diantara rerumputan yang tumbuh tinggi, dengan duri tertancap di jantungnya.
Pada siang hari saat Sang Pelajar membuka jendelanya dan melihat keluar. " Oh, betapa beruntungnya saya!" serunya; " sekuntum bunga mawar merah! Seumur hidup aku tak pernah melihat mawar seindah ini. Bunga mawar ini begitu cantik, aku yakin ia memiliki nama latin yang panjang."; Ia pun merunduk dan memetik bunga mawar tersebut.
Lalu ia kenakan topinya, dan berlari menuju rumah Sang Profesor dengan sekuntum bunga mawar di tangannya.
Putri sang profesor sedang duduk didepan pintu membalik-balik sehelai sutra biru dari gulungannya, sementara anjing kecilnya berbaring diatas kakinya.
" Engkau berkata bahwa kau akan berdansa denganku apabila aku membawakanmu sekuntum mawar merah," seru Sang Pelajar. "Ini sekuntum mawar yang paling merah yang pernah ada di muka bumi. Kau dapat menyematkannya didekat hatimu, dan saat kita berdansa bersama, mawar ini akan menyatakan betapa aku mencintaimu."
Tetapi putri profesor mengernyitkan keningnya.
" Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan," jawabnya; " lagipula, keponakan Anggota Dewan Kota telah memberiku perhiasan yang mahal , dan jauh lebih berharga daripada sekuntum bunga."
" Oh, kau sungguh seseorang yang tak tahu berterimakasih," seru Sang Pelajar dengan marah; dan ia melempar bunga mawar tersebut ke jalan, Sang Bunga jatuh bergulir masuk ke dalam kumbangan di jalan, dan digilas oleh kereta kuda yang lewat.
" Tidak tahu terimakasih! " seru putri sang profesor," Dengarkan ya, menurutku prilakumu itu tidak pantas; lagipula, kau pikir kau itu siapa? Hanya seorang Pelajar. Lihatlah, apakah kau memiliki sabuk perak disepatumu seperti yang dikenakan keponakan Anggota Dewan Kota? Kukira tidak. " Dan iapun berdiri meninggalkan kursinya lalu masuk ke dalam rumah.
" Ah betapa konyolnya Cinta itu " kata Sang Pelajar saat ia melangkah pergi," Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan Cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, Cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, dijaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada Filsafat dan mempelajari Metafisika."
Maka ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah buku besar penuh debu dari lemari bukunya dan mulai membaca...

“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”  - Khalil Gibran


Sumber : http://id.wikisource.org

Selasa, 19 Maret 2013

Jayaprana dan Layonsari, sang pengantin yang malang



Jaman dahulu kala, di desa Kalianget, sebuah desa kecil dipulau Bali, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Mereka hidup damai dan bahagia. Namun, suatu waktu, ada wabah penyakit datang menimpa masyarakat desa itu. Empat orang dari keluarga tersebut meninggal dunia secara bersamaan. Tinggalah si bungsu yang bernama I Jayaprana hidup sebatang kara. Karena ia tak memiliki siapapun lagi, ia pun memberanikan diri pergi ke istana raja. Pemuda remaja itu bertekad ingin mengabdi kepada Raja.

Jayaprana berwajah sangat tampan, ganteng dan murah senyum. Ia juga sangat rajin, sehingga Raja amat sayang padanya. 

Waktupun berlalu. Jayaprana telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Raja berkata kepada Jayaprana untuk segera mencari jodoh. Tapi, Jayaprana merasa masih terlalu muda, ia pun menolak. 

Suatu hari Jayaprana berjalan-jalan ke pasar, siapa tahu ia bertemu dengan seorang gadis yang cocok untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Harapannya pun terwujud. Di sana ia melihat seorang dara jelita yang sedang berjalan hendak berbelanja. Jayaprana terpikat hatinya. Ia membuntuti gadis itu. Gadis itu bernama Ni Layonsari, puteri Jero Bendesa dari desa Banjar Sekar.

Jayaprana kembali ke istana dengan hati yang berbunga-bunga karena cinta. Ia menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis kepada Baginda Raja. Raja kemudian menulis sepucuk surat ke Jero Bendesa yang berisi tentang lamaran untuk Ni Layonsari. Jayaprana sendiri yang mengantarkannya.

“ Di dasar relung jiwaku bergema nyanyian tanpa kata; sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku, yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ; ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg tipis kainnya, dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.”  ( Khalil Gibran )

Jero Bendesa merasa bahagia setelah membaca surat dari Raja. Puterinya dilamar orang, terlebih  Sang Raja sendiri yang menulis surat kepadanya. Hatinya merasa tersanjung. Ia membujuk puterinya untuk menerima pinangan Jayaprana. Tentu saja Layonsari langsung menerima dengan gembira, karena gadis desa itu telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Jayaprana. 

Raja mengumumkan bahwa pada hari Selasa Legi wuku Kuningan akan diselenggarakan upacara pernikahan I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Raja memerintahkan kepada semua penghuni istana untuk bergotong royong mempersiapkan semua keperluan dan kelengkapan pesta. Semua orang membantu dengan senang hati. Akhirnya, Jayaprana, sang pemuda idaman para gadis telah menemukan jodohnya. 

“ Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam? Siapa yang berani membandingkan deru alam, dengan desah bayi yang nyenyak di buaian? Siapa berani memecah sunyi dan lantang menuturkan bisikan sanubari yang hanya terungkap oleh hati?”
( Khalil Gibran )
 
Upacara pernikahan berlangsung khidmat di kediaman keluarga Jero Bendesa. Semua penduduk desa datang ke pesta dan mengucapkan turut berbahagia kepada kedua mempelai. Raja pun datang mendampingi Jayaprana. Layonsari mengahturkan sembah kepada Baginda Raja dan memohon do’a restu. Tapi, di luar dugaan semua orang, Sang Raja jatuh cinta kepada kecantikan Sang Pengantin wanita. Kisah cinta pun berlanjut menjadi cinta segitiga. 

“ Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa  dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.” ( Khalil Gibran )

Pesta telah usai dan Raja kembali ke istana diiringi para pengawal. Ia tidak bisa melupakan wajah rupawan Layonsari. Ia terus memikirkannya. Ia ingin sekali memiliki Layonsari, padahal telah memiliki belasan selir cantik di istana. 
gambar diambil dari www.homeinbali.com

“ Mempesonanya kamu
Menyungging senyummu
Menghiasi raut wajahmu
Mendiamkan detak jantungku
Mataku jadi pencuri senyummu
Yang menghantam jantungku
Bingung tak menentu
Dengan kehadiranmu
Mungkinkah menerimaku
Kutakut kehilanganmu
Bila kau tahu perasaanku
Yang jatuh cinta padamu “
( Khalil Gibran )

Hari demi hari Raja terus memikirkan cara untuk memiliki Layonsari. Entah bisikan setan apa ia pun akhirnya memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk melenyapkan Jayaprana, pemuda pegawai istana kesayangannya. Atas nasehat dari I Saunggaling, Raja memerintahkan Jayaprana bersama rombongan untuk menyelidiki terjadinya huru-hara di Celuk Terima yang dilakukan oleh orang-orang Bajo, sebuah perahu hancur dan binatang-binatang dibunuh. 

Baru seminggu sepasang pengantin itu merasakan nikmatnya memadu kasih, datanglah utusan Raja meminta Jayaprana datang ke paseban. Jayaprana pergi memenuhi panggilan tugas.

Jayaprana beserta rombongan tiba di Celuk Terima untuk membereskan dan menghentikan huru-hara yang terjadi disana. I Saunggaling menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Jayaprana membaca surat dari Raja yang berbunyi :

“ Hai Jayaprana, manusia tidak berguna, berjalanlah engkau. Akulah yang menyuruh membunuhmu. Dosamu sangat besar. Engkau melampaui tingkah Raja. Isterimu sungguh milikku. Kuambil kujadikan isteri. Serahkan jiwamu sekarang. Jangan melawan. Layonsari jangan kaukenang lagi. Kuperisteri hingga akhir jaman. “

Jayaprana terkejut hampir tak percaya. Raja tega hendak membunuhnya. Sedih tak terkira. Tapi ia tak berdaya. Tak bisa melawan. Dan Saunggaling menikamkan keris ke perutnya. Jayaprana tewas seketika. Angin topan dan hujan menghantam bumi seolah marah.

Berita duka sampai ke telinga Layonsari.  Wanita muda itu tak kuat hidup tanpa suaminya. Ia lalu menghunuskan belati ke tubuhnya.

Kisah cinta pasangan pengantin baru itu berakhir tragis.

Senin, 04 Februari 2013

Romeo dan Juliet, kisah cinta nan tragis



"Cinta adalah satu-satunya bunga yang dapat tumbuh dan berbunga tanpa bantuan musim"             - Khalil Gibran



Di kediaman keluarga Lord Montague yang megah dan mewah, Bonvalio merasa khawatir ketika ia melihat sepupu sekaligus sahabatnya Romeo tampak murung. Ia pun berusaha untuk berbicara dengan pemuda yang lagi gundah gulana itu. Setelah  berbincang-bincang akhirnya Bonvalio mengetahui bahwa Romeo sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, Rosaline, keponakan Lord Capulet.
Keluarga Capulet selalu berseteru dengan keluarga Montague. Penduduk Verona dan pemimpin wilayah setempat sudah mengetahui hal ini dan tak ada yang dapat melerai perselisihan mereka.

Lukisan karya Francesco Hayez
Suatu hari diadakan pesta dansa di rumah besar keluarga Lord Capulet. Mercutio, keponakan Lord Capulet, adalah sahabat Romeo dan Bonvalio. Mercutio dan Bonvalio memaksa Romeo untuk datang ke pesta tersebut secara diam-diam. Romeo akhirnya bersedia pergi ke pesta tersebut dengan berharap ia bisa bertemu dengan wanita yang telah membuatnya tergila-gila, Rosaline. Namun di pesta tersebut Romeo melihat seorang gadis muda jelita. Ia pun terpesona oleh kecantikannya. Romeo lalu berkenalan dengannya. Romeo dan gadis itu berdansa bersama. Gadis itu adalah Juliet, puteri Lord Capulet. Juliet pun jatuh hati dengan pemuda itu.
 

" Itulah benih yang ditaburkan oleh Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang tinggi. Mata mereka menaburkan benih di dalam ladang hati, perasaan memeliharanya, dan jiwa membawanya kepada buah-buahan." - Khalil Gibran


Setelah perkenalan di pesta tersebut, sepasang muda-mudi itu sering bertemu diam-diam. Mencuri-curi kesempatan untuk berkencan. Mereka tidak peduli dengan larangan dari keluarga mereka. Mereka tidak peduli pada kenyataan kedua keluarga mereka bermusuhan.
 
“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” - Khalil Gibran


Di tengah hiruk pikuk pertempuran dua keluarga, Romeo dan Juliet menjalin cinta. Cinta yang terlarang. Tentu saja banyak sekali rintangan yang harus mereka lalui. Lord dan Lady Capulet telah menjodohkan Juliet dengan Pangeran Paris, seorang pangeran tertampan di Perancis
 

Romeo dan Juliet tidak menyerah. Pastor Friar Laurence membantu mewujudkan cinta mereka kedalam ikatan pernikahan diam-diam. Pernikahan ini diharapkan dapat meredam permusuhan yang selama ini tidak dapat diselesaikan. Dan sang Pastor menyarankan Juliet untuk berpura-pura menerima perjodohan yang diatur keluarganya. 
 

" Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta adalah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya." - Khalil Gibran


Meskipun Romeo dan Juliet telah bersatu dalam ikatan suami isteri, perjalanan cinta mereka tidaklah mulus. Tybalt, sepupu Juliet, menantang Romeo berkelahi, namun ditolak. Mercutio merasa tersinggung dengan sikap Tybalt, dan mengajaknya bertarung atas nama Romeo. Mercutio terluka parah, dan hampir mati. Sehingga Romeo terpaksa membunuh Tybalt. Hal ini membuat Pangeran Verona menghukum dan mengusir Romeo dari Verona..



“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” - Khalil Gibran


Lukisan karya Frank Bernard Dicksee
Lord Capulet melihat kesedihan Juliet dan memaksa puterinya itu untuk menikahi Pangeran Paris. Juliet mendatangi Friar Laurence untuk meminta pertolongan. Akhirnya pastor itu meracik sejenis ramuan yang akan membuat Juliet koma seperti orang mati. Juliet meminum ramuan tersebut dan mengalami koma pada hari pernikahannya dengan Pangeran Paris.Juliet dikabarkan meninggal.

Friar Laurence memberi pesan kepada Romeo, agar dapat menjemput Juliet, setelah ia terbangun. Namun, apa yang terjadi di luar perkiraan sang pastor. Pesan itu tidak sampai ke Romeo, ia malah mendapat kabar jika Juliet telah meninggal akibat meminum racun. Romeo kemudian mendapati Juliet dalam peti mati di sebuah ruangan gereja. Romeo patah hati dan bunuh diri.
 

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…” -Khalil Gibran


Juliet terbangun dan sangat terkejut, mendapati Romeo meninggal di sisinya dengan belati tertancap di perutnya. Juliet tak sanggup hidup tanpa Romeo. Ia akhirnya mengambil belati dari perut Romeo dan menancapkan ke perutnya. Akhirnya kedua sejoli itu mati bersama.



“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang” - Khalil Gibran



Berita kematian sepasang kekasih ini menggemparkan kota Verona. Keluarga Capulet dan keluarga Montague terguncang mendapati putera dan puteri yang dicintai telah meninggal dunia. Setelah mendengar penuturan dari Friar Laurence kedua keluarga yang selalu berseteru itu mengakhiri permusuhan diantara mereka.