Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 April 2017

Papatong

pic. courtesy of freeimages.com


Dalam perjalanan ke kota asalkuTasikmalaya, saya mendengar sebuah lagu Sunda yang ditayangkan di layar Televisi bis First Class Budiman jurusan Tasik – Bekasi. Lagu tersebut berjudul 'Papatong', yang dipopulerkan oleh seniman Sunda, Bah Dadeng, saya gak tahu persis siapa sang pencipta lagu. Selain enak didengar dan bikin relaks, lirik lagu ini penuh filosopi, sarat dengan makna kehidupan manusia, tentang waktu hidup dan saatnya kematian. Hidup manusia seperti Papatong  (capung/dragonfly).


Beurang maju ka lohor
Papatong nu koneng entreup na regang
Ngageuter jangjangna keur ngagupayan
Pancen keur wasiatan

Sore mengkok ka asar
Papatong nu koneng hibeur teu luhur
Ngalayang ngawahan arek pamitan
Omat tong kajongjonan

Papatong nu koneng teu tembong deui
Leungit indit teu pamit
Papatong nu koneng teu tembong deui
Tileum bewara baturna

Prak reureuh tina ka riweuh
Prak pasrah kanu kawasa
Prak reureuh tina ka riweuh
Prak pasrah kanu kawasa

Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia :

Siang menuju Dzuhur
Capung yang berwarna kuning hinggap di ranting
Bergetar sayapnya melambai-lambai
Memberi pesan

Sore mendekati Ashar
Capung yang berwarna kuning terbang tidak tinggi
Melayang mengambil ancang-ancang
Janganlah terlena

Capung yang berwarna kuning tidak tampak lagi
Menghilang tanpa pamit
Capung yang berwarna kuning tidak tampak lagi
Menghilang tanpa kabar

Berhentilah dari kesibukan
Berpasrah pada Yang Maha Kuasa
Berhentilah dari kesibukan
Berpasrah pada Yang Maha Kuasa

Maknanya kira-kira sepeti ini : 

Beurang maju ka lohor
Papatong nu koneng entreup na regang
Ngageuter jangjangna keur ngagupayan
Pancen keur wasiatan
( Usia dewasa, manusia dengan segala kesibukannya mengikuti irama kehidupan, sibuk menemukan identitas diri, sibuk unjuk gigi pada dunia, sibuk mengejar mimpi.)


Sore mengkok ka asar
Papatong nu koneng hibeur teu luhur
Ngalayang ngawahan arek pamitan
Omat tong kajongjonan
(Memasuki usia senja, manusia  mulai mengurangi aktifitas, badan mulai lemah dan sakit-sakitan. Saat ini, jangan lagi terlena dengan urusan duniawi.)

Papatong nu koneng teu tembong deui
Leungit indit teu pamit
Papatong nu koneng teu tembong deui
Tileum bewara baturna
( Saat kematian pun tiba. Menghilang dari kehidupan. Tamatlah riwayat.)

Prak reureuh tina ka riweuh
Prak pasrah kanu kawasa
Prak reureuh tina ka riweuh
Prak pasrah kanu kawasa
( Berhentilah sejenak dari segala aktifitas duniawi. Mendekatlah kepada Yang Maha Kuasa.)

Sabtu, 28 April 2012

The Other Lady Diana

The First Lady Diana Spencer ( 1710 – 1735 )

Ini cerita tentang seorang wanita bernama Lady Diana Spencer, tinggi dan cantik, menyukai seni dan musik, dihormati oleh para aristokrat muda, disukai dan selalu dikenang orang, dan bernasib tragis meninggal di usia muda.


Tapi ini adalah Lady Diana yang lain dengan yang kita kenal saat ini, dia adalah Lady Diana yang hidup pada awal abad 18 ( 1710 – 1735 ), sekitar 300 tahun yang lalu. Lahir di London, anak perempuan dari Countess of Sunderland. Dia dibesarkan di lingkungan aristokrat dan memiliki minat di bidang seni dan musik. Menikah dengan Lord John Russell ( kemudian mereka bergelar Duke of Bedford dan Duchess of Bedford ) pada usia 21 tahun.  Lady Diana sangat menarik dan cantik. Seperti halnya Lady Diana  ( 1961 – 1997) yang kita kenal saat ini, kematiannya di usia muda menimbulkan duka cita yang teramat dalam bagi semua orang.

Setelah kematian ibunya saat berusia 6 tahun Diana dibesarkan oleh neneknya, Sarah, the Duchess of Malborough. Sang Duchess adalah figure yang sangat terkenal, sangat kaya, memiliki kekuasaan politik  dan suka berbicara terang-terangan. Diana tumbuh dalam bayang-bayangnya, karena itu, Sarah sangat mempengaruhi karakternya.  Diana meninggalkan sebuah enigma: digambarkan sebagai seorang yang ramah, murah hati dan dermawan oleh sebagian orang dan sombong, bermuka dua oleh sebagian yang lainnya.


The Second Lady Diana Spencer  ( 1734 – 1808 )

Lady Diana Beauclerk ( 1734 – 1808 ) terlahir dengan nama Lady Diana Spencer  anak pertama Duke of Marlborough III.  Dia adalah keponakan dari Lady Diana Spencer yang pertama  ( 1710 – 1735 ). Dia tumbuh di keluarga bangsawan dan dikelilingi oleh lingkungan kerajaan. Sebagai wanita bangsawan dia bergelar Lady of the Bedchamber untuk Ratu Charlotte.  Suami pertamanya, Viscount Bolingbroke, terkenal dengan ketidaksetiaannya pada perkawinan. Diana sendiri memiliki affair dengan pria lain, dan memiliki seorang anak di luar nikah. Perceraian terjadi tahun 1768. Diana kemudian menikah dengan kekasihnya,Topham Beauclerk.


Diana diharapkan untuk meneruskan tradisi keluarganya, dididik untuk berpakaian baik, dan menikah dengan seorang pria yang sesuai untuk anak seorang Duke.

Topham Beauclerk bergaul dengan banyak artis dan sastrawan seperti Joshua Reynolds dan Samuel Johnson. Diana adalah seorang nyonya rumah yang ramah dan jenaka, dan dia juga seorang artis berbakat, seorang desainer terkenal dan illustrator buku. Hasil karya seninya tidak mendapat perhatian publik dikarenakan skandal cinta yang dia perbuat.




Reference : www.amazon.com
                  www.copperwitch.blogspot.com