Rabu, 24 April 2013

Burung Bulbul dan Bunga Mawar



Karya : Oscar Wilde

" Dia berkata bahwa dia hanya akan menari denganku jika aku membawakannya bunga mawar merah," jerit Sang Pelajar belia; "tetapi di kebunku tidak ada satupun bunga mawar berwarna merah."
Dari dalam lubang di pohon ek, Burung Bulbul mendengar kesulitan sang pelajar, dan dia memeriksa diantara daun-daun, dan berpikir.
" Tidak ada bunga mawar merah di seluruh kebun!" jerit Sang Pelajar lagi, dan mata indahnya penuh dengan air mata. " Ah, bagaimana kebahagiaan banyak bergantung dari hal-hal kecil. Aku sudah membaca semua tulisan orang-orang yang bijaksana, dan rahasia-rahasia filsafat telah ada dalam genggamanku, namun hanya karena kurang sekuntum bunga mawar merah hidupku menjadi berantakan."


" Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati," kata Sang Burung Bulbul.
" Malam demi malam aku telah menyanyikan tentang seorang kekasih sejati, meskipun demikian aku tidak mengenalnya; malam demi malam aku bercerita pada bintang-bintang tentang kekasih sejati, dan sekarang aku bisa melihatnya. Rambutnya sepekat bunga yacinta dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; namun keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan duka cita telah bertengger di keningnya."
" Pangeran akan menyelenggarakan pesta besok," gumam Sang Pelajar belia, " dan kekasihku akan ada disana. Jika aku membawakannya bunga mawar merah ia akan menari denganku hingga dinihari. Jika aku membawakannya bunga mawar merah, ia akan berada dalam pelukanku, dan dia akan menyandarkan kepalanya diatas bahuku, dan aku akan menggengam tangannya. Tetapi tidak ada bunga mawar merah dalam kebunku, maka aku akan duduk dalam kesepian, dan dia akan melewati aku seolah-olah aku tidak ada, dan aku akan patah hati. "
" Inilah seorang pecinta sejati." Kata Sang Burung Bulbul. " Setiap aku bernyanyi, ia menderita, dan setiap kegembiraanku adalah kepedihannya. Aku yakin Cinta adalah hal yang indah. Cinta lebih berharga dibandingkan jamrud, dan lebih bernillai dari batu opal yang terbaik. Mutiara dan buah delima tidak bisa ditukar dengan cinta, di pasar manapun cinta tidak dapat dijual, pun tidak dapat dibeli dari pedagang, tidak dapat ditimbang ataupun ditukar dengan emas.
" Para musisi akan duduk dipanggung," kata Sang Pelajar belia, " dan memetik senar gitar mereka, lalu cintaku akan menari mengikuti irama petikan harpa dan gesekan biola. Ia akan berdansa dengan ringannya, dan bagi yang menyaksikan, seakan-akan kakinya tidak menyentuh lantai. Dan para pria-pria dengan setelan abu-abu yang sama akan berebut berdansa dengannya. Namun cintaku tak akan berdansa denganku karena aku tidak memiliki bunga mawar merah untuknya"; Ia pun terkulai lemas diatas rumput, membenamkan wajahnya dalam kedua tangannya dan menangis.
" Mengapa ia menangis?" tanya Kadal Hijau kecil yang berlari cepat dengan buntut mencuat keatas dan lekas-lekas melewati pelajar tersebut.
" Iya, kenapa ya ia menangis?" tanya si Kupu-Kupu yang mengibas-ibaskan sayapnya dibawah sinar mentari.
" Iya, kenapa ya kira-kira?" Bisik Bunga Aster pada tetangganya dengan nada yang lembut dan perlahan.
" Ia menangis karena menginginkan mawar merah," jawab Sang Burung Bulbul.
" Mawar merah?" sahut mereka bersama; " aduh, betapa menggelikannya!" dan si Kadal Kecil yang mempunyai pembawaan sinis pun tertawa terbahak-bahak.
Namun Sang Burung Bulbul mengerti rahasia duka Si Pelajar muda, ia pun duduk diam di atas dahan Pohon Ek dan berpikir tentang misteri Cinta.
Tiba-tiba ia membentangkan sayap-sayap coklatnya dan meluncur diudara. Ia terbang melewati taman, dan seringan bayangan ia mengudara melintasi kebun.
Ditengah bukit-bukit rumput terdapat Pohon Mawar yang cantik, dan ketika Sang Burung Bulbul melihatnya iapun segera menghampiri seraya berkata,
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Mawarku berwarna putih," jawabnya; " seputih buih ombak dilautan, dan lebih putih dari salju di puncak Gunung Himalaya. Tetapi pergilah pada saudaraku yang tumbuh didekat si jam matahari tua, dan mungkin ia dapat memberi apa yang kau inginkan.
Maka Sang Burung Bulbulpun terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh disekitar jam matahari tua.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna kuning," jawabnya; " sekuning rambut perawan kerajaan Inggris yang duduk diatas tahta batu amber, dan lebih kuning dari bunga narsisus yang mekar di padang rumput tepat sebelum pemotong rumput datang dengan sabit besarnya. Namun pergilah pada saudaraku yang tumbuh di bawah jendela seorang pelajar muda, dan barangkali ia akan memberimu apa yang kamu inginkan."
Maka Sang Burung Bulbul terbang menuju Pohon Mawar yang tumbuh di bawah jendela si pelajar muda.
" Berikan aku sekuntum bunga mawar merah," pintanya, "dan aku akan bernyanyi lagu yang paling merdu untukmu."
Namun Pohon Mawar menggelengkan kepalanya.
" Bunga mawarku berwarna merah," jawabnya, " semerah kaki-kaki merpati, dan lebih merah dari karang-karang yang melambai lambai diterpa gelombang di dalam gua-laut. Tetapi musim dingin telah menghambat pembuluh darahku, es telah menjepit tunas-tunasku, dan badai telah merusak ranting-rantingku, sehingga aku tidak akan mampu menumbuhkan satupun bunga mawar tahun ini."
" Hanya sekuntum bunga mawar merah yang kupinta," jerit Sang Burung Bulbul, " hanya sekuntum bunga mawar merah! Apakah tidak ada cara lain agar aku bisa mendapatkannya?"
" Ada satu cara," jawab Pohon Mawar; " tetapi cara tersebut sangat mengerikan dan aku tidak berani meceritakannya padamu."
" Ceritakan padaku," jawab Sang Burung Bulbul, " Aku tidak takut."
" Jika kamu menginginkan sekuntum bunga mawar merah," kata Pohon Mawar, " kamu harus membuatnya dari musik yang diterpa oleh sinar rembulan, dan dialiri oleh darah dari jantungmu sendiri. Semalam suntuk kau harus bernyanyi padaku dengan duriku yang menusuk menembus jantungmu, dan darahmu, yang menopang hidupmu, harus dialirkan pada pembuluh darahku, sehingga darah itu menjadi milikku."
"Kematian adalah harga yang sangat mahal sebagai bayaran untuk sekuntum bunga mawar," seru Sang Burung Bulbul, " karena seluruh mahluk mendambakan untuk Hidup. Bayangkan betapa menyenangkannya duduk di kayu yang hijau, dan untuk mengamati Matahari dalam kereta emasnya, dan Bulan dalam kereta mutiaranya. Menikmati harumnya tanghulu, dan harumnya bunga lonceng biru yang tersembunyi dalam lembah, dan hembusan angin dari bukit yang membawa semerbak harum bunga-bunga yang tumbuh diantara semak. Namun Cinta jauh lebih berharga dari kehidupan, dan apa artinya jantung seekor burung dibandingkan degup cinta seorang manusia?"
Dan Sang Burung Bulbulpun menebarkan sayap-sayap coklatnya dan terbang membumbung tinggi ke udara. Bayangnya menyelinap diantara semak-semak, layaknya perahu yang berlayar diatas pepohonan.
Sang Pelajar muda masih berbaring terdiam diatas rumput yang sama saat ia tinggalkan, dan airmata masih menggenangi matanya yang indah.
" Berbahagialah," seru Sang Burung Bulbul, " berbahagialah karena engkau akan memperoleh bunga mawar merah yang kau dambakan. Aku akan membuatnya dari lagu cinta yang dinyanyikan dibawah sinar rembulan, dan mewarnainya dengan darah yang mengalir dari jantungku sendiri. Sebagai gantinya aku memintamu untuk menjadi pecinta sejati, karena Cinta lebih bijaksana daripada Filsafat, walaupun Filsafat itu bijak, Cinta itu lebih kuat daripada Kekuasaan, walaupun Kekuasaan itu kuat. Sayap-sayap cinta berwarna merah api, dan tubuhnya berkobar layaknya nyala api. Bibirnya semanis madu, dan nafasnya seharum rempah-rempah."
Sang Pelajar muda memandangnya dari atas rumput dan mendengarkan, namun ia tidak mengerti apa yang Burung Bulbul katakan kepadanya, karena semua yang ia ketahui hanya hal-hal yang ditulis di buku.
Tetapi sang Pohon Ek mengerti dan ia menjadi sedih karena ia sangat senang dengan Sang Burung Bulbul kecil yang telah membangun sarang diatas cabangnya.
" Bernyanyilah untukku untuk yang terakhir kalinya," bisik Pohon Ek, " Aku akan merasa sangat kesepian tanpa mu."
Burung Bulbulpun bernyanyi untuk Pohon Ek dan suaranya bergetar sedih layaknya gelembung-gelembung air yang mendidih dari dalam panci perak. Ketika ia telah selesai bernyanyi Sang Pelajar muda bangun, menarik buku catatan kecil dan sebatang pensil keluar dari sakunya.
" Ia mempunyai sebentuk kreasi..." kata Sang Pelajar muda pada dirinya, seraya berjalan keluar melintasi kebun-- "yang menjadi bagian dari dirinya; tapi apakah burung itu memiliki perasaan? Kukira tidak. Bahkan pada kenyataannya, ia seperti seniman-seniman kebanyakan yang mengutamakan gaya; tanpa ketulusan. Burung itu tidak akan mengorbankan dirinya untuk mahluk lainnya. Yang ia pentingkan hanya musik, dan semua orang tahu bahwa seni itu egois. Meski demikian, harus diakui bahwa ia memiliki nada-nada yang indah ketika bernyanyi. Sayang sekali bahwa nada-nada tersebut tidak memiliki arti, dan tidak berguna." Sang Pelajar pun masuk kedalam kamarnya, berbaring diatas ranjang lipatnya yang kecil, dan mulai berpikir tentang cintanya; lalu setelah beberapa waktu, iapun tertidur.
Dan ketika cahaya bulan mulai berpendar di langit Sang Burung Bulbul terbang menghampiri Pohon Mawar dan menekankan dadanya pada duri pohon. Semalam suntuk ia menyanyi dan menghujamkan dadanya pada duri, bulan yang serupa kristal dingin pun mulai merunduk dan mendengarkan. Semalam suntuk ia bernyanyi dan duri pohonpun mulai menusuk dalam dan lebih dalam lagi menembus dadanya sehingga darah nadi kehidupannya mulai mengalir surut menjauhinya.
Ia membuka nyanyiannya dengan membawakan lagu tentang kelahiran cinta dihati seorang anak lelaki dan anak perempuan. Dan pada tunas pohon bunga mawar muncullah kuntum bunga yang menakjubkan diikuti helai demi helai yang tumbuh seiring lagu demi lagu dinyanyikan.
Pucat pada awalnya, sepucat kabut yang menggantung di sungai-- pucat, sepucat kaki-kaki pagi hari, dan seperak sayap-sayap subuh.
Laksana bayangan mawar di permukaan kaca, laksana bayangan mawar di permukaan telaga, begitulah bentuk mula dari bunga yang tumbuh pada tunas pohon tersebut.
Namun Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah langsung dari jantung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. " Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Maka Sang Burung Bulbul kecilpun menekankan dadanya lebih dalam lagi menghujam duri, dan nyanyiannya menjadi semakin nyaring, ia bernyanyi tentang lahirnya nafsu di jiwa seorang lelaki dan pelayan wanitanya. Dan semburat merah muda muncul pada helai bunga mawar, seperti semu kemerahan di pipi mempelai pria saat ia mencium bibir mempelai wanita. Namun sang duri belum juga mencapai jantungnya, sehingga jantung Sang Mawar tetap putih, karena hanya darah dari jantung langsung Burung Bulbul lah yang mampu memerahkan jantung Sang Bunga Mawar.
Dan Sang Pohon berteriak memohon pada Burung Bulbul untuk terus menghujamkan dadanya. "Terus tekan dadamu, hai burung kecil," jerit sang pohon, " Atau Hari akan datang sebelum bunga mawar selesai."
Sang Burung Bulbulpun menghujamkan dadanya lebih dalam lagi sehingga duri menusuk lebih dalam dan menyentuh jantungnya, dan tiba-tiba sakit yang amat sangat menyengat keseluruh tubuhnya. Pahit, dan semakin pahit sakitnya, dan semakin gelap lagu yang ia nyanyikan , karena ia menyanyikan Cinta yang disempurnakan oleh Kematian, tentang cinta yang tidak mati dalam batu nisan.
Dan bunga mawar yang indah itu memerah, semerah mawar dari langit timur. Merah darah melekat di helai bunganya, dan merah delima warna jantung bunganya.
Namun suara Burung Bulbul menjadi semakin lemah, dan sayap-sayap kecilnya mulai berkepak-kepak, dan selaput matanya mulai menutup. Lemah dan semakin lemah bunyi lagunya, dan ia merasa sesuatu mencekik dan menyumbat kerongkongannya.
Lalu ia menyanyikan semburat lagu terakhirnya. Sang rembulan yang putih mendengarnya dan ia diam di langit, melupakan matahari yang harus terbit. Sang Bunga Mawar mendengarnya, dan bunga pun menggigil, bergetar penuh kenikmatan, dan membuka helai-helai kelopak bunganya pada dinginnya dini hari. Nyanyian Sang Burung Bulbul dibawa gema kedalam relung-relung gua yang pekat diatas bukit, dan membangunkan gembala-gembala dari mimpi mereka. Nyanyian Sang Burung Bulbul melayang melalui alang-alang ditempi sungai, dan mereka membawa pesannya jauh ke laut.
" Lihat, lihatlah!" seru Sang Pohon, " bunga mawarnya telah mekar dengan sempurna"; tetapi Sang Burung Bulbul tidak menjawab, karena ia telah terbaring mati diantara rerumputan yang tumbuh tinggi, dengan duri tertancap di jantungnya.
Pada siang hari saat Sang Pelajar membuka jendelanya dan melihat keluar. " Oh, betapa beruntungnya saya!" serunya; " sekuntum bunga mawar merah! Seumur hidup aku tak pernah melihat mawar seindah ini. Bunga mawar ini begitu cantik, aku yakin ia memiliki nama latin yang panjang."; Ia pun merunduk dan memetik bunga mawar tersebut.
Lalu ia kenakan topinya, dan berlari menuju rumah Sang Profesor dengan sekuntum bunga mawar di tangannya.
Putri sang profesor sedang duduk didepan pintu membalik-balik sehelai sutra biru dari gulungannya, sementara anjing kecilnya berbaring diatas kakinya.
" Engkau berkata bahwa kau akan berdansa denganku apabila aku membawakanmu sekuntum mawar merah," seru Sang Pelajar. "Ini sekuntum mawar yang paling merah yang pernah ada di muka bumi. Kau dapat menyematkannya didekat hatimu, dan saat kita berdansa bersama, mawar ini akan menyatakan betapa aku mencintaimu."
Tetapi putri profesor mengernyitkan keningnya.
" Maaf, tetapi warna mawar itu tidak cocok dengan warna baju yang akan kukenakan," jawabnya; " lagipula, keponakan Anggota Dewan Kota telah memberiku perhiasan yang mahal , dan jauh lebih berharga daripada sekuntum bunga."
" Oh, kau sungguh seseorang yang tak tahu berterimakasih," seru Sang Pelajar dengan marah; dan ia melempar bunga mawar tersebut ke jalan, Sang Bunga jatuh bergulir masuk ke dalam kumbangan di jalan, dan digilas oleh kereta kuda yang lewat.
" Tidak tahu terimakasih! " seru putri sang profesor," Dengarkan ya, menurutku prilakumu itu tidak pantas; lagipula, kau pikir kau itu siapa? Hanya seorang Pelajar. Lihatlah, apakah kau memiliki sabuk perak disepatumu seperti yang dikenakan keponakan Anggota Dewan Kota? Kukira tidak. " Dan iapun berdiri meninggalkan kursinya lalu masuk ke dalam rumah.
" Ah betapa konyolnya Cinta itu " kata Sang Pelajar saat ia melangkah pergi," Cinta itu tidak sepraktis logika, karena ia tidak bisa membuktikan apapun, dan Cinta itu selalu berkata hal-hal yang tidak akan terjadi, dan membuat orang percaya akan hal-hal yang tidak benar. Pada kenyataannya, Cinta itu sangat tidak praktis, padahal semua orang tahu, dijaman sekarang kepraktisan itu adalah segalanya. Aku akan kembali pada Filsafat dan mempelajari Metafisika."
Maka ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah buku besar penuh debu dari lemari bukunya dan mulai membaca...

“Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh, dia pun tak mengambil apa – apa, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun dimiliki. Karena cinta telah cukup untuk cinta”  - Khalil Gibran


Sumber : http://id.wikisource.org

Senin, 22 April 2013

Bunga Violet yang ambisius

" kupunya asa, mengangkasa..."


Di sebuah taman yang luas dan asri, hiduplah setangkai bunga violet yang indah, hidup damai bersama keluarga dan teman-temannya. Bunga-bunga violet mungil nan cantik itu bergoyang-goyang di tengah-tengah bunga-bunga lainnya di taman itu. Suatu pagi, ketika mahkotanya dihiasi bintik-bintik embun, bunga violet itu mengangkat kepalanya dan melihat ke sekelilingnya; ia melihat setangkai bunga mawar yang jangkung dan indah, berdiri bangga serta menjulur ke tempat yang tinggi, seperti obor yang menyala-nyala di atas pelita emerald.

Sang violet membuka bibirnya yang biru dan berkata, "Betapa malangnya aku di antara bunga-bunga ini, dan betapa rendahnya posisiku dihadapan mereka! Alam telah merancangku pendek dan miskin...Aku hidup sangat dekat dengan tanah dan aku tak dapat menaikkan kepalaku ke langit biru, atau memalingkan wajahku ke matahari, seperti bunga-bunga mawar itu".


" Kesenangan adalah nyanyian-kebebasan, tetapi bukan kebebasan. Ia serukan dari kedalaman ke ketinggian. Ia adalah yang terkurung, mengambil sayap, tapi tak mampu mengarungi angkasa bebas"  - Khalil Gibran
Keluhannya terdengar oleh bunga mawar. Dan mawar itupun tertawa kecil dan berkomentar, "Betapa aneh perkataanmu itu! Engkau beruntung, tetapi engkau tidak memahami keberuntunganmu. Alam telah menganugerahimu keharuman serta keindahan yang tidak dianugerahkannya kepada yang lain... Buanglah pikiran-pikiranmu itu dan cukupkanlah dirimu, dan ingatlah bahwa dia yang merendahkan dirinya akan ditinggikan, dan dia yang meninggikan dirinya akan dihancurkan".
Bunga violet menjawab, "Engkau menghiburku sebab memiliki apa yang kudambakan...Engkau ingin membuatku sakit hati dengan makna bahwa engkau hebat... Betapa menyakitkan khotbah yang beruntung kepada hati yang nelangsa! Dan betapa kejam yang kuat ketika menjadi penasihat diantara yang lemah!"

Dan Alam mendengar percakapan antara violet dengan mawar itu; ia mendekat dan berkata, "Apakah yang terjadi padamu, anakku violet? Selama ini engkau rendah hati dan manis dalam segala perbuatan dan kata-katamu. Apakah ketamakan telah merasuk hatimu dan mengebaskan inderamu?" Dengan suara memelas, sang violet menjawab, "Oh Bunda yang agung serta penuh belas kasih, penuh kasih dan simpati, kumohon kepadamu, dengan segenap hati dan jiwaku, agar menganuhgerahkan permohonanku dan membiarkan aku menjadi bunga mawar suatu hari nanti".
Alam menjawab, "Engkau tidak tahu apa yang engkau minta; engkau tidak sadar akan rencana tersembunyi di balik ambisi butamu itu. Seandainya engkau menjadi bunga mawar, engkau akan menyesal, dan pertobatanmu akan sia-sia".

 Sang violet bersikeras, "Ubahlah aku menjadi bunga mawar yang tinggi, sebab aku ingin mengangkat kepalaku tinggi-tinggi dengan bangga; dan terlepas bagaimana nanti nasibku, itu adalah risikoku".

" Baiklah violet yang pemberontak, akan kupenuhi permintaanmu. Tetapi kalau bencana menimpamu, mengeluhlah kepada dirimu sendiri". Jawab Alam



" Pemberontakan tanpa kebenaran adalah seperti mata air di padang pasir yang suram dan gersang."  - Kahlil Gibran


pic. from peperonity.com
Dan Sang Alam menuruti keinginan bunga violet. Alam mengulurkan jari-jemarinya yang misterius dan ajaib dan menyentuh akar-akar bunga violet itu, yang seketika itu juga berubah menjadi mawar yang jangkung, tinggi di atas bunga-bunga lainnya di kebun itu.
Menjelang malam langit menjadi tebal dengan awan-awan hitam, dan unsur-unsur yang mengamuk mengganggu keheningan keberadaan dengan gunturnya, dan mulai menyerang kebun itu, mengirimkan hujan lebat dan angin kencang. Badai itu mencabik dahan-dahan dan mencabut akar-akarnya serta mematahkan akar bunga-bunga yang tinggi, membiarkan hanya bunga-bunga kecil yang tumbuh dekat bumi yang ramah. Kebun itupun sangat menderita dari langit yang mengamuk, dan ketika badai menjadi tenang dan langit cerah kembali, semua bunga rebah dan tak ada satupun yang terluput dari murka alam selain violet-violet yang kecil, yang bersembunyi dekat dinding kebun itu.
Salah satu bunga violet mengangkat kepalanya dan menyaksikan tragedi yang dialami bunga-bunga serta pepohonan di sana, lalu ia tersenyum senang dan berseru kepada teman-temannya, "lihatlah apa yang telah diperbuat badai terhadap bunga-bunga yang sombong!"  Violet lainnya berkata, " Kita kecil dan hidup dekat dengan tanah, tetapi kita aman dari murka langit". Dan yang ketiga menambahkan, "Sebab kita tidak jangkung, badai tak dapat menaklukkan kita".
Dan Ratu Violet melihat ke arah bunga violet yang telah berubah jadi mawar, rebah ke rumput yang basah oleh badai seperti prajurit yang lunglai di medan pertempuran. Sang ratu violet mengangkat kepalanya dan berseru kepada keluarganya, " Lihatlah, anak-anakku, dan renungkanlah apa yang telah diperbuat Ketamakan terhadap violet yang telah menjadi mawar yang sombong selama satu jam. Biarlah kenangan pemandangan ini menjadi pengingat akan keberuntungan kalian yang baik."



“Untuk memahami hati dan pikiran seseorang, jangan melihat apa yang telah ia capai saat ini. Lihat apa yang sebetulnya ia cita-citakan.” - Khalil Gibran

Dan mawar yang sekarat itu mengerahkan sisa-sisa kekuatannya dan berkata, "Dasar kalian bunga-bunga penurut yang bodoh; aku tidak pernah takut terhadap badai. Kemarinpun aku pas dan mencukupkan diri dengan Kehidupan, tetapi kecukupan diri telah menjadi penghalang di antara keberadaanku dengan badai kehidupan, mengurungku dalam kedamaian serta ketenteraman pikiran yang pesakitan serta malas. Aku bisa saja hidup seperti kalian sekarang ini dengan berpegang ketakutan kepada bumi... Aku bisa saja menantikan musim dingin menutupiku dengan salju dan mengirimkanku kepada maut, yang tentu akan memangsa semua violet... Aku bahagia sekarang sebab aku telah keluar dari duniaku yang kecil, ke dalam misteri alam semesta ... sesuatu yang belum pernah kalian lakukan. Aku bisa saja melupakan ketamakan, yang sifatnya lebih tinggi daripadaku, tetapi ketika kudengarkan keheningan malam, aku dengar dunia sorgawi berbicara kepada dunia bumi ini, "Ambisi di luar keberadaan itu merupakan maksud penting dari keberadaan kita". Ketika itulah rohku memberontak dan hatiku merindukan posisi yang lebih tinggi daripada keberadaanku yang terbatas. Aku sadar bahwa jurang tak berdasar tak dapat mendengar nyanyian bintang-bintang, dan ketika itulah aku mulai melawan kekerdilanku dan mendambakan apa yang bukan kepunyaanku, hingga pemberontakanku berubah menjadi kekuatan besar, dan dambaanku menjadi kehendak yang tercipta... Alam, yang adalah objek besar dari mimpi-mimpi  kita yang lebih mendalam, menganugerahi permintaanku dan mengubahku menjadi bunga mawar dengan jari-jemarinya yang ajaib".
pic. from goodfon.com
Bunga mawar ini terdiam sejenak, dan dengan suara yang semakin lemah, berbaur dengan kebanggan serta prestasi, ia berkata, " Aku telah hidup satu jam sebagai bunga mawar yang bangga; aku sempat menjadi ratu; aku telah melihat Alam Semesta dari balik mata setangkai mawar; aku telah medengar bisikan langit lewat telinga mawar dan menyentuh lipatan-lipatan pakaian terang dengan daun-daun bunga mawar. Adakah disini yang dapat mengklaim kehormatan seperti itu?" Setelah berkata demikian, ia tundukkan kepalanya, dan dengan suara tercekik ia melanjutkan, "Sekarang aku akan mati, sebab jiwaku telah mencapai sasarannya. Akhirnya aku telah memperluas pengetahuanku ke dunia di luar goa kelahiranku yang sempit. Inilah rancangan Kehidupan... Inilah rahasia Keberadaan". Lalu bunga mawar ini gemetar, perlahan-lahan melipat daun-daun bunganya, dan menghembuskan nafasnya yang terakhir  dengan senyum sorgawi di bibirnya... senyum kepenuhan pengharapan serta maksud dalam kehidupan... senyum kemenangan... senyum Ilahi.

" Jika Anda berusaha meraih bintang, Anda mungkin tak akan mendapatkan satu pun, tapi Anda tak akan meraih segenggam lumpur juga." - Leo Burnett

Sumber : Khalil Gibran, Bunga Violet yang ambisius