Tampilkan postingan dengan label Arjuna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arjuna. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Sang Arjuna




Arjuna adalah sosok yang gagah tampan. Ia memiliki banyak isteri dan kekasih. Ia juga terkenal senagai sosok yang memiliki ilmu tinggi dan sakti mandraguna. Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya, karena ia ganteng dan berkharisma.  Dan banyak pria yang segan terhadapnya karena ilmunya yang tinggi , wibawa dan gelar kebangsawanannya.  Ia sosok idola pria dan wanita.

Arjuna adalah putera tengah dari pandawa lima (lima ksatria) putra Prabu Pandudewanata dari Hastinapura dengan Dewi Kunti. Sejak anak-anak ia gemar sekali menuntut ilmu. Ia mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Ia memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Baginya dunia dan lingkungan sekitarnya adalah gudang ilmu pengetahuan. Ia belajar dari siapa saja. Guru-gurunya yang terkenal adalah Resi Dorna, Begawan Krepa, Begawan Kesawasidi  dan Resi Padmanaba. Arjuna juga senang berkelana.
Berikut ini nama-nama dari isteri-isteri Arjuna :
Patung Arjuna di Bali
  1. Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu;
  2. Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra;
  3. Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras;
  4. Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan;
  5. Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;
  6. Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka;
  7. Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni;
  8. Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga;
  9. Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;
  10. Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma;
  11. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa;
  12. Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada;
  13. Dewi Maheswara;
  14. Dewi Retno Kasimpar;
  15. Dewi Dyah Sarimaya;
  16. Dewi Srikandi.
Arjuna, dalam bahasa Sanskerta berarti “ bersinar terang” . Arjuna bisa berarti “jujur di dalam wajah dan pikiran”. Ia memiliki banyak julukan. Permadi berarti berwajah tampan. Wijaya berarti orang yang menang dalam perang. Dhananjaya berarti penakluk seluruh raja. Margana berarti suka menolong. Jahnawi berarti gesit. Danaswara berarti perayu ulung. Janaka berarti memiliki banyak isteri.

Petualangan Cinta Arjuna

Lukisan karya Raja Ravi Varma
Raja Drupada dari Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan puterinya Drupadi. Drupada mengundang para pangeran dari berbagai penjuru negeri. Barangsiapa yang berhasil memanah seekor ikan yang diletakkan di atas balairung dengan tepat akan mendapatkan Drupadi. Dan Arjuna memenangkan sayembara itu. Kemudian ia membawa Drupadi pulang dan berkata kepada ibunya  “ ibu, pasti tidak percaya dengan hadiah yang aku bawa ! “ .

Sang ibu, yang sedang tidur berselimut menjawab tanpa melihat apa yang dibawa oleh Arjuna berkata “Bagilah rata dengan saudara-saudaramu !”. 

Drupadi pun menjadi isteri dari lima ksatria Pandawa. Lima Pandawa itu bersepakat tidak akan saling mengganggu ketika Drupadi lagi bermesraan dengan salah satu dari mereka.

Suatu hari, terjadi huru-hara di Indraprastha, Arjuna bergegas mengambil senjata di dalam sebuah kamar , pada saat itu Yudisthira lagi bermesraan dengan Drupadi. Arjuna terpaksa melanggar kesepakatan Pandawa Lima. Ia pun menerima hukuman dibuang ke hutan selama 1 tahun.  Di tempat pengasingan tersebut Arjuna bertemu dengan seorang gadis cantik jelita bernama Ulupi dari Nagaloka. Mereka jatuh cinta dan kemudian menikah. Ulupi melahirkan seorang anak buah cintanya dengan Arjuna yang dinamai Irawan.

Perjalanan Arjuna sampai ke negeri Manipura yang diperintah oleh Raja Citrasena. Citrasena memiliki puteri cantik bernama Citranggada. Arjuna menikahi Citranggada dan memiliki seorang anak yang bernama Babruwahana. Setelah beberapa bulan tinggal di Manipura, Arjuna berniat pulang ke Hastinapura. 

Dalam perjalanan pulang Arjuna singgah di pantai Prabasatirta. Ia disambut oleh Baladewa. Disana ia bertemu dengan Subadra, adik Kresna. Subadra jatuh cinta pada Arjuna. Gadis cantik itu kabur bersama Arjuna. Mereka menikah di Indraphasta. Baladewa dan Kresna menyusul dan menyelenggarakan pesta pernikahan yang mewah untuk mereka.

Kamis, 20 Desember 2012

Srikandi in Love



gambar diambil dari www.wayangprabu.com
“ Apakah nyanyian laut berakhir di pantai atau dalam hati mereka yang mendengarnya?” (Khalil Gibran)

Gagah perkasa, berparas rupawan, keturunan raja, dialah  Arjuna, Lelaki Lelalaning Jagat, pandai merayu, semua wanita jatuh hati padanya, sehingga dia terkenal sebagai playboy. Dan Srikandi, seorang gadis cantik, pintar, mahir seni bela diri dan terkenal tomboy. Mereka dipertemukan oleh Dewa Asmara. Kisah cinta terjalin penuh gelora.

Suatu hari Srikandi melihat Arjuna di sebuah taman sedang mengajari kekasihnya Rarasati memanah.  Srikandi terpukau oleh kemahiran Arjuna memanah, sungguh gagah dan berkharisma. Srikandi juga terpesona oleh sosok Arjuna yang ganteng dan rupawan.  Srikandi ingin belajar memanah pada Arjuna. Gadis itu meminta Arjuna untuk mengajarinya.

Beberapa waktu sebelumnya Srikandi datang ke pesta pernikahan Arjuna dan Dewi Subadra. "Sungguh tampan pengantin pria itu, gagah, ganteng….aku ingin sekali bertukar tempat dengan sang pengantin perempuan itu.” Srikandi berbicara dalam hati. 

“ Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...”  (Sapardi Djoko Damono)

Srikandi belajar memanah dengan tekun. Dia seksama mendengarkan penjelasan dari Arjuna mengenai teknik-teknik memanah yang baik.  Srikandi mempelajari ilmu perang pada Arjuna. Gadis tomboy ini ingin menjadi ksatria wanita yang tangguh dan mahir memanah. Seiring dengan meningkatnya ilmu yang dimiliki Srikandi, tali kasih diantara keduanya semakin erat. Srikandi tak ingin jauh-jauh dari Arjuna. Begitupun Arjuna, ia jatuh cinta pada kecantikan Srikandi, pada pribadinya yang unik dan daya tarik yang berbeda dari wanita-wanita cantik lainnya. Meskipun Arjuna telah memiliki banyak kekasih wanita-wanita jelita, ia melihat Srikandi memiliki kecantikan dan keanggunan tersendiri, antara sifat lemah lembut yang feminin dan ketegasan serta keperkasaan seorang pria. Dengan kata lain, Srikandi cantik tapi tomboy.

Namun kisah cinta ini tidak berjalan mulus. Keluarga Srikandi menentang. Mereka tak setuju Srikandi menikah dengan Arjuna yang playboy dan memiliki banyak isteri serta kekasih. Orang tua Srikandi telah menjodohkan Srikandi dengan Jungkungmardeya, seorang raja dari negeri tetangga,lajang, kaya, berkuasa dan juga tampan. Srikandi menolak perjodohan itu. Pesona Arjuna telah merasuk sukma.

Srikandi yang gundah gulana pergi ke Madukara tempat tinggal Arjuna. Ia berjalan kaki menembus hutan belantara. Onak duri dan ranting-ranting yang melukai tubuhnya tidak dia pedulikan. Sambil meneteskan air mata ia terus berjalan. Ia kecapaian, kemudian jatuh tersungkur dan pingsan beberapa langkah di depan gerbang Madukara. Ketika ia tersadar dan membuka mata sungguh tak terkira senang hatinya, ia berada di kaputren Madukara. Ia merasa aman tenteram dan damai. Ia yakin dan percaya pada Arjuna. Arjuna akan selalu melindunginya. Gadis keras kepala itu tinggal beberapa waktu di sana.

Setetes airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam keberadaan... Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan... ketimbang jika aku hidup menjemukan dan putus asa “ (Khalil Gibran)

gambar diambil dari www.wayangprabu.com
Singkat cerita, di negeri Pancala, tempat asal Srikandi, terjadi huru-hara dan peperangan yang mengancam. Srikandi yang telah memperdalam ilmu perang terpanggil untuk membela negeri kelahiran tercinta. Berat memang ketika ia harus berpisah dengan kekasihnya Arjuna. Tapi dia harus rela berkorban untuk negeri yang dicintai dan keluarga yang dikasihi. Srikandi pun kembali ke negeri Pancala.

“ Kucintai desa kelahiranku dengan sebagian cintaku untuk negeri, kucintai negeriku dengan sebagian cintaku untuk bumi.” (Khalil Gibran)

Srikandi mengakhiri petualangan cinta sang Arjuna.

Rabu, 29 Agustus 2012

Srikandi, Prajurit Puteri yang mahir memanah


Dewi Srikandi, tokoh prajurit puteri dalam dunia pewayangan, salah satu puteri Prabu Drupada, raja negeri Pancala,  dengan Dewi Gandawati, sangat ahli memanah dan seorang prajurit handal. Ia bertabiat seperti laki-laki dan gemar pada peperangan. Ia menjaga keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara. Srikandi lambang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Ia merupakan tokoh wanita cantik, cerdas, mandiri dan terampil.

 Srikandi menikah dengan guru memanahnya, Arjuna, yang terkenal dengan ketampanannya. Mereka tidak memiliki putera.

Dalam perang Bharatayuddha, Srikandi tampil sebagai panglima perang Pandawa, menggunakan panah Hrusangkali dan berhasil menewaskan Bisma. Dendam terhadap Bisma terbalas sudah.

Srikandi tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.


Kisah cinta Dewi Srikandi dan Arjuna

Srikandi menghadiri pesta pernikahan Arjuna dengan Dewi Wara Subadra. Ia memperhatikan tingkah laku pasangan pengantin itu. Ia tertarik pada ketampanan Arjuna dan ingin menjadi pengantin.

Beberapa waktu kemudian Srikandi melihat Arjuna mengajarkan cara memanah pada Rarasati, selir Arjuna. Srikandi pun berkeinginan untuk belajar memanah. Maka ia belajar memanah pada Arjuna.

Srikandi pernah dipinang oleh Prabu Jungkungmardea dari negeri Parangkubarja, raja yang berwajah tampan dan sakti. Ayah Srikandi, Prabu Drupada menerimanya dengan senang hati. Tetapi Srikandi menolaknya. Ia mengadu pada Arjuna. Prabu Jungkungmardea dibunuh oleh  Arjuna. Kemudian Arjuna menikahi Dewi Srikandi.