Tampilkan postingan dengan label angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label angin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Si Anak Tampan



 Karya : Hans Christian Andersen





pic. from : wikipaintings.org
" Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu." - Khalil Gibran -



Suatu malam yang dingin seorang penyair tua duduk di depan tungku di sudut ruangan. Apel terpanggang di atas api. Gemeretak jendela ditiup angin. Di luar badai seakan mengamuk, sangat mengerikan, mengiringi datangnya hujan yang deras. "Tidak ada kain kering yang tersisa untuk orang-orang miskin malang di luar sana.” Gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. " Permisi pak, tolong buka pintunya! Saya kedinginan. " suara anak kecil menghiba. Kemudian terdengar suara tangis anak itu.

" Anak miskin yang malang!" Kata penyair sambil bangkit berdiri, lalu berjalan untuk membuka pintu. Di luar berdiri anak kecil menggigil kedinginan, telanjang. Jika dibiarkan saja tanpa pertolongan, pastilah ia tewas dalam badai.

 " Anak malang!" Kata penyair, menuntun tangan anak itu, " Kemarilah ! Kau harus menghangatkan badanmu. Aku memiliki anggur dan apel panggang.” Ia lalu menatap wajah anak kecil itu, “ kau tampan sekali!” katanya. Anak itu memang tampan, matanya berbinar seperti bintang, ia seperti malaikat kecil, meskipun wajahnya tampak pucat. Di tangannya ia memegang busur indah, yang basah terkena hujan.

Penyair tua itu membuat minuman anggur dicampur rempah-rempah hangat dan memberikannya segelas kepada anak kecil itu. 

Beberapa saat setelah minum anggur rempah,  wajah anak itu tampak berseri kemerahan. Ia melompat-lompat dan menari-nari di sekitar penyair .
"Kau anak yang ceria." kata penyair. "Siapa namamu?"
"Nama saya Cupid
." jawab anak itu, " Tahukah Anda, saya memiliki busur panah? Saya menembak dengan itu.” Ia lalu mendekati jendela dan berkata : “Lihatlah, di luar cuaca berangsur membaik, bulan bersinar indah. "
"Tapi busurmu basah dan rusak." kata penyair tua.
" Ya...," kata anak kecil, mengambil itu dan melihat itu. "
Tapi,  sekarang telah kering lagi dan tidak rusak sama sekali. String cukup ketat,. Aku akan mencobanya "  Anak itu mengambil sebuah anak panah, membidik, dan menembak penyair tua yang baik tepat di jantung.  " Anda lihat kan..busur saya masih bagus?"  Katanya, lalu tertawa dan berlari. 

Sungguh nakal anak itu, dan sungguh tak tahu membalas budi, menembak penyair tua seperti itu, yang telah menolongnya dan memberinya makanan hangat, anggur terbaik dan apel terbaik.

Penyair tua yang baik hati itu berbaring di atas lantai, menangis, ia benar-benar ditembak  tepat di jantung. "Oh!" Teriaknya, " Sungguh nakal si Cupid ini! Aku akan memberitahu semua anak-anak supaya mereka berhati-hati untuk tidak bermain dengan dia. "

Dan semua anak-anak, laki-laki dan perempuan, diberitahu supaya waspada terhadap si anak nakal Cupid. Tetapi benar-benar nakal si Cupid ini. Ketika para siswa keluar dari kelas, ia berjalan di samping mereka dengan buku di bawah lengannya. Dan kemudian, ia membidikkan panahnya ke mereka. Cupid selalu mengganggu mereka dan mengikuti kemana mereka pergi.

 Cupid ini memang anak nakal!  Ia juga memanah jantung ayah dan ibu kita.. Bahkan ia juga membidikkan panahnya ke jantung nenek tua. Ia selalu membidikkan anak panah ke jantung orang-orang..... dimana saja...

Kadang-kadang si Cupid ini juga jahat, beberapa orang membunuh dirinya sendiri karena ulah dia.


“ Cinta akan terus didendangkan dari timur sampai barat. Karena cinta akan terus menjelma dalam keceriaan anak-anak sampai kebajikan orang tua. Sesuatu yang dibicarakan terus-menerus, pastilah sesuatu yang belum terpahami. Demikian pula cinta. Cinta selalu dibicarakan, karena sesungguhnya kita belum memahaminya.” - Khalil Gibran -

Senin, 03 September 2012

Ken Dedes, leluhur para Raja Jawa



Arca perwujudan Ken Dedes, Museum Nasional
Ken Dedes, wanita cantik yang melahirkan raja-raja besar di tanah Jawa. Ia adalah isteri dari Tunggul Ametung dan Ken Arok, penguasa Tumapel, sebuah kerajaan kecil dibawah kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Kertajaya (1185 – 1222). Kecantikannya luar biasa. Puteri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha dari desa Panawijen.

Suatu hari Tunggul Ametung berkunjung ke desa Panawijen dan melihat Ken Dedes. Tunggul Ametung terpesona oleh gadis jelita itu dan ingin mempersuntingnya .  Saat itu Mpu Purwa lagi bertapa di hutan. Ken Dedes meminta Tunggul Ametung untuk menunggunya. Tetapi Tunggul Ametung tidak sabar menunggu,ia  menculik Ken Dedes dan memaksa untuk menikahinya. Tunggul Ametung memaksa Ken Dedes untuk menikahinya tanpa restu dari Mpu Purwa, ayahnya.  Mpu Purwa marah dan mengutuk :      “ Barangsiapa yang telah menculik Ken Dedes, maka ia akan mati karena tikaman keris.  … Adapun anakku yang menyebabkan gairah dan bercahaya terang, kutukku kepadanya semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar ”.

Suatu hari Tunggul Ametung mengajak Ken Dedes berjalan-jalan ke hutan Baboji. Ken Arok, salah seorang pengawal kepercayaan Tunggul Ametung diajak serta.  Pada saat Ken Dedes turun dari kereta kuda, angin berhembus kencang, kain Ken Dedes tersingkap. Ken Arok melihat sepasang betis,  paha  dan auratnya yang indah. Lalu Ken Arok menceritakan apa yang telah dilihatnya kepada Lohgawe, bapak angkatnya, seorang pendeta keturunan India.   Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai wanita nareswari yang diramalkan akan menurunkan raja-raja. Ken Arok yang telah jatuh cinta pada Ken Dedes berhasrat untuk menikahinya.

Tak lama kemudian timbul pemberontakan dan kudeta di Tumapel yang dipimpin oleh Ken Arok.  Tunggul Ametung tewas dibunuh Ken Arok dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring

Ken Arok mengambil alih jabatan Tunggul Ametung Ken Arok dan menikahi Ken Dedes yang saat itu lagi mengandung anak Tunggul Ametung, yang kemudian diberi nama  Anusapati. Dari perkawinan Ken Dedes dengan Arok lahir empat orang anak, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya dan Dewi Rimbu.

Tahun 1222 Ken Arok berhasil menggulingkan Kertajaya, Raja Kediri, dan memerdekakan Tumapel menjadi kerajaan Singhasari.

Waktu berlalu, tahun 1247, Anusapati yang telah tumbuh dewasa mengetahui bahwa dirinya adalah anak dari Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok. Ia pun membalas dendam kematian ayahnya. Anusapati menyuruh pembantunya untuk membunuh Ken Arok, yang saat itu lagi makan malam. Lalu ia membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak. Anusapati menjadi raja Singhasari yang kedua (1247 – 1249).

Anusapati  selalu dihantui ancaman pembalasan dendam dari anak-anaknya Ken Arok. Kematian Anusapati pada tahun 1249 menjadi misteri. Ada beberapa versi mengenai kematiannya. Versi kitab Pararaton, Tohjaya, putera Ken Arok dengan selir Ken Umang, melakukan pembalasan dendam dan membunuh Anusapati. Ia melakukan tipu muslihat dengan mengajak Anusapati mengadu ayam. Anusapati tidak curiga, ia gemar sekali mengadu ayam. Tohjaya menusuknya dengan keris Mpu Gandring dan tewas seketika. Tohjaya naik tahta (1949-1950). Tapi tak lama ia pun tewas dibunuh oleh Ranggawuni (Wisnuwardhana), putera Anusapati.

Menurut kitab Nagarakretagama, Anusapati meninggal secara wajar. Takhta digantikan oleh puteranya, Wisnuwardhana.

Candi Singosari
Wisnuwardhana, cucu dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes,  menikah dengan Jayawardhani, cucu dari Ken Arok dengan Ken Dedes. Mereka memiliki seorang putera,  Kertanegara. Jadi, Kertanegara adalah cicit dari Tunggul Ametung, Ken Arok dan Ken Dedes. Kertanegara memiliki puteri bernama Gayatri, yang kemudian menjadi isteri Raden Wijaya (cicit Ken Arok), pendiri Kerajaan Majapahit. Dari pernikahan Gayatri dan Raden Wijaya lahir Tribhuwana Tunggadewi, raja wanita pertama di Majapahit. Tribhuwana Tunggadewi menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya, Hayam Wuruk dan Wikramawardhana.


Setelah Wisnuwardhana wafat, Kertanegara menggantikannya dan menjadi  raja terakhir yang memerintah Singhasari. Ia berambisi ingin menyatukan wilayah nusantara. Pada masa ini Singhasari berada dalam puncak kejayaannya. Kertanegara terbunuh oleh Jayakatwang ( salah satu keturunan Ken Arok) dalam suatu pemberontakan tahun 1292, dan berakhirlah Kerajaan Singhasari. Kemudian, Raden Wijaya, menantunya mendirikan kerajaan Majapahit sebagai penerus Singhasari.

Keturunan Ken Dedes yang memerintah Kerajaan Majapahit :
Arca perwujudan Hayam Wuruk

Raden Wijaya (1273 - 1309)
Jayanegara (1309 - 1328)
Tribhuwanatunggadewi (1328 - 1350)
Hayam Wuruk (1350 - 1389)
Wikramawardana (1389 - 1429)
Kertabhumi (1429 - 1478)

Arca Gajah Mada
Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan  Raja Hayam Wuruk dengan  Mahapatih Gajah Mada. Majapahit memiliki armada angkatan laut yang kuat dan disegani. Perekonomian dan pertanian berkembang pesat. Banyak daerah-daerah di Kepulauan Nusantara dan Asia yang berhasil ditaklukan oleh Majapahit. Pada saat itu dibentuk sebuah sumpah yang disebut dengan 'Sumpah Palapa', yang berbunyi :   " Saya tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara."




Referensi : id.wikipedia.org