Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Khalil Gibran tentang Cinta



Kemarin aku berdiri dekat pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.

pic from fanpop.com
Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata,"Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama."

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, "Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang."

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata,"Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya."

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata,"Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat, membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian di depan matahari di siang hari."

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata,"Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda."

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata,"Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya."

Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, "Cinta adalah kabut tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah."

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, "Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesadaran dan kesadaran."

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potonganpotongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, "Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian."

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata,"Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta." Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat.

Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

Minggu, 16 Desember 2012

Rama, Sinta, Rahwana dan Misteri Cinta



Demikian senja turun dan Sita terkapar  
Di ranjang. Walau begitu jangan kau tanya
Mengapa semua ini terjadi;
Pada kobaran api yang menyala di tegalan,
(puisi karya Soni Farid Maulana)

Rahwana tak selamanya berbuat jahat. Ia tak seburuk yang orang kira. Ia selalu bersikap sopan. Jantan. Jujur. Ia tulus mencintai Sinta. Tak pernah menyentuh Sinta. Dia setia menunggu hingga Sinta menerima cintanya. Sosoknya pun gagah.  Rahwana sangat memanjakan Sinta, ia melimpahi wanita yang dicintainya itu dengan segala kemewahan. perilaku Rahwana meluluhkan hati Sinta

“Malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan
misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir.” ( Khalil Gibran)

Ada saat-saat dimana Rahwana harus pergi meninggalkan istananya sementara waktu. Tapi Sinta tidak pernah mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Sinta memang ingin tinggal bersama Rahwana.

Mungkin Sinta jatuh cinta pada Rahwana. Mungkin Sinta mengagumi kegigihan Rahwana yang berjuang merebut cintanya. Mungkin Sinta merasa tersanjung dengan perlakuan Rahwana. Mungkin Sinta mendamba pelukan rahwana.  Hati seorang wanita seperti hutan yang lebat, begitu pula hati Sinta, penuh misteri.

“ Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan cinta.” (Khalil Gibran)

Kecewa dan patah hati karena Rama tak kunjung menjemput dirinya.? Memang, Rama pernah meminta temannya, Hanoman, untuk menemui Sinta dan memberi hadiah sebuah cincin. Tak cukup besarkah cinta Rama? Atau Sinta tak pernah sepenuhnya mencintai Rama? Atau memang Sinta tidak setia?

 “ Tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.” (Khalil Gibran)


Nun jauh di sana, seorang pria tampan termenung.....Telah bertahun-tahun Sinta tinggal di istana Rahwana. Tentu ada saat dimana Sinta menghabiskan malam di peraduan Rahwana. Ia cemburu.

Ia ragu....mungkinkah Rahwana tidak pernah menculik Sinta? Mungkinkah Sinta yang membiarkan dirinya jatuh ke pelukan Rahwana? 

“ Mungkin akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena dia berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa dia akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.”  (Khalil Gibran)



Elegi Sinta

( puisi karya Dorothea Rosa Herliany)
 
aku sinta yang urung membakar diri.
demi darah suci
bagi lelaki paling pengecut bernama rama.
lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam.
agar hangat gelora cintaku.
tumbuh di padang pendakian yang paling hina.


kuburu rahwana,
dan kuminta ia menyetubuhi nafasku
menuju kehampaan langit.
kubiarkan terbang, agar tangan yang
takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.


siapa bilang cintaku putih? mungkin abu,
atau bahkan segelap hidupku.
tapi dengarlah ringkikku yang indah.
menggosongkan segala yang keramat dan abadi. 

 
kuraih hidupku, tidak dalam api
–rumah bagi para pendosa.
tapi dalam kesunyian yang sia-sia dan papa.            
agar sejarahku terpisah dari para penakut
dan pendusta. rama…

 
(Dorothea Rosa Herliany, Elegi Sinta)