Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 April 2017

Senja di Pantai Barat Pangandaran

" Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdunya tembang burung-burung dan sungai." - Khalil Gibran

Bosan menghabiskan akhir pekan di mall, aku mencoba rileks di pantai. Pilihanku kali ini adalah pantai Pangandaran Jawa Barat.



Pantai di senja hari selalu tampak indah. Sayang kalau tidak diabadikan dengan kamera.




Banyak hal yang bisa dilakukan di pantai kala senja.

Berenang
Kita hanya boleh berenang di pantai Barat Pangandaran ini dari jam 06.00 pagi hingga jam 17.00 saja. Lewat jam 17.00 kita tidak diperbolehkan berenang. Akan terdengar pengumuman untuk tidak berenang, suara sirine tanda peringatan pun dibunyikan pas jam 17.00. 



Berselancar
Banyak penyewaan papan selancar disini.


Naik Perahu
Untuk naik perahu dikenakan tarif Rp. 10.000 per orang. Sama seperti berenang, hanya boleh dilakukan dari jam 06.00 s.d 17.00.



Main pasir
Anak-anak sangat suka sekali bermain dengan pasir. Ajaklah anak-anak anda untuk bermain pasir di pantai ini.



Kuliner
Minum kelapa muda sembari menikmati langit senja ternyata mengasyikan. Di pantai Pangandaran banyak terdapat kedai yang menjual berbagai makanan. Makanan khas Betawi Kerak Telor pun ada.
Begitu juga dengan bakso malang.



Menyaksikan matahari terbenam (sunset)
Dan tentu saja...tujuan utama ke pantai ini adalah melihat sunset. Sayang sekali, sunset datang berselimut awan. Tapi langit senja di atas pantai Pangandaran masih terlihat indah. Mungkin, lain waktu aku bisa bertemu dengan sunset di pantai ini.










Rabu, 11 Januari 2017

Senja di Marina Bay Sands

“ Kita akan melampaui senja dan secara kebetulan membangunkan fajar dari dunia yang lain” – Khalil Gibran


Satu senja di bulan April aku duduk melepaskan lelah di bangku taman belakang Marina Bay Sands dengan pemandangan teluk dan kerlap kerlip pemandangan kota Singapura yang indah. Setelah berjalan-jalan sebentar di area mall tubuh ini cepat sekali lelah, tidak seperti beberapa tahun yang lalu, dulu aku kuat berjalan-jalan keliling sampai 4 - 5 jam. Mungkin aku mulai beranjak tua.

Mataku menatap lurus kedepan...pemandangan indah sekali. Sejenak aku terbebas dari beban hidup, terbebas dari beban kerja, dan terlupa sejenak dengan bos yang sangat menyebalkan (meskipun penampilannya sangat tampan dan terlihat baik hati tapi dia suka under estimate dan rasis). 

“ Alangkah buruknya kasih sayang yang meletakkan batu di sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi yang lainnya.” – Khalil Gibran



Diriku terbebas pula dari perasaan cemas dan khawatir. Indahnya hidup ini, seindah pemandangan di depan mataku. Andainya..hidupku seperti ini terus.

Duduk termenung seperti ini di alam terbuka yang indah membuatku rileks.



Minggu, 16 Desember 2012

Rama, Sinta, Rahwana dan Misteri Cinta



Demikian senja turun dan Sita terkapar  
Di ranjang. Walau begitu jangan kau tanya
Mengapa semua ini terjadi;
Pada kobaran api yang menyala di tegalan,
(puisi karya Soni Farid Maulana)

Rahwana tak selamanya berbuat jahat. Ia tak seburuk yang orang kira. Ia selalu bersikap sopan. Jantan. Jujur. Ia tulus mencintai Sinta. Tak pernah menyentuh Sinta. Dia setia menunggu hingga Sinta menerima cintanya. Sosoknya pun gagah.  Rahwana sangat memanjakan Sinta, ia melimpahi wanita yang dicintainya itu dengan segala kemewahan. perilaku Rahwana meluluhkan hati Sinta

“Malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan
misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir.” ( Khalil Gibran)

Ada saat-saat dimana Rahwana harus pergi meninggalkan istananya sementara waktu. Tapi Sinta tidak pernah mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Sinta memang ingin tinggal bersama Rahwana.

Mungkin Sinta jatuh cinta pada Rahwana. Mungkin Sinta mengagumi kegigihan Rahwana yang berjuang merebut cintanya. Mungkin Sinta merasa tersanjung dengan perlakuan Rahwana. Mungkin Sinta mendamba pelukan rahwana.  Hati seorang wanita seperti hutan yang lebat, begitu pula hati Sinta, penuh misteri.

“ Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan cinta.” (Khalil Gibran)

Kecewa dan patah hati karena Rama tak kunjung menjemput dirinya.? Memang, Rama pernah meminta temannya, Hanoman, untuk menemui Sinta dan memberi hadiah sebuah cincin. Tak cukup besarkah cinta Rama? Atau Sinta tak pernah sepenuhnya mencintai Rama? Atau memang Sinta tidak setia?

 “ Tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.” (Khalil Gibran)


Nun jauh di sana, seorang pria tampan termenung.....Telah bertahun-tahun Sinta tinggal di istana Rahwana. Tentu ada saat dimana Sinta menghabiskan malam di peraduan Rahwana. Ia cemburu.

Ia ragu....mungkinkah Rahwana tidak pernah menculik Sinta? Mungkinkah Sinta yang membiarkan dirinya jatuh ke pelukan Rahwana? 

“ Mungkin akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena dia berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa dia akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.”  (Khalil Gibran)



Elegi Sinta

( puisi karya Dorothea Rosa Herliany)
 
aku sinta yang urung membakar diri.
demi darah suci
bagi lelaki paling pengecut bernama rama.
lalu aku basuh tubuhku, dengan darah hitam.
agar hangat gelora cintaku.
tumbuh di padang pendakian yang paling hina.


kuburu rahwana,
dan kuminta ia menyetubuhi nafasku
menuju kehampaan langit.
kubiarkan terbang, agar tangan yang
takut dan kalah itu tak mampu menggapaiku.


siapa bilang cintaku putih? mungkin abu,
atau bahkan segelap hidupku.
tapi dengarlah ringkikku yang indah.
menggosongkan segala yang keramat dan abadi. 

 
kuraih hidupku, tidak dalam api
–rumah bagi para pendosa.
tapi dalam kesunyian yang sia-sia dan papa.            
agar sejarahku terpisah dari para penakut
dan pendusta. rama…

 
(Dorothea Rosa Herliany, Elegi Sinta)