Tampilkan postingan dengan label Agresi Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agresi Militer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

Syafruddin Prawiranegara, Presiden RI yang terlupakan

Mr. Syafruddin Prawiranegara, mungkin banyak dari kita terutama anak-anak muda bangsa Indonesia yang tidak mengenal dan tidak mengetahui tentang Presiden RI ini. Dia mengisi kekosongan pemerintahan karena pada waktu itu  Soekarno dan Moehammad Hatta  ditangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka pada Agresi Militer II 19 Desember 1948. Syafruddin Prawiranegara saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI. Secara de jure jabatan Presiden RI dipegang oleh Syafruddin Prawiranegara dengan sebutan Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Dalam perspektif hukum internasional dan hukum tata negara tidak boleh ada kekosongan jabatan Kepala Negara dari suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dan Ketua PDRI saat itu adalah Syafruddin Prawiranegara. Secara de facto, Soekarno sebagai Presiden RI.

Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “ Kami Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 6 pagi Belanda telah memulai serangannya atas Ibu Kota Yogyakarta. Jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.” . Demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, kekosongan pemerintahan tidak boleh terjadi. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 22 Desember 1948 di Halaban, Sumatera Selatan. Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden merangkap Menteri Pertahanan, Menteri Penerangan dan Menteri Luar Negeri. Kabinetnya terdiri dari Mr. T.M Hasan, Mr. S.M Rasyid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul,  Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto, dan Jendral Soedirman sebagai Panglima Besar Angkatan Perang. Syafruddin menjalankan pemerintahan dari hutan belantara dan terus menerus mempropagandakan bahwa pemerintahan Indonesia masih ada. Atas usaha Pemerintah Darurat Republik Indonesia akhirnya Belanda terpaksa menghentikan agresi militer dan melakukan perundingan dengan Indonesia. Perjanjian Roem – Royen mengakhiri upaya Belanda dan membebaskan Soekarno – Hatta. 14 Juli 1949 Syafruddin menyerahkan kembali mandat kepada Presiden Soekarno.

Jabatan Syafruddin Prawiranegara di Pemerintahan :
-    Wakil Perdana Menteri Indonesia 4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949
-    Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
-    Menteri Keuangan Republik Indonesia ke-5  dari 2 Oktober 1946 s.d  26 Juni 1947
-    Menteri Perdagangan Republik Indonesia ke-5 dari 29 Januari 1948 s.d 4 Agustus 1949
-    Menteri Pertanian Republik Indonesia ke-5 dari 29 Januari 1948 s.d 4 Agustus 1949
-    Menteri Keuangan Republik Indonesia 6 September 1950 s.d 27 April 1951

Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp. 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh, dikenal dengan julukan ‘ Gunting Syafruddin ‘.

Tahun 1958 PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) berdiri akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah saat itu, yang dianggap sebagai suatu pemberontakan. Syafruddin merupakan Presiden PRRI yang berbasis di Sumatera Tengah. Agustus 1958 PRRI berakhir.

Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911, memiliki darah Sunda Banten dan Minangkabau. Syafruddin menempuh pendidikan di ELS tahun 1925, MULO di Madiun tahun 1928, dan AMS di Bandung tahun 1931, kemudian menempuh pendidikan Hukum di Rechtshogechool di Jakarta ( sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia ) tahun 1939.

Syafruddin menikah dengan Tengku Halimah Syehabuddin dan dikaruniai delapan orang anak dan lima belas cucu. Cucu ke-13 lahir di Australia tahun 1981 sebagai bayi tabung pertama Indonesia.

Tanggal 15 Februari 1989 Syafruddin Prawiranegara meninggal di Jakarta pada umur 77 tahun. Pemerintah Indonesia mengangkat Syafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional.

Referensi : id.wikipedia.org
                 www.vivanews.com

Selasa, 22 Mei 2012

Dewi Sartika, pejuang pendidikan wanita dari Tanah Pasundan

     " Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi Suatu Bangsa "

Selain RA Kartini Indonesia juga memiliki Tokoh Pahlawan Wanita Raden Dewi Sartika. Ia memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Meskipun bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Dari pamannya itu, ia mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Umur sepuluh tahun Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan Bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Pada waktu itu belum ada anak dari kalangan rakyat jelata yang memiliki kamampuan baca tulis dan bahasa Belanda.

" Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. "
16 Juli 1904 Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri ( Sekolah Perempuan ) di Bandung. Tenaga pengajar terdiri dari tiga orang, Dewi Sartika, Ny. Poerwa, Ny. Oewid ( keduanya adalah sepupu Dewi Sartika ). Menggunakan ruang pendopo kabupaten Bandung. Murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda.  

Sekolah Raden Dewi Sartika
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 ia memperbaiki sekolahnya dengan menggunakan harta pribadinya.

Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di Tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi Sartika dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap.

Beberapa tahun kemudian bermunculan beberapa Sakola Istri di Tanah Pasundan, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten Pasundan. Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, Sumatera, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Tahun 1906 Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik. Pasangan suami isteri itu memiliki kesamaan visi dalam memajukan pendidikan masyarakat di lingkungannya.

Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika yang sudah berusia 62 tahun wafat tanggal 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Presiden Soekarno memutuskan bahwa Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden no 152/1966.

Referensi : id.wikipedia.org
                     multi sumber