Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

Rohana Kudus, Pahlawan Pejuang Pendidikan Wanita Indonesia



“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.  Dengan bijak Rohana Kudus menjelaskan. 

Rohana Kudus, nama wanita pejuang pendidikan wanita Indonesia ini tidak sepopuler RA Kartini, walaupun ia hidup di era yang sama dengan  Kartini. Dan tak ada bait lagu untuk mengapresiasi perjuangannya, seperti halnya lagu untuk RA Kartini. Meskipun banyak kiprahnya untuk kemajuan wanita Indonesia. Ia memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan perempuan Indonesia. Ia berjuang dan berkorban agar perempuan Indonesia mendapat pendidikan setara dengan laki-laki. Ia juga pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Rohana tidak mendapat pendidikan secara formal, namun semangat belajarnya sangat tinggi. Pada usia duabelas tahun ia sudah bisa membaca dan menulis abjad Arab, Latin dan Arab-Melayu, dan pandai berbahasa Belanda.  Dan pada usia duabelas tahun ia mengajarkan teman-teman sebayanya membaca dan menulis. Rohana belajar menjahit, menyulam, merenda dan merajut dari seorang perempuan Belanda, isteri pejabat Belanda atasan ayahnya. Ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup dan pendidikan di Eropa.

Kemudian pada tanggal 11 Februaru 1911 ia mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan, Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini mengajarkan murid-murid keterampilan tulis-baca, mengelola keuangan, budi pekerti, pendidikan Agama dan Bahasa Belanda. Banyak rintangan yang dihadapinya, terutama dari pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang.

Rohana memasarkan hasil kerajinan para muridnya ke Eropa. Sekolah Kerajinan Amai Setia yang didirikan Rohana telah menjadi basis industri rumah tangga serta koperasi jual beli dan simpan pinjam pertama di Minangkabau yang semua anggotanya perempuan.

Banyak petinggi Belanda yang kagum akan perjuangan dan hasil kerja kerasnya. Dan kiprahnya ini menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya banyak ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.

Tanggal 10 Juli 1912 Rohana mendirikan surat kabar perempuan pertama yang dinamai “Sunting Melayu”. Pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya semuanya perempuan.

Semakin sukses perjuangan Rohana, semakin besar pula badai cobaan menerpa. 22 Oktober 1916, salah seorang muridnya yang sudah sukses mengkhianatinya dan menuduhnya melakukan penyelewengan keuangan, dan Rohana diminta turun dari jabatannya sebagai Direktris dan Peningmeester di Sekolah Amai Setia yang didirikannya. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan itu dinyatakan tidak memiliki bukti. Jabatan Direktris dikembalikan kepadanya, tapi ia menolaknya. Ia memilih pulang ke Bukittinggi dan mendirikan sebuah sekolah yang dinamai “Rohana School”.

Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Ia mencetuskan ide penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

 Rohana Kudus lahir 20 Desember di Koto Gadang , Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada usia 24 tahun Rohana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaries.  Sepanjang hidupnya Rohana menghabiskan waktu untuk belajar dan mengajar. Ia melakukan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan politik. Ia dianugerahi penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia. Rohana wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972.

Sumber :id.wikipedia.org

Senin, 09 Juli 2012

Plato, Filsuf Yunani murid Socrates


Patung Plato
 
"Orang bijak berbicara karena mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan; orang dungu berbicara karena mereka harus berbicara."

Plato, seorang filsuf Yunani, salah satu dari murid Socrates, lahir sekitar 427 SM dan meninggal ketika sedang menulis pada 347 SM. Plato lahir dari keluarga bangsawan di Athena. Ia juga seorang matematikawan dan pendiri Akademi Platonik di Athena, sekolah tinggi pertama di dunia barat. ‘ Politeia /Republik’ adalah salah satu buku karyanya yang paling terkenal, berisi uraian garis besar pandangan-pandangannya. 

Menurut Plato, idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan awal dari realitas, non material, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea saling berkaitan satu sama lain.  Dunia idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah.Dunia indrawi hanyalah refleksi daripada dunia idea, selalu terjadi perubahan, fana, dapat rusak dan dapat mati.

Papirus potongan karya Plato yang berjudul 'Republic'
Plato memiliki pandangan negative terhadap karya seni. Menurutnya karya seni itu hanya tiruan dari realita, realita yang ada adalah tiruan dari yang asli. Yang asli itu yang berada dalam ide, jauh lebih unggul, lebih baik, lebih indah daripada realita.

Keindahan yang sesungguhnya terletak dalam dunia idea. Kesederhanaan adalah ciri dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun karya seni. Keindahan yang ada di alam semesta adalah keindahan semu.



Karya-karya Plato memiliki beberapa ciri khas :
Lukisan Plato

Bersifat Sokratik
Karena ia murid Socrates, karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Socrates.  Ia juga sering menampilkan karangan Socrates sebagai topic utamanya.

Berbentuk dialog
Hampir semua karyanya ditulis dalam bentuk dialog.

Adanya mitos-mitos
Banyak menggunakan mitos-mitos dalam menjelaskan ajarannya yang abstrak dan adiduniawi.



"Setiap sebuah hati menyanyikan sebuah lagu, sebuah hati yang lain berbisik membalas. Siapa yang berharap untuk bernyanyi selalu menemukan sebuah lagu. Pada sentuhan seorang kekasih, setiap orang menjadi penyair."

"Cinta adalah penyakit mental yang serius."

"Kegilaan akan cinta adalah anugrah terbesar dari surga."

"Musik memberi sebuah jiwa kepada dunia, sayap kepada pikiran, terbang ke dunia imajinasi dan hidup untuk segala sesuatu."

"Kita dapat memaafkan seorang anak yang takut akan gelap; tragedy yang sebenarnya adalah ketika seorang dewasa takut akan cahaya."

"Hanya orang mati yang telah melihat akhir dari perang."

"Kita dapat memahami seseorang dalam satu jam permainan daripada satu tahun percakapan."

"Disana ada kebenaran di dalam wine dan anak-anak."

"Jangan pernah mengecilkan hati seseorang yang terus menerus membuat tindakan untuk kemajuan, tak masalah betapapun lambatnya dia."

"Orang yang menceritakan sejarah mengatur masyarakat."

"Ada tiga golongan orang; pecinta kebijaksanaan, pecinta kehormatan, dan pecinta kemenangan."

"Saya sedang mencoba untuk berpikir, jangan membingungkan saya dengan realita."

"Tingkah laku manusia berasal dari tiga sumber : minat/gairah, emosi, dan pengetahuan."


“Jika para wanita mengharapkan untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki, kita harus mengajarkan kepada mereka hal yang sama.”

“Pendidikan mengajarkan anak-anak kita minat terhadap segala sesuatu yang baik.”

“Tindakan yang baik memberikan kita kekuatan dan meng-inspirasi orang lain.”

“Karakter adalah kebiasaan yang berlangsung lama dan terus menerus.”

“Nilai dari seorang pria adalah apa yang dia lakukan dengan kekuasaannya.”

“Buku adalah anak-anak abadi yang menentang bapaknya.”

“Awal adalah bagian terpenting dari sebuah pekerjaan.”

“Menulis adalah geometri jiwa.”

“Kemenangan terbaik dan utama adalah bertarung melawan diri sendiri.”

“Rumah yang terdapat perpustakaan di dalamnya memiliki jiwa.”


“Objek pendidikan adalah untuk mengajarkan kita untuk mencintai keindahan.”

“Orang yang mendapati bahwa dalam hidupnya dia telah melakukan banyak kesalahan sering terbangun di tengah malam dengan perasaan penuh teror, seperti anak kecil yang mendapatkan mimpi buruk, dan hidupnya penuh dengan firasat buruk. Tetapi orang yang dengan sadar untuk tidak melakukan kesalahan hidupnya penuh dengan kegembiraan dan menjalani masa tua yang nyaman tentram.”

“Menurut mitologi Yunani, manusia diciptakan dengan empat tangan, empat kaki dan satu kepala dengan dua wajah. Dewa Zeus membaginya kedalam dua bagian terpisah, mengutuk mereka untuk menghabiskan hidupnya dalam pencarian bagian diri mereka yang lainnya.”

“Puisi lebih mendekati kebenaran yang vital daripada sejarah.”

“Kata-kata yang salah bukan hanya jahat, tetapi mempengaruhi jiwa-jiwa dengan kejahatan.”

“Tidak ada kesejahteraan yang dapat membuat seorang pria jahat berdamai dengan dirinya.”

“Kemakmuran adalah bapak dari kemewahan dan kelambanan; dan kemiskinan adalah bapak dari kejahatan, kekejaman dan ketidakpuasan.”

“Kecantikan mendustai mata penonton.”

“Semua yang saya tahu adalah kebodohanku.”

“Biarkan orang berbicara kebenaran dan hakim memutuskan dengan adil.”

“Saya akan mengajarkan anak-anak musik, fisika, dan filosofi; tetapi yang terpenting adalah musik, pola-pola dalam musik dan semua seni adalah kunci untuk pelajaran.”

“Jiwa manusia itu abadi.”

“Saya tahu suatu hal bahwa saya tidak tahu apapun.”

“Ilmu pengetahuan menjadi jahat jika tujuannya bukan kebajikan.”

“Berbaik hatilah, karena semua orang yang kau temui sedang berjuang dalam pertempuran yang lebih sulit.”

“Manusia tidak selalu benar dalam segala hal, dan tidak selalu salah dalam segala hal.”


Referensi : id.wikipedia.org/wiki/Plato
               en.wikipedia.org/wiki/Plato 
               www.goodreads.com/author/quotes/879.Plato

  

Selasa, 22 Mei 2012

Dewi Sartika, pejuang pendidikan wanita dari Tanah Pasundan

     " Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi Suatu Bangsa "

Selain RA Kartini Indonesia juga memiliki Tokoh Pahlawan Wanita Raden Dewi Sartika. Ia memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Meskipun bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Dari pamannya itu, ia mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Umur sepuluh tahun Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan Bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Pada waktu itu belum ada anak dari kalangan rakyat jelata yang memiliki kamampuan baca tulis dan bahasa Belanda.

" Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. "
16 Juli 1904 Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri ( Sekolah Perempuan ) di Bandung. Tenaga pengajar terdiri dari tiga orang, Dewi Sartika, Ny. Poerwa, Ny. Oewid ( keduanya adalah sepupu Dewi Sartika ). Menggunakan ruang pendopo kabupaten Bandung. Murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda.  

Sekolah Raden Dewi Sartika
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 ia memperbaiki sekolahnya dengan menggunakan harta pribadinya.

Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di Tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi Sartika dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap.

Beberapa tahun kemudian bermunculan beberapa Sakola Istri di Tanah Pasundan, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten Pasundan. Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, Sumatera, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Tahun 1906 Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik. Pasangan suami isteri itu memiliki kesamaan visi dalam memajukan pendidikan masyarakat di lingkungannya.

Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika yang sudah berusia 62 tahun wafat tanggal 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Presiden Soekarno memutuskan bahwa Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden no 152/1966.

Referensi : id.wikipedia.org
                     multi sumber