Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

Rohana Kudus, Pahlawan Pejuang Pendidikan Wanita Indonesia



“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.  Dengan bijak Rohana Kudus menjelaskan. 

Rohana Kudus, nama wanita pejuang pendidikan wanita Indonesia ini tidak sepopuler RA Kartini, walaupun ia hidup di era yang sama dengan  Kartini. Dan tak ada bait lagu untuk mengapresiasi perjuangannya, seperti halnya lagu untuk RA Kartini. Meskipun banyak kiprahnya untuk kemajuan wanita Indonesia. Ia memiliki komitmen yang kuat terhadap pendidikan perempuan Indonesia. Ia berjuang dan berkorban agar perempuan Indonesia mendapat pendidikan setara dengan laki-laki. Ia juga pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Rohana tidak mendapat pendidikan secara formal, namun semangat belajarnya sangat tinggi. Pada usia duabelas tahun ia sudah bisa membaca dan menulis abjad Arab, Latin dan Arab-Melayu, dan pandai berbahasa Belanda.  Dan pada usia duabelas tahun ia mengajarkan teman-teman sebayanya membaca dan menulis. Rohana belajar menjahit, menyulam, merenda dan merajut dari seorang perempuan Belanda, isteri pejabat Belanda atasan ayahnya. Ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup dan pendidikan di Eropa.

Kemudian pada tanggal 11 Februaru 1911 ia mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan, Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini mengajarkan murid-murid keterampilan tulis-baca, mengelola keuangan, budi pekerti, pendidikan Agama dan Bahasa Belanda. Banyak rintangan yang dihadapinya, terutama dari pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang.

Rohana memasarkan hasil kerajinan para muridnya ke Eropa. Sekolah Kerajinan Amai Setia yang didirikan Rohana telah menjadi basis industri rumah tangga serta koperasi jual beli dan simpan pinjam pertama di Minangkabau yang semua anggotanya perempuan.

Banyak petinggi Belanda yang kagum akan perjuangan dan hasil kerja kerasnya. Dan kiprahnya ini menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya banyak ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.

Tanggal 10 Juli 1912 Rohana mendirikan surat kabar perempuan pertama yang dinamai “Sunting Melayu”. Pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya semuanya perempuan.

Semakin sukses perjuangan Rohana, semakin besar pula badai cobaan menerpa. 22 Oktober 1916, salah seorang muridnya yang sudah sukses mengkhianatinya dan menuduhnya melakukan penyelewengan keuangan, dan Rohana diminta turun dari jabatannya sebagai Direktris dan Peningmeester di Sekolah Amai Setia yang didirikannya. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan itu dinyatakan tidak memiliki bukti. Jabatan Direktris dikembalikan kepadanya, tapi ia menolaknya. Ia memilih pulang ke Bukittinggi dan mendirikan sebuah sekolah yang dinamai “Rohana School”.

Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Ia mencetuskan ide penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

 Rohana Kudus lahir 20 Desember di Koto Gadang , Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada usia 24 tahun Rohana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaries.  Sepanjang hidupnya Rohana menghabiskan waktu untuk belajar dan mengajar. Ia melakukan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan politik. Ia dianugerahi penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia. Rohana wafat di Jakarta pada 17 Agustus 1972.

Sumber :id.wikipedia.org

Rabu, 01 Agustus 2012

Raden Saleh, Maestro Pelukis Indonesia


Raden Saleh
Raden Saleh Sjarif Boestaman atau dikenal dengan panggilan Raden Saleh adalah maestro pelukis Indonesia awal abad 19. Lahir di Semarang, tahun 1807. Ia belajar melukis pada pelukis Belgia, A.J Payen, mahaguru di Akademi Senirupa Doornik, Belanda. Payen mengusulkan Raden Saleh untuk belajar ke Belanda dan meminta dukungan kepada Gubernur Jenderal Van Der Capellen, yang saat itu berkuasa. Setelah melihat bakat melukis Raden Saleh, Der Capellen bersedia membiayai pendidikannya di Belanda. Raden Saleh kemudian pergi ke Eropa untuk memperdalam keahlian melukisnya dibawah bimbingan Cornelius Kruseman. Namun keberangkatannya ke Belanda diduga membawa misi lain, Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda De Linge tentang adat istiadat orang Jawa, Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Ia tinggal di Eropa selama 20 tahun. Tahun 1851 ia pulang ke Indonesia bersama isterinya yang warga Negara Belanda.  
Potret Diri Raden Saleh

Selama belajar di Belanda, selain melukis Saleh tertarik untuk mempelajari ilmu pasti, ilmu ukur tanah dan pesawat. Ia pernah tinggal di Jerman selama lima tahun sebagai tamu kehormatan kerajaan. Tahun 1844 ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda. Meski menjadi seorang pelukis kerajaan Belanda, ia sering mengkritik politik pemerintah Hindia Belanda, yang diwujudkannya dalam lukisan ‘Penangkapan Pangeran Dipenogoro’.

Beberapa lukisan karya Raden Saleh dipamerkan di museum Louvre di Paris, Perancis, dan Rijkmuseum di Amsterdam, Belanda. Banyak bangsawan Belgia dan Jerman serta pejabat Belanda yang mengagumi karya Raden Saleh.

Raden Saleh wafat 23 April 1880 di Bogor.



Tentang lukisan ‘Penangkapan Pangeran Dipenogoro’.

Penangkapan Pangeran Dipenogoro
Lukisan ini dibuat 1857. Pangeran Dipenogoro dan pengikutnya digambarkan tidak membawa senjata. Keris di pinggang pun tak ada. Maknanya Pangeran Dipenogoro berniat baik. Peristiwanya terjadi di Bulan Ramadhan di kediaman Residen Magelang. Jendral De Kock tahu Pangeran Dipenogoro dalam keadaan tidak siap berperang, sehingga dengan mudah menangkapnya.  Dipenogoro berpose siaga dan tegang, tangan kirinya menggenggam tasbih. Pada saat terjadinya peristiwa Raden Saleh lagi berada di Belanda. Beberapa tahun kemudian ia pulang ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut.

 Berikut ini beberapa lukisan karya Raden Saleh :







Jendral Willem Daendels


Kyai Maja
















Referensi : id.wikipedia.org
                en.wikipedia.org
                multi sumber







Selasa, 05 Juni 2012

Syafruddin Prawiranegara, Presiden RI yang terlupakan

Mr. Syafruddin Prawiranegara, mungkin banyak dari kita terutama anak-anak muda bangsa Indonesia yang tidak mengenal dan tidak mengetahui tentang Presiden RI ini. Dia mengisi kekosongan pemerintahan karena pada waktu itu  Soekarno dan Moehammad Hatta  ditangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka pada Agresi Militer II 19 Desember 1948. Syafruddin Prawiranegara saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran RI. Secara de jure jabatan Presiden RI dipegang oleh Syafruddin Prawiranegara dengan sebutan Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Dalam perspektif hukum internasional dan hukum tata negara tidak boleh ada kekosongan jabatan Kepala Negara dari suatu negara yang merdeka dan berdaulat, dan Ketua PDRI saat itu adalah Syafruddin Prawiranegara. Secara de facto, Soekarno sebagai Presiden RI.

Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “ Kami Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 6 pagi Belanda telah memulai serangannya atas Ibu Kota Yogyakarta. Jika dalam keadaan pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.” . Demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, kekosongan pemerintahan tidak boleh terjadi. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 22 Desember 1948 di Halaban, Sumatera Selatan. Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden merangkap Menteri Pertahanan, Menteri Penerangan dan Menteri Luar Negeri. Kabinetnya terdiri dari Mr. T.M Hasan, Mr. S.M Rasyid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul,  Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto, dan Jendral Soedirman sebagai Panglima Besar Angkatan Perang. Syafruddin menjalankan pemerintahan dari hutan belantara dan terus menerus mempropagandakan bahwa pemerintahan Indonesia masih ada. Atas usaha Pemerintah Darurat Republik Indonesia akhirnya Belanda terpaksa menghentikan agresi militer dan melakukan perundingan dengan Indonesia. Perjanjian Roem – Royen mengakhiri upaya Belanda dan membebaskan Soekarno – Hatta. 14 Juli 1949 Syafruddin menyerahkan kembali mandat kepada Presiden Soekarno.

Jabatan Syafruddin Prawiranegara di Pemerintahan :
-    Wakil Perdana Menteri Indonesia 4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949
-    Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
-    Menteri Keuangan Republik Indonesia ke-5  dari 2 Oktober 1946 s.d  26 Juni 1947
-    Menteri Perdagangan Republik Indonesia ke-5 dari 29 Januari 1948 s.d 4 Agustus 1949
-    Menteri Pertanian Republik Indonesia ke-5 dari 29 Januari 1948 s.d 4 Agustus 1949
-    Menteri Keuangan Republik Indonesia 6 September 1950 s.d 27 April 1951

Maret 1950 Syafruddin melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp. 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh, dikenal dengan julukan ‘ Gunting Syafruddin ‘.

Tahun 1958 PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) berdiri akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah saat itu, yang dianggap sebagai suatu pemberontakan. Syafruddin merupakan Presiden PRRI yang berbasis di Sumatera Tengah. Agustus 1958 PRRI berakhir.

Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911, memiliki darah Sunda Banten dan Minangkabau. Syafruddin menempuh pendidikan di ELS tahun 1925, MULO di Madiun tahun 1928, dan AMS di Bandung tahun 1931, kemudian menempuh pendidikan Hukum di Rechtshogechool di Jakarta ( sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia ) tahun 1939.

Syafruddin menikah dengan Tengku Halimah Syehabuddin dan dikaruniai delapan orang anak dan lima belas cucu. Cucu ke-13 lahir di Australia tahun 1981 sebagai bayi tabung pertama Indonesia.

Tanggal 15 Februari 1989 Syafruddin Prawiranegara meninggal di Jakarta pada umur 77 tahun. Pemerintah Indonesia mengangkat Syafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional.

Referensi : id.wikipedia.org
                 www.vivanews.com

Selasa, 22 Mei 2012

Dewi Sartika, pejuang pendidikan wanita dari Tanah Pasundan

     " Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi Suatu Bangsa "

Selain RA Kartini Indonesia juga memiliki Tokoh Pahlawan Wanita Raden Dewi Sartika. Ia memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari keluarga priyayi Sunda, putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Meskipun bertentangan dengan adat waktu itu, ayah-ibunya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda. Setelah ayahnya wafat, Dewi Sartika diasuh oleh pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka. Dari pamannya itu, ia mendapatkan pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda, sementara wawasan kebudayaan Barat didapatkannya dari seorang nyonya Asisten Residen berkebangsaan Belanda.

Umur sepuluh tahun Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan Bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar. Pada waktu itu belum ada anak dari kalangan rakyat jelata yang memiliki kamampuan baca tulis dan bahasa Belanda.

" Bagaimana caranya agar bangsa kita bertambah maju? Hal itu oleh para pembesar sudah dipikirkan, yaitu kaum wanitanya harus maju pula, pintar seperti kaum laki-laki, sebab kaum wanita itu akan menjadi ibu. Merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu kepada anak-anak mereka, laki-laki maupun perempuan. "
16 Juli 1904 Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri ( Sekolah Perempuan ) di Bandung. Tenaga pengajar terdiri dari tiga orang, Dewi Sartika, Ny. Poerwa, Ny. Oewid ( keduanya adalah sepupu Dewi Sartika ). Menggunakan ruang pendopo kabupaten Bandung. Murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda.  

Sekolah Raden Dewi Sartika
Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910 ia memperbaiki sekolahnya dengan menggunakan harta pribadinya.

Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri.

Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di Tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yang didirikan Dewi Sartika.Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri Berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi Sartika dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap.

Beberapa tahun kemudian bermunculan beberapa Sakola Istri di Tanah Pasundan, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten Pasundan. Semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, Sumatera, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Tahun 1906 Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik. Pasangan suami isteri itu memiliki kesamaan visi dalam memajukan pendidikan masyarakat di lingkungannya.

Tahun 1947 terjadi Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika yang sudah berusia 62 tahun wafat tanggal 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

Presiden Soekarno memutuskan bahwa Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden no 152/1966.

Referensi : id.wikipedia.org
                     multi sumber

Selasa, 15 Mei 2012

Sultanah Safiatuddin, Ratu dari Negeri Aceh

Sultanah Safiatuddin memerintah Aceh selama 35 tahun dari 1641 s.d  1675 menggantikan suaminya, Sultan Iskandar Tsani ( 1637 – 1641 ). Lahir tahun 1612, anak tertua dari Sultan Iskandar Muda, dengan nama Putri Sri Alam. Ia putri yang rupawan dan cerdas.  Ia  gemar menulis sajak dan cerita. Ia membantu berdirinya perpustakaan di negerinya dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Ia sangat memajukan pendidikan bagi pria dan wanita. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia juga menguasai bahasa Spanyol, Arab, Persia dan Urdu. Ia dinikahkan dengan Iskandar Thani, Putra Sultan Pahang.

Sultanah Safiatuddin turut andil dalam Perang Malaka tahun 1639. Ia membentuk barisan perempuan pengawal istana untuk berperang. Usaha-usaha Belanda dan VOC tidak berhasil masuk ke Aceh. Ia meneruskan tradisi pemberian hadiah tanah kepada para pahlawan perang. Ia memerintah dengan bijak dan cerdas. Pada masa pemerintahannya hukum dijalankan dengan baik. Ilmu pengetahuan dan Sastra berkembang pesat pada saat itu.  Ia sangat dihormati oleh rakyatnya dan disegani oleh Belanda, Portugis, Inggris, India dan Arab.    
Monumen Taman Ratu Safiatuddin

Sultanah Safiatuddin mempunyai dua orang ulama penasihat Negara yaitu, Nuruddin ar- Raniri dan Abdurrauf Singkil.  Ia meminta Nuruddin menulis sebuah buku untuk kepentingan rakyatnya dengan judul     “ Hidayatul Imam “.

Sang Ratu Aceh ini meninggal 23 Oktober 1675.

Referensi : id.wikipedia.org

Senin, 14 Mei 2012

RA Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia

RA Kartini
"...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas   nama agama itu..."


“Apa pedulinya, agama mana yang dipeluk orang dan bangsa mana dia, jiwa yang mulia tetap juga jiwa yang mulia, dan orang yang budiman tetap juga orang yang budiman. Hamba Allah ada di tiap-tiap agama, di tengah-tengah tiap-tiap bangsa.”

Indonesia memiliki tokoh pahlawan wanita yang memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan wanita bangsa Indonesia. Dialah Raden Ajeng Kartini, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Kartini lahir di kalangan bangsawan Jawa, ia anak ke-5 dari 11 bersaudara  Bupati Jepara, Raden Mas Adipati  Ario Sosroningrat. Kartini sekolah di ELS ( Europe Lagere School ) sampai usia 12 tahun, setelah usia itu ia harus tinggal di rumah dan dipingit. Di ELS ia belajar Bahasa Belanda. Kepiawaian berbahasa Belanda inilah yang membantunya berkorespondesi dengan tema-temannya di Belanda. Kartini banyak memperoleh wawasan tentang hak-hak perempuan di Belanda. Kartini juga banyak membaca surat kabar dan majalah dari Belanda dan Eropa serta majalah berbahasa Belanda di Semarang, De Locomotief. Rosa Abendanon adalah salah satu temannya di Belanda yang paling banyak mendukungnya dan banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran Kartini untuk memajukan perempuan pribumi, yang waktu itu berada pada status sosial yang rendah. Kartini juga sangat menyukai buku Max Havelaar karya Multatuli.

Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia untuk memperoleh kebebasan untuk menuntut ilmu, otonomi dan persamaan hukum. Pada saat itu perempuan pribumi terkungkung oleh adat, tidak bebas menuntut ilmu di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan lelaki yang telah dijodohkan oleh keluarganya, dan harus sedia dimadu.

RA Kartini dan KRM A.A.S Djojo Adhiningrat
Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, sebagai istri keempat. Mereka menikah 12 November 1903. Suaminya mendukung perjuangan Kartini dan mendukung pendirian sekolah wanita di Rembang. Mereka dikarunia seorang anak, RM Soesalit, 13 September 1904. Beberapa hari setelah melahirkan Kartini menghembuskan nafas terakhirnya 17 September 1904 pada usia 25 tahun.

Setelah RA Kartini meninggal didirikan Yayasan Kartini oleh keluarga dari seorang tokoh politik Van Deventer. Yayasan ini mendukung beberapa sekolah wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Mr. J.H Abendanon, Menteri Kebudayaan Agama dan Kerajinan saat itu,  membukukan surat-surat Kartini kepada teman-temannya, dengan judul       “ Door Duisternis tot Licht “ ( Dari Kegelapan Menuju Cahaya ) tahun 1911. Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul “ Habis Gelap Terbitlah Terang “.

Sekolah wanita Kartini
Tiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, untuk mengenang jasa-jasa tokoh emansipasi wanita nasional ini.

Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Surat Kartini kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)



Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)
Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya (Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Di wilayah-wilayah yang diperintah langsung (oleh Belanda), nasib wanita-wanita tidak separah saudara-saudara mereka di daerah-daerah yang diperintah kesultanan, seperti di Surakarta dan Jogjakarta. Disini wanita sudah untung kalau suaminya memiliki 1, 2,3 atau 4 isteri. Di daerah-daerah kesultanan ini, wanita-wanita disitu akan menertawakannya. Sulit menemukan lelaki dengan 1 isteri. Diantara kaum aristokrat, khususnya dlm lingkungan sultan, para suami biiasanya memiliki 26 isteri. Apakah kondisi ini akan berlanjut, Stella ?
Bangsa kami begitu terbiasa dgn adat ini dan menganggap cara dimadu lelaki ini sebagai satu-satunya cara bagi wanita untuuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi saya tahu dari wanita-wanita yang saya kenal, dalam hati mereka, mereka mengutuk hak-hak lelaki ini. Tetapi kutukan tidak ada gunanya, sesuatu harus dilakukan.
… Ya, Stella, saya juga tahu bahwa di Eropa keadaan moralitas lelaki juga tragis …  tetapi ibu-ibu muda di sana bisa berbuat lebih banyak. Saya ingin sekali mendapatkan anak-anak, lelaki atau perempuan … Tetapi yg paling penting saya tidak pernah akan melanjutkan adat menyedihkan dimana anak lelaki lebih diprioritaskan daripada anak perempuan. Bahkan sejak kecil, lelaki diajarkan untuk merendahkan wanita. Sering saya mendengar ibu-ibu mengatakan kepada anak-anak lelaki mereka kalau mereka jatuh dan menangis:”Jangan cengeng seperti perempuan!”   ( Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, Agustus 1901 ).


Referensi :  id.wikipedia.org
                     id.wikiquote.org
                     multisumber