Selasa, 11 Juli 2017

Dongeng pengantar tidur : Telaga Warna

Jaman dahulu kala ada sebuah kerajaan kecil di tanah Sunda. Sang Raja sangat mendambakan anak. Setelah sekian lama Raja dan Permaisuri menikah belum juga dikaruniai Putera atau puteri yang akan mewarisi kerajaannya kelak.

Suatu hari keinginan Raja terkabul. Permaisuri hamil. Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi yang cantik. Raja dan Permaisuri sangat bahagia.

Hari berlalu..bayi cantik berubah jadi gadis remaja yang sangat jelita. Namun, kejelitaan wajah tidak seiring dengan perangainya yang buruk. Meskipun kelakuan Puteri sering membuat Raja dan Permaisuri sedih, Raja sangat menyayangi puterinya. Apapun keinginan Puteri selalu dipenuhinya, tapi Sang Puteri tak pernah merasa puas. Hingga suatu hari Sang Raja sudah tak dapat lagi memenuhi keinginan Puteri, membuat Puteri marah besar. Puteri melemparkan semua perhiasan yang terdiri dari emas permata dan berlian ke halaman istana.

“Kecantikan tidak terletak pada wajah,tapi terpancar dari dalam hati.” – Khalil Gibran

Ajaib, dari dalam tanah yang dilempari permata berlian itu keluar air. Terus menerus..tanah itu mengeluarkan air, sehinggan akhirnya membentuk sebuah telaga. Air telaga itu memancarkah cahaya yang berwarna-warni. Sangat Indah. Telaga itu disebut telaga warna.


Selasa, 04 Juli 2017

Kepada dia yang merindu

" Carilah ia untuk bersamamu menghidupkan Sang Waktu ! Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu. " - Khalil Gibran

" Dan jika kau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?.Kau ingin mengukur Waktu yang tanpa ukuran dan tak teratur? " - Khalil Gibran

The Tourist

" Aku akan berjalan bersama mereka yang berjalan. Karena aku tidak akan berdiam diri seperti penonton yang menyaksikan perarakan berlalu." - Khalil Gibran

Beberapa bulan yang lalu aku dan adikku berkunjung ke Bangkok (Thailand). Bukan karena kami tak suka dengan tempat wisata negeri sendiri. Berkunjung ke Negara yang berbeda bahasa dan bangsa memiliki sensasi tersendiri. Tujuanku pergi kesana adalah untuk memenuhi rasa ingin tahu mengenai negeri lain. Ingin tahu seperti apa rasanya tinggal di negeri yang terkenal dengan sebutan negeri gajah putih ini ( selama disana saya belum punya kesempatan bertemu dengan gajah putih), meskipun hanya beberapa hari saja, mencicipi kuliner khas-nya, berbelanja di pasar tradisional-nya, berkomunikasi dengan penduduk lokal. Kami mendadak jadi turis.


mencicipi kuliner kota Bangkok di Chatuchak Market
es krim khas Thailand
Minum kopi yang dibeli di Family Mart, mini market seberang Nasa Vegas Hotel tempat kami menginap, di pagi hari sebelum explore kota Bangkok.


Berbeda dengan diriku, turis yang satu ini, yaitu adik perempuanku, memiliki tujuan untuk selfie ria dengan latar belakang kota Bangkok. Mungkin selfie di negeri gajah putih ini memiliki sensasi tersendiri, meskipun banyak tempat wisata di Indonesia yang memiliki panorama alam yang jauh lebih menarik dan instagramable. Bahkan, suasana kota Bangkok tak jauh berbeda dengan Jakarta, udaranya pun sepanas dan segersang Jakarta. Namun, seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih menarik.

di Bandara Don Mueang
di ruang tunggu bandara Don Mueang
di Ramkhamhaeng Road
bersama secangkir espresso di sebuah kafe di Wat Arun

Kelebihan kota Bangkok dari Jakarta adalah transportasi umum yang lebih baik dan teratur (sistem kereta api yang terdiri dari BTS, MRT, ARL). Banyak akses menuju mall-mall, pusat perbelanjaan, tempat wisata, bandara, serta hotel yang terhubung dengan kereta api, sehingga mempermudah turis menjelajah kota. Satu lagi,….ssstt… ternyata kuliner di Bangkok lebih murah dan enak daripada Jakarta.


skywalk/jembatan yang menghubungkan stasiun kereta dengan lobby Nasa Vegas Hotel



Senin, 03 Juli 2017

Tikus Desa dan Tikus Kota

“ Sahabatku yang papa, bahwa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgasana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati karena pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.” – Khalil Gibran

Suatu hari seekor tikus kota berkunjung ke tempat saudaranya di desa, seekor tikus desa. Tikus desa menyambutnya dengan wajah yang gembira, ia pun menjamu si tikus kota dengan senang hati. Tikus desa menyajikan tangkai gandum, akar-akaran dan biji-bijian. Namun ketika mereka bersantap, tikus kota hanya makan sedikit dan tampak tidak berselera. Agar tikus desa tidak tersinggung, ia makan sedikit demi sedikit.

Pada malam hari sebelum pergi tidur, mereka saling bercerita pengalaman hidup masing-masing. Si tikus desa terpesona dengan kehidupan mewah yang diceritakan oleh tikus kota. Ia pun ingin pergi ke kota.

Kemudian tikus desa pergi ke kota bersama tikus kota. Ia menginap di tempat tikus kota bersarang, di salah satu sudut gudang di sebuah rumah mewah dan megah.

Tikus desa berdecak kagum melihat tempat tinggal tikus kota. Matanya terbelalak melihat begitu banyak sisa-sisa makanan enak di atas meja makan. Pemilik rumah habis mengadakan pesta. Tikus desa dan tikus kota menghampiri makanan tersebut dan menggigit sedikit remah kue, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seekor kucing, mereka lalu bersembunyi.

Ketika ruangan tampak sepi, mereka kembali mendekati sisa-sisa makanan . Mereka kembali terkejut…lalu bersembunyi…pelayan dan seekor anjing datang. Dan pelayan membersihkan semua sisa-sisa makanan dari atas meja.

Jantung tikus desa berdegup kencang karena ketakutan. Ia pun berpamit kepada tikus kota untuk segera pulang ke desa.

Tikus desa memang hidup sederhana, makan seadanya, tapi ia merasa nyaman dan aman hidup di desa. Ia tak mau lagi pergi ke kota.

Hidup miskin dari sumber yang aman dan  halal lebih baik daripada hidup mewah  dari sumber yang tidak halal. Hidup sederhana dalam kenyamanan lebih indah daripada hidup berkelimpahan harta tapi selalu dibayangi ketakutan.



Selasa, 27 Juni 2017

Puteri dan sebutir kacang polong

" Kejujuran adalah sebuah kebaikan terdalam yang mengajarkan kita untuk bersyukur pada hidup kita sendiri dan membagi kebahagiaan dengan orang lain." - Khalil Giran

Di sebuah negeri yang makmur dan damai, hiduplah seorang Pangeran muda tampan. Usianya sudah cukup matang untuk memiliki pendamping, ia juga ingin segera menikah. Meskipun banyak gadis cantik yang berharap untuk menjadi kekasihnya, ia tidak bisa memilih salah satunya, belum ada yang sesuai dengan hatinya.Pangeran tampan ini juga sudah beberapa kali mencoba menjalin asmara dengan beberapa gadis, tapi masih belum juga bisa menentukan pilihannya.

Hingga suatu malam yang diiringi hujan lebat, terdengar suara ketukan di pintu, penjaga pun segera membukakan pintu. Betapa terkejutnya Sang Pangeran, diluar ada seorang gadis berpakaian lusuh dan basah kuyup. Meskipun pakaiannya tidak layak untuk dikenakan oleh seorang puteri bangsawan, kecantikan wajahnya dan keanggunannya tidaklah hilang. Gadis itu dengan percaya diri memperkenalkan diri sebagai seorang puteri bangsawan dari sebuah negeri yang jauh, dan ia juga meminta tumpangan untuk menginap semalam saja. Pangeran pun tidak menolaknya dan segera memerintah para pelayan untuk mempersiapkan sebuah kamar untuk puteri itu.Pangeran dan Permaisuri membisiki pelayan untuk menaruh sebutir kacang polong dibawah kasur sang puteri.

Keesokan harinya, setelah Sang Puteri terbangun, Permaisuri mengundangnya untuk sarapan pagi bersama.

Ketika mereka tengah bersantap, Permaisuri bertanya pada puteri, " Bagaimana dengan tidurmu semalam, Puteri? Apa tidurmu nyenyak?"
Puteri pun menjawab, " Tidak, permaisuri. Semalaman saya tidak bisa tidur, terasa ada sesuatu yang mengganjal dibawah kasur, yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak."
Suatu jawaban yang tidak tahu berterima kasih.

Namun jawaban puteri yang sedikit tidak sopan itu telah membuat Sang Pangeran terpesona. Pangeran berpikir, gadis ini begitu sensitif sehingga bisa merasakan sebutir kacang polong dibawah kasurnya. Inilah puteri bangsawan sejati, puteri yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi untuk merasakan hal-hal yang tak terlihat. Sifat ini yang diinginkan pangeran dari Ratunya kelak. Inilah yang dicari Sang Pangeran.

Sang puteri bangsawan ini tidak berpura-pura bersikap santai dan menyenangkan untuk mengambil hati sang pangeran. Puteri yakin apabila Pangeran benar-benar mencintainya, ia akan menerima apa adanya.

Puteri bangsawan yang sensitif ini memiliki sifat-sifat baik yang membuat kagum Pangeran. Kejujuran, kepercayaan diri dan kepekaan yang tinggi telah membuat Pengeran terpesona.

" Engkau adalah idola seseorang, siapapun dirimu adanya. Bersabarlah hingga engkau mendapatkan seseorang yang benar-benar menginginkanmu." - anonim

Minggu, 25 Juni 2017

Horison Palma Pangandaran, sebuah tempat bersantai bersama keluarga

" Kita tidak tahu bagaimana hari esok,yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini " - ( Samuel Taylor Colleridge )

Sejenak berhenti dari rutinitas kerja dan bersantai bersama keluarga sangat menyenangkan. Kali ini kami sekeluarga memilih untuk bersantai saja di Horison Palma Pangandaran, sebuah hotel di tepi pantai barat Pangandaran.

kamar type Deluxe

kamar mandi
 Para tamu hotel disuguhi minuman wellcome drink di siang hari dan ronde/wedang jahe pada malam hari yang disediakan di lobby.

ronde/wedang jahe

Point lebih dari hotel ini selain lokasinya di tepi pantai adalah rooftop di hotel. Disini kita bisa menikmati sunset tanpa harus keluar hotel, cukup naik ke rooftop dan bersantai sembari menikmati menu dari restoran yang ada di rooftop.

Tapi, kalau ingin menikmati sunset persis dari bibir pantai, cukup keluar hotel dan berjalan beberapa meter saja ke arah depan hotel. Dan bila ingin melihat sunrise di tepi pantai, berjalan keluar hotel beberapa meter ke arah belakang hotel.

duduk santai di rooftop

menanti sunset

my sister acts
my sister acts
pemandangan pantai dari rooftop
 
es krim gelato

Selain menikmati pemandangan pantai dari rooftop, kita juga bisa menikmati pemandangan pantai dari dalam kamar. Jendela kamar yang terbuat dari kaca yang lebar membuat kita leluasa melihat pemandangan pantai.


pemandangan pantai melalui jendela kamar

Kolam renang tersedia di lantai dasar.

my sister acts
Para keponakanku sangat suka nge-gym di hotel ini.

nge-gym sebelum sarapan

Oiya....hotel ini selalu penuh apalagi setiap long weekend, jadi harus pesan jauh-jauh hari, minimal tiga minggu sebelumnya, kalau gak begitu..gak bakal kebagian. 

Kamis, 25 Mei 2017

Wisata Cagar Alam Pangandaran

Aku berjalan selalu di pantai ini, antara pasir dan buih. Air pasang bakal menghapus jejakku, dan angin kencang menyembur hilang buih putih. Namun lautan dan pantai akan tinggal abadi. - Khalil Gibran

Setelah sarapan di hotel saya bersama para keponakan keluar hotel dan menyebrang jalan menuju Pantai Barat, yang letaknya persis di depan hotel tempat kami sekeluarga menginap. Kami cuma berjala beberapa langkah saja menuju pantai. Kemudian kami naik perahu, setelah sebelumnya kami tawar menawar harga sewa perahu, yang akhirnya disepakati sebesar Rp. 20.000,- per orang (sewa untuk pulang pergi dan masuk cagar alam).

naik perahu menuju cagar alam

pemandangan pantai di area cagar alam
 Puluhan meter dari bibir pantai kami melihat sebuah bangkai kapal asing illegal yang sudah berkarat.


bangkai kapal asing illegal



pasir yang berwarna putih di area cagar alam
Sekitar 10 menit kami sampai ke area cagar alam. Kami pun menginjakkan kaki di pasir putih.

banyak monyet-monyet berkeliaran
matahari mengintip dari balik dedaunan
jalan setapak di area hutan lindung

 Bersama para pengunjung lainnya kami melakukan olah raga jalan pagi dengan menyusuri jalan setapak di area hutan lindung.