Kamis, 23 Mei 2013

Angsa-angsa liar



Karya : Hans Christian Andersen
 

pic. from : feenzie.deviantart.com
" Bekerja dengan rasa cinta, berarti menyatukan diri sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak."  - Khalil Gibran -


 

Di sebuah negeri hiduplah seorang raja dengan sebelas putera dan satu puteri. Setiap hari para pengawal mengantar sebelas pangeran muda tampan ke sekolah mereka. Para pengawal tidak pernah merasa bosan dan lelah melakukan tugasnya, karena tingkah menggemaskan dari para pangeran. Kesebelas pangeran muda itu pergi ke sekolah dengan lencana kerajaan di dada dan pedang di pinggang kirinya. Mereka menulis dengan pensil berlian ,  dan mereka cepat menangkap pelajaran. Sang puteri kecil, Eliza, senang membuka dan memperhatikan gambar-gambar di buku gambar. 

Tawa ceria selalu menghiasi istana. Mereka hidup bahagia di istana bersama ayah mereka. Sampai pada suatu hari sang raja berniat untuk menikah dengan seorang wanita cantik. Raja sungguh tidak menduga kalau ternyata wanita yang dinikahinya adalah penyihir jahat. Pernikahan berlangsung sangat meriah.
 
Dengan segala tipu daya wanita itu mengirim Eliza ke hutan rimba dan membiarkannya dimakan binatang buas. Ia juga menyihir para pangeran muda menjadi  burung-burung.

"Pergilah dan urus dirimu sendiri," kata ratu. "Terbang seperti burung besar, yang tidak memiliki suara." Tapi, sedikit meleset dari yang diharapkan oleh ratu jahat ini, para pangeran berubah menjadi sebelas angsa yang indah. Dan Puteri Eliza ditemukan oleh sepasang suami isteri petani yang kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang.

pic. from : kerangrebus.com
Sebelas angsa terbang melalui jendela istana, beriringan melewati taman, kota, hutan, lautan dan terkadang melambung ke atas awan.Di suatu pagi, sebelas angsa itu melewati pondok petani, di mana puteri Eliza berbaring tidur di kamarnya. Mereka melayang di atas atap, memutar leher panjang dan mengepakkan sayap mereka, tapi tidak ada yang mendengar mereka atau melihat mereka, sehingga mereka akhirnya kembali terbang jauh, tinggi di awan, dan seluruh dunia yang luas. Kasihan sekali Eliza kecil bermain sendirian di kamar, dengan memainkan daun hijau, karena tak ada mainan lagi. Eliza sering melihat kea rah matahari, seolah-olah ia melihat dengan jelas saudara-saudaranya, dan ketika matahari bersinar hangat di pipinya ia memikirkan semua ciuman mereka .

“ Siapa yang lebih cantik dari anda ?” Tanya wanita tua kepada mawar. dan mawar menjawab : "Eliza. Eliza gadis tercantik." Dan ketika wanita tua duduk di pintu pondok pada hari Minggu, dan membaca-buk himne, gemerisik angin menyentuh dedaunan, ia berkata pada buku," Siapa yang lebih saleh dari Anda? " dan kemudian buku itu menjawab "Eliza." Dan mawar dan buku himne mengatakan kebenaran sejati. 

Pada usia lima belas Eliza kembali ke istana. Ketika ratu melihat betapa cantiknya dia, dia menjadi penuh dengki dan kebencian terhadap dirinya. Ratu ingin menyihir Eliza menjadi angsa seperti saudara-saudaranya, tapi dia tidak berani melakukannya lagi, karena raja ingin melihat putrinya. Satu pagi ratu masuk ke kamar mandinya yang indah terbuat dari marmer dan dihiasi permadani, ia mengambil tiga ekor kodok dan berkata kepada salah satu, "Ketika Eliza datang ke kamar mandi, duduki kepalanya, agar ia menjadi sebodoh kamu." Lalu ia berkata kepada yang lain, " Tempelkan dirimu di dahinya, agar ia menjadi seburuk kamu, sehingga ayahnya tidak bisamengenalinya. " Lalu ia berkata ke kodok yang ketiga " Istirahat di hatinya, maka dia akan memiliki kecenderungan jahat, dan menderita akibatnya." Jadi dia menempatkan kodok ke dalam air jernih, dan mereka berubah hijau segera. 

Eliza masuk ke kamar mandi. Melepaskan pakaiannya dan masuk ke bak mandi. Eliza tidak menyadari ketika seekor kodok duduk di rambutnya, kodok kedua menempel di dahinya dan kodok ketiga menempel di dadanya. Ketika dia bangkit keluar dari air, ada tiga kuntum bunga poppy merah mengambang di atas air. Bukankah makhluk yang telah dicium penyihir akan berubah menjadi mawar merah? Ketika ratu jahat melihat Eliza, ia mengusap wajah gadis itu dengan jus kenari sehingga berwarna coklat, kemudian rambutnya dibuat kusut dan diolesi dengan salep menjijikkan. Eliza yang cantik berubah menjadi buruk rupa.

Ketika ayahnya melihat dia, ia jauh terkejut, dan menyatakan dia bukan putrinya. Tak seorang pun
mengenalnya, kecuali seekor anjing. Eliza menangis, dan teringat kepada sebelas saudaranya yang pergi entah kemana. Dengan hati hancur dan perasaan yang sedih ia berjalan menjauhi istana. Setelah seharian berjalan, sampailah ia ke sebuah hutan. Gadis malang itu tak tahu kemana harus pergi. Ia sangat merindukan saudara-saudaranya dan bertekad untuk mencari mereka. Malam telah tiba, ia kelelahan dan berbaring di atas lumut yang lembut, kepalanya bersandar di sebuah pohon, ia berdo’a. Udara lembut menyapu dahinya. Ia melihat cahaya berkilauan di tengah-tengah rumput dan lumut, seperti api berwarna hijau.

Dia tertidur dan memimpikan saudara-saudaranya. Dalam mimpinya ia melihat mereka menulis dengan pensil berlian di papan tulis emas. Sedangkan dirinya memegang buku gambar, dan ia melihat brurung-burung bernyanyi keluar dari bukunya, semua yang ada di buku berubah jadi hidup, orang-orang berbicara kepadanya. Tapi, semuanya berlangsut sesaat saja, semuanya melesat pergi ke tempat semula.
 
Ketika ia terbangun, matahari sudah tinggi, namun pohon-pohon berdaun tebal menghalangi pandangannya. Daun-daun berwarna keemasan. Tercium aroma wangi dari dedaunan hijau. Seekor burung bertengger di atas bahunya. Dia mendengar suara air beriak dari sejumlah mata air, semua mengalir di sebuah danau dengan pasir keemasan. Semak-semak tumbuh di sekitar danau. Eliza pergi ke danau dan melihat wajahnya di air, ia terkejut, melihat wajahnya berwarna kecoklatan dan sangat jelek. Lalu ia membasuh mukanya, dan kulit wajahnya kembali bersinar, lalu ia turun ke danau untuk mandi. Tampaklah kecantikan yang indah tiada tara, kecantikan seorang puteri raja. Ia mengenakan kembali pakaiannya, lalu minum air dengan tangannya. Ia meneruskan perjalannya jauh kedalam hutan rimba. Di tengah hutan ia mendapati pohon apel yang lagi berbuah, ia pun memetik buahnya dan memakannya untuk menghilangkan rasa lapar. Ia juga memetik lagi beberapa buah apel untuk bekal perjalanan. Terdengar gemerisik dedaunan. Tiba-tiba ia merasa sangat sedih, sendirian di tengah hutan. Sekeliling tampak gelap

Malam sudah tiba, ia membaringkan dirinya di atas rumput. Hatinya terasa sangat sedih. Ia pun tertidur. Dan ketika pagi tiba, ia bangun dan melanjutkan kembali perjalanannya meskipun tak tahu kemana ia harus pergi. Ia terus melangkah.

Di tengah hutan ia bertemu dengan seorang wanita tua yang membawa keranjang buah-buahan. Eliza bertanya kepadanya :  “ Ibu, pernahkah ibu melihat sebelas pangeran muda berkuda melewati hutan? ”
"Tidak," jawab wanita tua itu, "Tapi, kemarin saya lihat sebelas angsa, dengan mahkota emas di kepala mereka, berenang di sungai dekat sini." .

Kemudian wanita tua itu menuntun Eliza ke arah sungai. Ia berjalan menyusuri sungai, sampai ke tepi laut.  “ Terima kasih anda telah mengantar saya mencari saudara-saudara saya. “ Ujar Eliza kepada wnaita tua itu.

Ketika matahari hendak terbenam, ombak laut menyapu pantai, Eliza melihat sebelas angsa putih dengan mahkota emas terbang turun. Kemudian Eliza berjalan menuruni lereng pantai. Angsa-angsa putih mengikutinya. Ketika Eliza menghentikan langkahnya, sebelas angsa-angsa cantik itu menghampirinya. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari di balik bukit, kesebelas angsa berubah wujuh menjadi sebelas pangeran tampan. Eliza menjerit terkejut melihatnya, dan ia pun bergegas melompat ke pelukan saudara-saudaranya. Eliza sangat gembira.  Para angsa itupun merasa bahagia bertemu dengan Eliza yang telah menjadi seorang gadis remaja jelita. 

 " Kami terbang di siang hari, ketika matahari bersinar di langit, wujud kami berbentuk angsa.  Tapi, kami harus segera turun dan menginjakkan kaki kami ketika matahari hendak terbenam, Karen kami berubah wujud kembali menjadi manusia.” Pangeran sulung menjelaskan kepada Eliza

“ Kami akan terbang ke sebuah negeri yang indah. Kami ingin sekali mengajakmu, adikku tercinta. Tapi kami tidak tahu bagaimana caranya. Kami tidak memiliki kapal atau perahu.”

Mereka berbagi cerita sepanjang malam dan melepas rasa kangen. Hanya beberapa jam saja mereka tidur.  Pagi hari, Eliza terbangun oleh gemerisik suara angsa. Eliza merasa sedih hatinya karena saudara-saudaranya berubah kembali menjadi angsa-angsa putih.

Sepanjang siang angsa-angsa itu terbang di atas pantai dan lautan. Kecuali angsa termuda, ia lebih senang duduk di pangkuan adiknya. Eliza mengusap-usap sayapnya. Menjelang matahari terbenam mereka kembali. Dan ketika matahari terbenam mereka berubah wujud kembali menjadi manusia.

"Besok kami akan terbang jauh, tidak akan kembali lagi selama satu tahun. Tapi, kami tidak bisa meninggalkanmu di sini. Kau harus bersama kami. Lenganku cukup kuat untuk membawamu melalui hutan, dan sayap-sayap kita cukup kuat untuk membawa terbang melalui lautan.”

"Ya, tentu saja, saya ingin pergi bersama kalian.," kata Eliza. Kemudian mereka menghabiskan sepanjang malam dalam menenun jaring dengan willow lentur. Jaring ini sangat kuat. Eliza meletakkan dirinya di atas jarring. Ketika matahari terbit, sebelas angsa terbang membawa jaring dengan Eliza didalamnya. Mereka terbang jauh melewati hutan dan pegunungan.

Eliza menyaksikan matahari tenggelam dengan rasa cemas. Mereka masih terbang di atas. Bebatuan di tepi pantai belum bisa terlihat. Awan gelap tampak jelas terlihat, hembusan angin kencang, petir berkilatan, Guntur menggelegar. Matahari seperti ingin sembunyi di balik laut. Para angsa melesat turun ke tepi pantai, kepala Eliza terbentur, mereka jatuh. Ombak menyapu pantai, suaranya bergemuruh. Langit berkedap-kedip karena kilatan petir. Eliza dan sebelas pangeran saling berpegangan erat. Mereka kemudian duduk dengan tetap saling berpegangan tangan, menyanyikan lagu-lagu. Ombak terus bergemuruh seperti marah, petir berkilatan. Mereka tetap berharap semuanya akan baik-baik saja.
 
Menjelang dini hari alam berubah tenang dan diam. Dan saat matahari terbit angsa-angsa kembali terbang jauh membawa serta Eliza. Melewati pegunungan bersalju di puncaknya. Dan akhirnya sampailah mereka di atas sebuah istana dengan bunga-bunga indah bermekaran di sekitarnya.  Eliza bertanya : “Apakah itu istana yang mereka tuju ?”, tapi saudara-saudaranya menggelengkan kepala. Eliza melihat kebawah, hutan, gunung, gereja-gereja megah dengan menaranya yang tinggi, ia membayangkan bisa mendengarkan nada organ, tetapi sesaat kemudia ia tersadar bahwa itu hanyalah gemuruh ombak. Ia melihat gereja itu berubah menjadi kapal armada, kemudian berubah lagi menjadi kabut di atas lautan. Yang dilihatnya adalah fatamorgana. Kemudian ia melihat pemandangan nyata berupa gunung-gunung biru, hutan, kota-kota dan istana.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah gua besar berlantai rumput hijau. “ Malam ini kau bisa tidur dan bermimpi di sini” salah satu angsa berkata kepada Eliza sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang diperuntukkan sebagai kamar Eliza.

Eliza duduk di atas sebuah batu dan berdo’a. Kemudian Eliza tertidur dan bermimpi, ia terbang tinggi di udara menuju istana awan, seorang peri cantik keluar menemuinya. Saudara-saudaramu bisa bebas.” Peri itu berkata. "jika kau benar-benar memiliki keberanian, tekad yang kuat dan ketekunan. Benar, air lebih lembut dari tangan halusmu. Kau harus menenun sebelas mantel berlengan panjang. Dan apabila sebelas mantel itu dilemparkan kepada sebelas angsa itu, maka sihirnya kan rusak. Saudara-saudaramu berubah kembali menjadi manusia. Tapi ingat, selama menenun mantel-mantel itu kau tidak boleh berbicara sepatah kata pun. Kehidupan mereka tergantung padamu. Mungkin, memakan waktu bertahun-tahun.”  Lanjut sang peri. Ia kemudian menyentuh tangan Eliza, dan rasa panas membakar seperti api, Eliza terbangun. Gadis itu telah bermimpi di siang bolong. Ia teringat peri yang datang dalam mimpinya, wajahnya mirip dengan wanita tua yang ditemuinya di hutan.  Kemudian ia berlutut dan mengucap syukur dan berterima kasih  kepada Allah. Tanpa membuang waktu ia pergi keluar untuk memulai pekerjaannya.

Dia meraba-raba di antara jelatang jelek, tak peduli tangannya yang halus jadi lecet-lecet.  Saat matahari terbenam saudar-saudaranya kembali. Mereka mengkhawatirkan adiknya yang tak mau berbicara. Mereka percaya adiknya itu terkena sihir wanita jahat. Tetapi ketika mereka melihat tangannya mereka mengerti apa yang dia lakukan untuk mereka, dan Eliza menangis, air matanya jatuh ke tangannya, membuat lepuh berangsur sembuh. Dia terus menenun sepanjang malam. Tak peduli rasa lelah, demi saudara-saudaranya tercinta. 

Ia terus menenun, berhari-hari, berbulan-bulan lewat, bahkan tahun pun lewat. Selama ia menenun, banyak hal yang membuat jantungnya berdegup, ia mendengar klakson para pemburu, anjing menggonggong. Tapi ia terus bertekad untuk menyelesaikan menenun sebelas mantel.

Suatu hari para pemburu datang ke depan gua. Salah satu dari mereka berwajah tampan seperti seorang pangeran. Mereka terkejut melihat ada seorang gadis di dalam gua.

"Bagaimana bisa kau berada di sini, gadis manis?" tanya si tampan. Tapi Eliza hanya menggeleng, tidak menjawab. Dia teringat janjinya kepada ibu peri, hidup saudar-saudaranya tergantung padanya. Dan Eliza menyembunyikan tangannya dibalik celemek.

" Kau tidak bisa hidup di sini. Gadis secantik kau tidak boleh tinggal di dalam gua. Ikutlah denganku! Aku akan memberimu gaun-gaun indah dari sutera dan beludru. Saya kan menghiasi kepalamu dengan mahkota emas. Anda akan tinggal di istanaku.” Lanjut pemuda itu. Eliza tetap diam.
 
" Saya akan membahagiakanmu!”

Si tampan, yang ternyata seorang raja muda itu mengangkat tubuh Eliza dan menempatkannya di atas kuda. Kemudian kuda-kuda berlari melewati pegunungan. Sang pangeran memeluk Eliza. Saat matahari terbenam, mereka mendekati sebuah kota dengan gereja-gereja, dan kubah. 

Saat tiba di istana pangeran membimbingnya ke ruang marmer, air mancur di tengahnya, dinding dan langit-langit ditutupi dengan lukisan yang sangat indah. Tapi Eliza hanya bisa menangis. Ia membiarkan dirinya ketika seorang wanita mendandaninya, memakaikan gaun indah, kalung mutiara dan perhiasan lainnya, memakaikan sarung tangan di jarinya yang melepuh dan lecet-lecet.  Tapi wajahnya tetap menunjukkan rasa sedih.

Semua hadirin membungkuk hormat kepada Puteri Eliza. Kemudian raja menyatakan niatnya untuk menikahi Eliza. Tapi uskup agung menggeleng, dan berbisik bahwa gadis muda yang cantik ini seorang penyihir yang telah membutakan mata raja dan menyihir hatinya. Tetapi raja tidak mau mendengarkan ini, ia memerintahkan agar musik segera dimainkan, hidangan disipakan, dan gadis-gadis mulai menari.
 
Ia Eliza tetap diam dengan wajah penuh duka, tak terlihat secuil pun senyum. Raja menuntun Eliza ke sebuah ruangan mungil namun indah, dihiasi permadani hijau mirip gua dimana Eliza tinggal. Seketika…Eliza berubah menjadi seorang puteri yang sangat jelita, ketika terlihat di atas karpet buntalan rami dari jelatang, dan di dinding tergantung beberapa mantel yang telah ia buat. Salah satu pemburu telah membawa buntelan dan mantel itu karena rasa ingin tahunya.

"Di sini kau bisa memimpikan rumah guamu” kata raja, " mudah-mudahan semua ini bisa menghiburmu, dan kau bisa melanjutkan pekerjaanmu. "

Ketika Eliza melihat semua
itu, senyumnya mulai terlihat, dan darah merah mengalir ke pipinya, wajahnya kembali ceria. Dia mencium tangan raja. 

Lonceng gereja berdentang, pesta pernikahan raja dan Eliza diumumkan. Uskup agung membisikkan kata-kata jahat di telinga raja, memfitnah Eliza. Tetapi raja bersikeras, pernikahan tetap dilangsungkan. Dan Uskup Agung harus menempatkan mahkota di kepala pengantin perempuan. Uskup itu meletakkan mahkota dengan keras, sehingga membuat Eliza kesakitan, tapi ia tak boleh ada sebuah kata yang keluar dari mulutnya. Rasa nyeri itu tidak sebanding dengan pedihnya kehilangan saudara-saudaranya. Satu kata akan merenggut nyawa saudara-saudaranya. Eliza ini jatuh cinta kepada raja, tapi tak bisa berbicara.
 
Pada malam harinya Eliza menyelinap ke kamar kecilnya dan mulai menenun, mekanjutkan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan mantelnya yang ketujuh ia kehabisan rami. Ia teringat di sekitar gereja tumbuh jelatang. Ia harus pergi kesana memetik jelatang-jelatang itu. Tapi ia tak tahu bagaimana caranya ia pergi keluar. "Aku harus berani.".  Kemudian dengan hati gemetar, seolah-olah dia hendak melakukan perbuatan jahat, ia merayap ke taman di bawah sinar bulan, melewati jalan-jalan sempit dan jalanan sepi, sampai ia mencapai gereja. Melewati tanah kuburan, ia merasakan takut, tapi ia harus memetik jelatang. Ia berdo’a dalam hati. 

Uskup Agung melihat apa yang dilakukan Eliza. Dia berpikir pendapatnya memang benar. Sementara semua orang tertidur, wanita itu berkeliaran sekitar gereja, memetik jelatang, pastilah ia seorang penyihir. Uskup itu mengatakan pada Raja apa yang telah ia lihat. Raja terpengaruh oleh kata-kata Uskup. Pada malam hari ia berpura-pura tidur, dan ia melihat Eliza bangun dan keluar dari kamar. Dari hari ke hari sikap raja berubah terhadap Eliza. Gadis itu menangis.

Eliza hampir menyelesaikan tugasnya, tinggal satu mantel lagi, tapi ia kehabisan rami. Untuk terakhir kalinya ia harus pergi ke gereja memetik jelatang. Ia melawan rasa takut. Uskup Agung mengikutinya.
 
Orang-orang berdatangan menghampiri Eliza yang sedang memetik jelatang. Raja memalingkan muka.   “ Dia harus dihukum.” Katanya. 

Mereka membawa Eliza ke sel yang suram, kontras dengan segala kemewahan istana. Gaun beludru dan sutera diganti dengan kain tenun kasar menutupi tubuhnya. Dan…mereka memberikan bundelan jelatang untuk bantalnya, ini membuatnya senang. Ia terus menyelesaikan pekerjaannya menenun mantel. Anak-anak di jalan bernyanyi mencemoohnya. 

Pada malam hari ia mendengar kepak sayap-sayap. Ia menangis gembira bertemu dengan saudara-saudaranya. Ia berpikir, ini mungkkin jadi malam terakhir ia hidup. Tapi, ia terus berharap dan berdo’a. Kemudian uskup tiba, untuk menemaninya selama jam terakhir, seperti yang telah dijanjikan raja. Tapi dia menggeleng, dan memohon supaya dibiarkan seorang diri, karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya, kalau tidak, semua usaha dan kerja kerasnya akan sia-sia. Uskup pergi sambil melontarkan perkataan cemoohan yang menyakitkan. Tapi Eliza tahu ia tidak bersalah, ia terus melanjutkan pekerjaannya.

Hari masih gelap, sebelas orang pangeran berdiri di pintu gerbang istana, mereka memaksa ingin bertemu dengan raja. Para penjaga menolak karena raja masih tidur, mereka tidak berani membangunkannya. Tiba-tiba raja muncul untuk melihat kebisingan, tapi saat itu telah menjelang pagi, matahari telah terbit. Sebelas bersaudara berubah menjadi angsa-angsa liar, terbang ke atas benteng.

Orang –orang bergerombol pergi menuju gerbang kota. Mereka ingin melihat penyihir wanita akan di bakar. Kuda tua menarik gerobak yang diduduki seorang wanita dengan pakaian dari kain kasar. Kecantikan wanita itu masih jelas terlihat, rambutnya tergerai indah. Pipinya pucat, bibirnya bergerak tanpa suara, dan ia jari jemarinya terus menenun. Sepuluh mantel surat tergeletak di dekat kakinya,  sementara massa mencemooh dan berkata, "Lihat penyihir itu, bagaimana dia bergumam! Dia tidak memiliki buku himne di tangannya. Dia duduk di sana dengan sihir jelek nya. Mari kita merobeknya dalam seribu keping. "

Dan kemudian mereka me
rangsek maju ke arahnya,  tetapi pada saat yang sama sebelas angsa liar terbang di atasnya, dan hinggap di gerobak. Kemudian mereka mengepakkan sayapnya yang besar, dan orang-orang bergerak mundur.

"Ini tanda dari surga bahwa dia tidak bersalah," bisik
beberapa dari mereka, tetapi mereka tidak berani mengatakannya keras-keras.

Se
orang algojo menangkap tangannya, untuk mengangkatnya keluar dari gerobak, dia buru-buru melemparkan sebelas mantel ke arah angsa-angsa itu. Seketika sebelas angsa-angsa putih berubah  menjadi sebelas orang pangeran tampan. Tapi pangeran yang termuda memiliki sayap angsa, bukan lengan; karena ia belum mampu menyelesaikan lengan terakhir dari mantelnya.

"Sekarang saya
bisa berbicara," Eliza berseru,  "Saya tidak bersalah."

Kemudian orang-orang, yang melihat apa yang terjadi, membungkuk padanya
. Tetapi ia terjatuh lunglai tak bernyawa di pelukan saudara-saudaranya.
 
"Ya, dia tidak bersalah," kata pangeran tertua, dan kemudian ia menceritakan semua yang terjadi, dan sementara ia berbicara, tercium aroma jutaan mawar. 

Raja menyematkan sekuntum mawar di dada Eliza. Kemudian Eliza terbangun dari pingsannya, wajahnya tampak tenang dan bahagia.

Sehari berikutnya terdengar lonceng dari semua gereja di kota. Prosesi pernikahan kembali dilangsungkan di istana.
 

" Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita: penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak kebenaran." - Khalil Gibran -





Tidak ada komentar:

Posting Komentar