Selasa, 21 Mei 2013

Burung Bangau



Karya : Hans Christian Andersen (1838) 


" Jalanilah hidup tanpa ketakutan, hadapi semua masalah dan yakinlah bahwa kita dapat mengatasi semua itu." - Anonim -

pic. from : birthingfromwithin.com
Di sebuah rumah di ujung desa terdapat sebuah sarang yang ditempati oleh keluarga burung bangau yang terdiri dari bapak, induk dan empat orang anak-anak bangau. Sang induk duduk di dalam sangkar sementara anak-anak bangau itu menjulurkan leher mereka dan memperlihatkan paruh hitam mereka. Di tepi atap, sang ayah berdiri tegak  dengan satu kakinya

Di bawah di jalan sejumlah anak-anak bermain, dan ketika mereka melihat bangau, salah satu anak yang paling berani mulai menyanyikan sebuah lagu tentang bangau, kemudian anak-anak lainnya segera bergabung. Inilah lirik dari lagu yang mereka nyanyikan :

    "Bangau, bangau, terbanglah jauh,
    
Berdiri tidak pada satu kaki, saya berdo’a,
    Lihat istrimu di
dalam sarang,
    Dengan anak-anak kecil
yang tertidur.
    Mereka akan menggantung
yang satu,
    Dan
menggoreng yang lain;
    Mereka akan menembak
yang ketiga,

    Dan panggang saudaranya. "


"
Dengarlah apa yang mereka nyanyikan !," kata seekor bangau muda, "mereka mengatakan kita akan digantung dan dipanggang."

"
Jangan dipikirkan. Jangan dengarkan mereka !" kata sang ibu. "Mereka tidak akan melakukan apapun."

Tapi anak-anak terus bernyanyi dan menunjuk pada bangau, dan mengejek mereka, kecuali salah satu anak laki-laki yang bernama Petrus, dia bilang
jangan mengolok-olok hewan dan perbuatan itu sangat memalukan. Ibu bangau menghibur anak-anaknnya, dan mengatakan kepada mereka supaya tidak khawatir. "Lihat," katanya, "Begitu tenangnya ayahmu berdiri, meskipun hanya pada satu kaki."

"Tapi kami sangat ketakutan," kata
anak-anak bangau, dan mereka menarik kembali kepala mereka ke dalam sarang.

Hari berikutnya ketika anak-anak sedang bermain bersama, dan melihat bangau, mereka menyanyikan lagu
itu lag :

    "Mereka akan menggantung satu,
    Dan panggang yang lain. "

"Bagaimana kalau kita digantung dan dibakar?" Tanya bangau muda.

"Tidak, tentu saja tidak," kata sang ibu. "Aku akan mengajarkan
kalian terbang, dan ketika kalian telah dapat terbang, kita akan terbang bersama-sama ke padang rumput, dan mendatangi katak dalam air, mereka takut pada kita dan menangis 'croak..croak…croak…." dan kemudian kita akan makan mereka, ".

"Dan apa selanjutnya?" Tanya
anak-anak bangau.

"
Kemudian…semua bangau di wilayah itu akan berkumpul bersama, dan pergi beriringan selama musim gugur. Penting buat kita agar bisa terbang dengan baik. Jika tidak, pemimpin kelompok akan mendorong kita dengan paruhnya, dan membunuh kita. Oleh karena itu kita harus benar-benar belajar, sehingga sudah siap ketika saatnya tiba. "

"Kemudian kita akan dibunuh
seperti yang dikatakan oleh anak-anak laki-laki itu,dengar ! mereka menyanyi lagi! "

"Dengarkan aku,
jangan dengarkan mereka," kata ibu bangau. " kita akan terbang  jauh ke negeri-negeri hangat, di mana terdapat banyak gunung dan hutan. Ke Mesir, kita akan melihat rumah-rumah berbentuk piramida dari batu, di negeri itu ada sebuah sungai yang meluap airnya, di sana kita dapat berjalan-jalan, dan makan katak dalam jumlah yang banyak. "

"Oh, o-h!" Teriak
anak bangau.

"Ya, itu adalah tempat yang menyenangkan, tidak ada yang harus dilakukan sepanjang hari
kecuali makan, dan sementara kita sangat berkecukupan di sana, di negeri ini tidak akan ada daun hijau di pohon-pohon, dan cuaca akan begitu dingin dan awan akan membeku dan jatuh ke bumi dalam bentuk seperti kain warna putih"

"Apakah anak-anak nakal itu akan membeku jatuh dan kemudian dipotong-potong ? Tanya anak bangau.

"Tidak, mereka tidak akan membeku dan jatuh ke dalam potongan," ujar sang ibu, "tetapi mereka akan
sangat kedinginan, dan mereka harus duduk sepanjang hari di sebuah ruangan gelap suram, sementara kita akan beterbangan di tanah asing, di mana ada bunga-bunga mekar dan sinar matahari yang hangat. "

Waktu
berlalu, dan anak-anak bangau itu telah tumbuh besar dan dewasa sehingga mereka bisa berdiri tegak di sarang. Setiap hari sang ayah membawakan mereka katak dan ular untuk dimakan. Kemudian, sang ayah mencari cara untuk menghibur

"Ayo," kata sang ibu pada suatu hari, "Sekarang kalian harus belajar terbang." Dan semuanya harus keluar ke atas atap. Terhuyung-huyung pada awalnya, dan harus menyeimbangkan diri dengan bantuan sayap, atau kalian akan jatuh ke bawah ke tanah.

"Lihatlah aku," ujar sang ibu, "
Kalian harus memegang kepala kalian seperti ini, dan menempatkan kaki kalian begini. Sekali, dua kali, sekali, dua kali-itu saja. Sekarang kalian dapat mengurus diri sendiri. "

Kemudian ia terbang agak jauh dari mereka, dan
anak-anak bangau mengikutinya. tetapi salah satu dari mereka jatuh ke bawah, karena tubuhnya gemuk sehingga terlalu berat.

"Saya tidak ingin terbang," kata salah satu
anak bangau, merayap kembali ke sarang. "Saya tidak ingin pergi ke negeri-negeri yang hangat."

"Apakah
kamu ingin tinggal di sini dan membeku ketika musim dingin datang?" Kata sang ibu, "atau sampai anak laki-laki itu datang untuk menggantungmu, dan memanggangmu?” 

"Oh tidak, tidak," kata anak bangau itu, melompat keluar ke atas atap bergabung dengan yang lain, dan sekarang dia belajar dengan seksama, dan pada hari ketiga dia mulai bisa terbang sedikit. Kemudian dia mulai berkhayal bisa terbang melambung, sehingga dia mencoba untuk melakukannya, bertumpu pada sayapnya, tetapi dia jatuh, kemudian mengepakkan sayapnya secepat mungkin. Anak-anak datang lagi di jalan menyanyikan lagu itu lagi :

    "Bangau, bangau, terbang
lah jauh."

"Bagaimana kalau kita terbang
saja menghindari anak-anak laki-laki itu?" kata salah satu anak bangau.

"Tidak, meninggalkan
dia sendirian ?" kata sang ibu. "Dengarkan aku, yang jauh lebih penting. Sekarang. Satu-dua-tiga. Sekarang ke kanan. Satu-dua-tiga. Sekarang ke kiri, bulat cerobong asap. Besok kalian terbang bersamaku ke rawa-rawa. Ada sejumlah bangau-bangau hebat di sana, dan aku harap kalian bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kalian adalah anak-anak bangau terbaik, hal ini membuat kalian dihormati."

"
Tapi, kita tidak akan menghukum anak-anak nakal itu ?" Tanya salah satu anak bangau.

"Tidak, biarkan mereka berteriak
–teriak sesuka mereka. Kita bisa terbang setinggi-tingginya di atas awan. Kita kan berada di negeri piramida yang hangat. Dan mereka tinggal di negeri ini kedinginan dan kelaparan karena tak ada pohon apel yang berbuah. "

"
Aku akan melakukan balas dendam," bisik anak bangau itu kepada yang lain.

Anak-anak bangau bertekad untuk melakukan balas dendam terhadap seorang anak yang memulai pertama kali menyanyikan lagu ejekan. Anak lelaki itu berusia sekitar enam tahun.

"Kita harus lihat dulu, bagaimana Anda membebaskan diri melihat review besar," katanya. "Jika Anda mendapatkan di sana buruk, umumnya akan menyodorkan paruhnya melalui Anda, dan Anda akan dibunuh, seperti yang dikatakan anak-anak, meskipun tidak persis dengan cara yang sama. Jadi kita harus menunggu dan melihat. "

"
Kita lihat saja nanti !," kata anak bangau itu, dan kemudian mereka tak peduli dengan rasa sakit ketika berlatih, mereka terus berlatih dengan tekun, dengan baik setiap hari, bahwa pada akhirnya mereka gembira karena dapat terbang dengan baik. Begitu musim gugur tiba, semua bangau mulai berkumpul bersama sebelum memulai keberangkatan ke negeri-negeri hangat selama musim dingin. Mereka terbang di atas hutan dan desa-desa untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan, karena mereka menempuh perjalanan panjang. Anak-anak bangau itu melakukan yang terbaik sehingga menperoleh tanda kehormatan berupa katak dan ular sebagai hadiah.
"Sekarang mari kita lakukan balas dendam," teriak mereka.

"Ya, tentu saja," teriak ibu bangau. "Saya telah
memikirkan cara terbaik untuk membalas dendam. Aku tahu kolam di mana semua anak kecil berbohong, menunggu sampai bangau datang untuk membawa mereka kepada orang tua mereka. Bayi-bayi kecil tercantik berbaring di sana. Semua orang tua senang untuk memiliki seorang anak kecil, dan anak-anak sangat senang dengan adik atau kakak. Sekarang kita akan terbang ke kolam dan mengambil bayi kecil. "

"Tapi
, apa yang akan kita lakukan terhadap anak lelaki nakal yang memulai menyanyikan lagu ejekan itu ?" teriak salah satu anak bangau.

"Disinilah
, kita akan bawa bayi kecil yang telah menjadi mayat kepada anak lelaki itu. Ia akan menangis karena adik bayinya telah mati " kata sang ibu. " Tapi, kita tidak boleh melupakan seorang anak lelaki yang baik hati, yang mengatakan kepada teman-temannya untuk tidak mengejek dan mentertawakan binatang, ia merasa malu melakukan hal tersebut. Kita akan membawakannya adik bayi dan adik bayi lagi. Anak lelaki itu bernama Petrus."




" Kemarahan dan dendam tidak akan melukai orang yang menjadi sasaran amarah dan dendam anda. Perasaan tersebut justru akan menggerogoti anda setiap hari dan setiap malamnya." - Anonim -











Tidak ada komentar:

Posting Komentar